Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Harga daging ayam di tingkat pedagang pasar tradisional mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir.
Baca juga: Pedagang di Bandar Lampung Keluhkan Kenaikan Harga Ayam Hidup dan Penurunan Pembeli
Kondisi tersebut dikeluhkan para pedagang karena modal pembelian ayam hidup dari pemasok meningkat, sementara daya beli masyarakat belum ikut naik.
Salah satu pedagang ayam di Pasar Tempel Hi Khomarudin Bataranila, Bandar Lampung, Ngatini (60), mengatakan saat ini ia membeli ayam hidup dari broker dengan harga sekitar Rp23.000 per kilogram, naik dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar Rp18.000 per kilogram.
"Sudah sekitar satu mingguan ini naik. Saya belinya dari broker, dapat harga Rp23.000 per kilo. Dulu sempat di Rp18.000 dan bertahan sekitar sebulan," ujar Ngatini saat ditemui di lapak miliknya Sabtu (18/7/2026).
Harga tersebut ia dapatkan dari broker. Terkait HET yang ditentukan pemerintah untuk ayam hidup Rp19.500, Ngatini mengaku tidak tahu dengan peraturan tersebut.
Ia hanya membeli dari broker dan menjualnya dengan harga pasaran supaya ada keuntungan. “Mau harga ayam berapa saja pasti untung, cuma kalau harga mahal pembelinya pada kabur,” tuturnya.
Menurutnya, kenaikan harga modal membuat harga jual ayam potong ikut naik menjadi sekitar Rp35.000 per kilogram, sedangkan ayam fillet dijual Rp55.000 per kilogram.
Meski harga naik, Ngatini mengaku tetap berusaha melayani pembeli dengan baik. Namun, hampir setiap hari konsumen menawar karena menganggap harga sudah terlalu mahal.
"Pembeli pasti bilang mahal dan menawar. Kalau saya masih bisa kasih ya saya kasih, tapi kalau memang belum dapat ya saya pertahankan harganya," katanya.
Ngatini menambahkan, pasokan ayam hingga kini masih aman karena setiap hari ia tetap memperoleh kiriman dari pemasok.
Ia berharap harga ayam segera kembali normal agar penjualan kembali meningkat.
"Kalau bisa harganya turun lagi seperti biasa supaya pembeli juga tidak keberatan," ujarnya.
Senada dengan itu, pedagang ayam lainnya, Kholifah (42), mengaku mengalami kondisi serupa.
Ia mengatakan harga beli ayam hidup dari pemasok kini juga mencapai Rp23.000 per kilogram, sehingga harga jual kepada konsumen tidak bisa diturunkan.
"Modal ayam hidup sama, sekitar Rp23.000 per kilo. Jualnya juga sekitar Rp35.000 per kilo, sedangkan fillet Rp55.000," kata Kholifah.
Menurut Kholifah, lonjakan harga mulai terasa sejak sekitar sepekan terakhir, bertepatan dengan dimulainya kembali aktivitas sekolah. Kondisi tersebut membuat banyak pelanggan mengeluhkan mahalnya harga ayam.
"Respons pembeli ya kaget. Mereka bilang mahal sekali karena sebelumnya harga masih sekitar Rp18.000 per kilo," ujarnya.
Sementara itu, menilai kenaikan harga di tingkat pedagang menunjukkan masih adanya selisih antara harga acuan ayam hidup di tingkat peternak dengan harga yang diterima pedagang dari rantai distribusi.
Ia berharap distribusi dan tata niaga ayam dapat berjalan lebih efisien sehingga harga di tingkat pedagang kembali stabil dan tidak membebani masyarakat maupun pelaku usaha kecil di pasar tradisional.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)