Jangan sampai kalau misalnya pemerintah A, daerah A ingin bikin logo, harus merekrut yang di Jakarta atau di Bandung. Padahal di daerahnya sendiri kita punya loh, gitu

Jakarta (ANTARA) - Pada suatu hari di awal Mei 2026, sebuah notifikasi muncul di grup percakapan tim Auman Design Bureau. Sebuah pamflet digital dari akun Instagram Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) mengabarkan dibukanya sayembara desain logo resmi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Saat itu, Fajar Novario sama sekali tidak menyangka bahwa pesan singkat tersebut kelak akan mengubah jalan hidupnya.

Tanpa ekspektasi muluk, Fajar selaku co-founder bersama tim kolektif kreatifnya yang berbasis di Kota Padang, Sumatra Barat itu sepakat untuk ikut serta.

Awalnya, mereka menjadikan kompetisi tersebut hanya sebagai ruang untuk menguji kemampuan dan mengukur sejauh mana karya desainer daerah mampu bersaing di panggung nasional.

Ternyata, langkah tersebut justru mengantarkan pemuda berusia 27 tahun bersama anggota tim yang berjumlah 10 orang tersebut menjadi pemenang logo resmi HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Menyisihkan sekitar 120 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, Fajar yang didukung penuh oleh tim Auman Design Bureau berhasil keluar sebagai pemenang utama dan namanya kemudian diumumkan pemerintah sebagai perancang identitas visual peringatan kemerdekaan tahun ini.

Liku jalan menuju kemenangan

Perjalanan menuju podium juara sama sekali tidak dilalui dengan mudah. Setelah lolos seleksi administrasi, kurasi portofolio, serta tahap wawancara, Fajar terpilih sebagai satu dari lima finalis yang berhak mengikuti fase inkubasi untuk mulai merancang desain logo HUT ke-81 RI.

Pencapaian ini sudah menjadi sesuatu yang istimewa bagi Fajar dan tim Auman Design Bureau. Berbasis di Padang, studio yang terbentuk pada 2020 itu lebih banyak mengerjakan proyek-proyek di tingkat daerah. Sayembara logo HUT RI menjadi pengalaman besar mereka dalam kompetisi desain berskala nasional.

Selama sekitar empat minggu, lima finalis menjalani proses asistensi intensif di bawah supervisi Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) untuk merancang logo HUT ke-81 RI dari nol, dengan evaluasi dan checkpoint mingguan pada setiap tahapan pengembangan desain.

Di sinilah mentalitas Fajar dan tim diuji. Tantangan terbesar muncul pada pekan kedua. Konsep awal yang mereka ajukan justru mendapat kritik pedas. Konsep tersebut dinilai terlalu rumit karena mencoba memasukkan sekitar 40 hingga 50 simbol visual ke dalam satu logo.

"Bukan ditolak mentah-mentah, tapi dapat kritik yang lumayan pedas tuh dari asosiasi, karena terlalu muluk-muluk dan terlalu cocoklogi istilahnya, kayak gitu," kenang Fajar, saat dihubungi ANTARA, Rabu (15/7).

Momen itu menjadi titik balik bagi Fajar dan timnya. Mereka menyadari bahwa sebuah logo peringatan kemerdekaan tidak harus memuat terlalu banyak simbol dan makna sekaligus. Justru, pesan besar akan lebih mudah diterima ketika diterjemahkan melalui bentuk yang sederhana dan mudah diterima masyarakat.

Dengan waktu yang tersisa sekitar dua minggu, Fajar dan tim lalu mengambil sebuah keputusan berani, yakni memulai semuanya dari awal.

Mereka mengubah sudut pandang riset. Alih-alih memaksakan beragam motif tradisional ke dalam satu ruang visual yang sempit, mereka mencoba mencari satu desain logo yang bisa mewakili beragam motif tersebut.

Salah satu kontemplasi yang dilakukan Fajar adalah dengan mencoba membayangkan dirinya sebagai pendiri bangsa yang tengah merumuskan dasar negara.

Inspirasi kemudian datang dari kajian sejarah yang mengutip pidato Presiden pertama RI Soekarno mengenai tiga unsur pembentuk bangsa, yakni kesamaan nasib, kehendak untuk hidup bersatu, serta kecintaan terhadap tanah air.

"Nah, tiga ini kita coba direlevansikan dengan gaya desain dan tema yang ada sekarang. Dari instrumen-instrumen tiga itu tadi, mereka itu merumuskan Pancasila," kata pria kelahiran tahun 1999 itu.

Semangat persatuan di tengah keberagaman itulah yang kemudian diterjemahkan menjadi bentuk visual angka 8 dan 1 yang sejalan dengan tema besar HUT ke-81 RI, yakni "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur".

