- Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak hanya meningkatkan ketegangan militer di Timur Tengah, tetapi juga mulai mengubah peta distribusi energi dunia.
Irak kini mempercepat upaya membangun jalur ekspor minyak baru menuju Turki dan Suriah sebagai strategi mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak global.
Langkah tersebut dinilai menjadi respons atas meningkatnya risiko keamanan di Selat Hormuz setelah konflik AS-Iran memicu gangguan pelayaran, serangan terhadap infrastruktur energi, hingga lonjakan harga minyak dunia.
Al Jazeera melaporkan, Menteri Perminyakan Irak, Basim Mohammed Khudair mengatakan pemerintah sedang mengkaji pembangunan jaringan pipa strategis yang menghubungkan Basra, Kirkuk, Pelabuhan Ceyhan di Turki, hingga Baniyas di pesisir Suriah.
Menurut Khudair, strategi tersebut bertujuan mendiversifikasi jalur ekspor minyak agar Irak tidak lagi bergantung pada Selat Hormuz.
Ia menambahkan, proyek tersebut telah didukung nota kesepahaman dengan konsorsium internasional yang melibatkan Chevron dari Amerika Serikat, TE Capital, dan UCC Holding asal Qatar.