Petani di Paku Polman Buat Sumur Bor di Areal Persawahan, Hadapi Kekeringan dan Ancaman Gagal Panen
Abd Rahman July 21, 2026 12:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN- Para petani di Desa Paku, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) meradang imbas kekeringan melanda area persawahan, Selasa (21/7/2026).

Petani kini membuat sumur bor di tengah-tengah areal persawahan agar terhindar dari ancaman gagal panen.

Seperti terpantau di Dusun Laba-Laba, Desa Paku, sejumlah petani berusaha membuat sumur bor.

Baca juga: Dokter Forensik Ungkap Hasil Pemeriksaan Jenazah Pegawai Kemenag Mamuju, Tak Ada Tanda Kekerasan

Baca juga: 13 Kepsek SD di Tobadak Mateng Ikuti Bimtek Penyusunan KSP, Ketua Panitia: Ini Kitab Suci Sekolah

Mereka mendapat kesulitan, karena kedalaman air, hingga colokan listrik yang jauh dari area persawahan.

Selama ini penggarap sawah di Desa Paku mengandalkan sistem tadah hujan, saat ini sudah masuk musim kemarau.

Areal persawahan sudah mulai retak-retak karena kekeringan, ancaman gagal panen kini membayangi para petani.

“Usaha kita agar tidak gagal panen, ya ini pasang sumur bor di areal persawahan untuk mengairi sawah,” ungkap petani, Sakka kepada wartawan.

Dia bercerita saat musim tanam, sempat turun hujan, petani langsung memberi pupuk awal.

Setelah dua bulan berlalu, hujan tak kunjung turun karena musik kemarau, sementara sawah petani sudah berisi.

Sakka menyebut jika sawah sudah berisi maka perlu air untuk membasahi area permukaan sawah.

“Ini sudah bunting padinya, jadi butuh kita siram air biar sedikit, setidaknya tiga kali kita siram dalam satu bulan,” ungkapnya.

Disebutkan areal persawahan yang sudah kekeringan ini masih dapat diselamatkan dari ancaman gagal panen.

Sehingga para petani terus berupaya untuk mengairi areal persawahan yang sudah mulai berisi ini.

Sakka menyebut terdapat saluran irigasi air di wilayah Desa Paku, namun saat ini masih tahap pembangunan.

“Kalau tidak ada upaya yang dilakukan ini, maka gagal panen, kita rugi biaya, tenaga, belum lagi kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi,” ungkapnya.

Sementara itu, kepala Desa Pak Syarifuddin, mengatakan luas sawah tadah hujan kekeringan, terancam gagal panen ini kurang lebih 400 hektar.

“Warga saya 80 persen petani, ada 400 hektar dan itu semua alami kekeringan, imbas musim kemarau,” kata Syarifuddin kepada wartawan.

Dia menyampaikan 400 hektar area persawahan kekeringan itu tersebar di Dusun Laba-Laba, Dusun Paku, Dusun Pasube, dan Dusun Tete.

Selain karena imbas musim kemarau, Syarifuddin menyebut irigasi pengairan juga jadi kendala karena saat ini masih dalam pembangunan.

Meski begitu, para petani saat ini masih terus berupaya untuk selamat dari ancaman gagal panen.

“Upaya kita ada pompa air dari sungai, tapi hanya persawahan yang dekat sungai saja bisa diselamatkan, ada sekitar 20 hektar saja bisa diselamatkan,” ungkapnya.(*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.