Setelah melalui proses penilaian dan persetujuan dari Panitia Nasional Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan RI yang dikoordinasikan oleh Kementerian Sekretariat Negara, lima karya finalis tersebut akhirnya diumumkan kepada publik untuk selanjutnya dilakukan pemungutan suara.

Voting berlangsung pada 24-28 Juni 2026 dan diikuti masyarakat dari berbagai daerah serta diaspora Indonesia. Dari total 68.569 suara yang masuk, karya Fajar memperoleh 30.699 suara atau sekitar 44,73 persen dan ditetapkan sebagai pemenang.

Fajar pun berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar Rp100 juta ditambah hadiah lain dari Presiden Prabowo Subianto.

Meski namanya diumumkan sebagai pemenang, Fajar menegaskan bahwa pencapaian tersebut bukanlah hasil kerja individu semata.

Menurutnya, keberhasilan merancang logo HUT ke-81 RI merupakan buah dari kerja kolektif seluruh anggota Auman Design Bureau yang terlibat sejak awal.

"Aku tidak sendiri. Ada tim juga, karena kebetulan aku dikasih tanggung jawab atau dipercayakan sama teman-teman itu sebagai project lead. Kalau di studio itu kepala studio, design principal istilahnya," ujarnya.

Ruang tafsir di balik logo

Setelah diumumkan sebagai pemenang, perhatian publik kemudian tertuju pada bentuk visual logo HUT ke-81 RI itu sendiri. Logo tersebut tidak hanya menarik perhatian karena tampilannya yang menghadirkan kesan tegas, dinamis, dan kuat , tetapi juga karena ruang interpretasi yang terbuka di dalamnya.

Perhatian publik terutama tertuju pada goresan garis pada angka 8 yang saling menyilang serta bentuk jajar genjang pada angka 1 yang sekilas menyerupai podium.

Logo resmi HUT Ke-81 Kemerdekaan RI (ANTARA/logohutri.istanapresiden.go.id)

Menurut Fajar, seluruh elemen tersebut lahir dari pertimbangan teknis dan filosofis yang matang.

Angka delapan yang saling bersilangan dimaknai sebagai simbol kolektivitas, sinergi, dan gotong royong antar lapisan masyarakat. Sementara keterhubungan antara angka delapan dan satu menggambarkan pertumbuhan menuju satu tujuan yang sama.

Adapun bentuk jajar genjang pada angka 1 sengaja ditambahkan untuk mempertegas keterhubungan kedua angka tersebut. Elemen itu juga berfungsi sebagai penyeimbang visual agar logo tidak disalahartikan sebagai angka lain.

"Takutnya kebacanya 87. Jadi aku ambil dua poin jadi counternya. Yang pertama, takutnya kebaca 87. Yang kedua, supaya dia lebih jelas terbaca 81," papar alumnus Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Padang (UNP) tersebut.

Selain mempertimbangkan aspek teknis dan keterbacaan, Fajar dan tim juga berupaya menghadirkan elemen yang dekat dengan identitas masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, desain tersebut juga lahir dari eksplorasi berbagai pola dan bentuk budaya Nusantara yang merepresentasikan ikatan masyarakat Indonesia di tengah keberagaman.

Keterbukaan ruang tafsir inilah yang kemudian memunculkan beragam pembacaan dari masyarakat.

Sebagian melihat kemiripan bentuk angka 1 dengan podium pidato, sementara sebagian lain mengaitkan bentuk angka 8 dengan ragam motif budaya di berbagai daerah.

Namun, Fajar dan tim menanggapi berbagai respons tersebut dengan kepala dingin.

Dia berpandangan bahwa sebuah identitas visual yang baik memang memberikan ruang bagi publik untuk membangun kedekatan dan makna masing-masing. Keberagaman interpretasi itu justru dipandang sebagai salah satu kekuatan utama logo tersebut.

"Bisa jadi orang Sulawesi bilang itu motif 'tongkonan', tetapi di Melayu kita bilangnya itu, di Minangkabau itu kami bilang itu kayak motif 'itik pulang petang' gitu. Dan perbedaan itulah yang akhirnya jadi poin utamanya," kata pria yang sejak kecil gemar menggambar dan bercita-cita menjadi arsitek itu.

Keberagaman tafsir tersebut justru menjadi cerminan dari semangat Bhinneka Tunggal Ika, di mana satu simbol dapat dibaca secara berbeda oleh masyarakat dari latar budaya yang beragam, tetapi tetap bermuara pada identitas Indonesia yang sama.

Berpacu dengan waktu

Namun, kemenangan itu belum menjadi akhir dari perjalanan. Setelah hasil voting diumumkan, tantangan baru justru muncul dalam waktu yang sangat singkat.

Panitia meminta buku pedoman visual atau brand guidelines harus sudah tersedia pada hari yang sama dengan pengumuman pemenang. Situasi tersebut membuat Fajar dan tim berpacu dengan waktu.

Dalam rentang waktu efektif sekitar delapan jam, mereka harus menyusun panduan dasar penggunaan identitas visual HUT ke-81 RI sebelum dipublikasikan kepada masyarakat.

Keterbatasan waktu itu sempat memunculkan kritik dari publik karena pedoman visual awal yang dirilis dianggap terlalu sederhana.

Meski demikian, Fajar menegaskan kondisi tersebut murni dipengaruhi oleh tenggat yang sangat ketat.

"Kita memang bukan disuruh untuk mengerjakan pedomannya terlebih dahulu. Kita harus mengajukan konsep terlebih dahulu. Apabila terpilih oleh masyarakat, baru kita bikin pedomannya. Namun karena voting publiknya singkat dan harus mengumumkan pemenangnya di hari yang sama, jadinya ya kita harus diburu dengan panduan yang sederhana," tuturnya.

Tekanan luar biasa tersebut pada akhirnya berhasil mereka lalui. Pedoman visual awal itu kemudian terus dikembangkan menjadi buku panduan komprehensif setebal lebih dari 200 halaman yang memuat berbagai aspek identitas visual, mulai dari filosofi logo, elemen grafis, sistem desain, hingga implementasinya pada berbagai media promosi.

Dokumen tersebut kini dapat diakses dan dimanfaatkan secara luas dan gratis oleh masyarakat melalui laman logohutri.istanapresiden.go.id.

Pembuktian dari daerah

Di balik euforia kemenangan dan sorotan publik, Fajar melihat pencapaian ini sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kompetisi desain.

Kemenangan ini tidak hanya menorehkan kebanggaan personal bagi Fajar dan tim, tetapi juga menjadi pembuktian besar bagi ekosistem industri kreatif di luar Pulau Jawa.

Menurutnya, selama ini sayembara-sayembara berskala nasional hampir selalu didominasi oleh studio-studio desain grafis mapan yang berbasis di Pulau Jawa, seperti Jakarta atau Bandung.

Hadirnya tim Auman Design Bureau sebagai perwakilan dari daerah menjadi sinyal positif bahwa pemerataan kualitas talenta kreatif di Indonesia sudah mulai terwujud.

Proyek ini juga mematahkan stigma skeptis masyarakat mengenai sayembara pemerintah yang kerap diidentikkan dengan praktik "orang dalam" atau kecurangan.

Kepercayaan Fajar tumbuh karena keterlibatan ADGI yang secara konsisten mengampanyekan gerakan Say No to Free Pitching.

Melalui sistem ini, seluruh finalis yang tenaganya terkuras selama proses inkubasi tetap dihargai dan mendapatkan honorarium, sehingga tidak ada karya desainer yang digratiskan secara cuma-cuma.

"kelima-lima itu dapat honorarium gitu. Kelima-lima itu hasil jerih payahnya tidak ada yang digratiskan. Jadi secara kredibilitas dan secara kepercayaan, kalau misalnya kayak ADGI yang menyelenggarakan aku percaya," ucapnya.

Kini, hadiah sebesar Rp100 juta yang diperoleh tidak sepenuhnya akan digunakan untuk kepentingan pribadi.

Fajar dan tim memilih menjadikannya sebagai modal untuk mengembangkan kapasitas studio serta menyiapkan rencana jangka panjang bagi penguatan ekosistem kreatif di Kota Padang.

Dia juga berharap pemerintah daerah mulai memberikan ruang yang lebih besar bagi para desainer lokal untuk terlibat dalam proyek-proyek visual di daerah masing-masing.

Menurutnya, banyak desainer bertalenta di berbagai wilayah Indonesia yang belum mendapatkan ruang maupun wadah untuk menunjukkan kemampuannya.

Fajar mengatakan pemerintah daerah dapat mulai membangun basis data dan memperkuat kolaborasi dengan desainer lokal, sehingga kebutuhan desain di daerah tidak selalu bergantung pada pelaku industri kreatif dari kota-kota besar.

"Jangan sampai kalau misalnya pemerintah A, daerah A ingin bikin logo, harus merekrut yang di Jakarta atau di Bandung. Padahal di daerahnya sendiri kita punya loh, gitu," ujarnya.

Berawal dari sebuah notifikasi di grup percakapan pada awal Mei, perjalanan yang semula hanya dianggap sebagai ajang menguji kemampuan, kini telah mengantarkan nama Fajar Novario dan Auman Design Bureau menjadi bagian dari sejarah perjalanan visual peringatan kemerdekaan Indonesia.

Keberhasilan tersebut juga menjadi bukti bahwa jarak geografis bukan lagi penghalang untuk berkontribusi bagi bangsa.