TRIBUNSTYLE.COM - Kasus dugaan penculikan atlet golf perempuan, Jesslyn Wijaya, hingga kini masih menyisakan misteri besar.
Keberadaannya yang belum diketahui membuat banyak pihak terus menanti perkembangan terbaru.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian setelah Jesslyn diduga disergap oleh sekelompok pria tak dikenal.
Pihak kepolisian pun bergerak untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Penyelidikan dilakukan demi mencari titik terang dari kasus yang masih penuh tanda tanya ini.
Namun, setelah kejadian tersebut, jejak keberadaan Jesslyn seolah menghilang.
Tidak ada kabar pasti mengenai kondisi maupun keberadaannya setelah insiden itu.
Kronologi kejadian bermula pada Senin malam, 13 Juli 2026.
Saat itu, Jesslyn sedang menghadiri sebuah acara keluarga yang seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan.
Baca juga: Aset Kripto Jadi Incaran, WNA Asal Rusia Diduga Diculik & Disekap di Bali, Begini Kronologinya
Jesslyn datang ke sebuah restoran di kawasan Mangga Besar, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Kehadirannya saat itu untuk memenuhi undangan perayaan ulang tahun sang nenek.
Sebagai bagian dari keluarga, Jesslyn hadir untuk ikut merayakan momen spesial tersebut. Tidak ada yang menyangka malam itu justru berubah menjadi peristiwa yang mengejutkan.
Atlet golf perempuan itu diketahui tinggal di sebuah apartemen di kawasan Pluit, Jakarta Utara.
Kehidupan sehari-harinya sebelum kejadian berjalan seperti biasa.
Namun, suasana bahagia dalam acara keluarga tersebut mendadak berubah. Sekelompok pria tak dikenal disebut datang dan melakukan penyergapan.
Kuasa Hukum Pelapor, Andi Darti, menyebutkan, berdasarkan penuturan sejumlah saksi di lokasi, terdapat sekitar lima orang pria tak dikenal yang berada di restoran.
Penyergapan dilakukan saat pesta baru akan dimulai.
"Menurut keterangan sejumlah saksi, sesaat sebelum acara ulang tahun dimulai, ketika seluruh persiapan telah selesai dan lagu ulang tahun akan diputar, korban diduga tiba-tiba ditutup matanya," kata Andi, Senin (20/7/2026).
Jesslyn disebut diangkat dan digendong oleh dua orang laki-laki bertubuh besar menuju mobil berwarna hitam.
Mendapat perlakuan tersebut, Jesslyn tidak tinggal diam dan berupaya sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari sekapan para pelaku, tetapi gagal.
"Korban terdengar berteriak meminta pertolongan dan sempat berusaha keluar dari kendaraan, namun kemudian kembali dimasukkan ke dalam mobil, kendaraan tersebut selanjutnya meninggalkan lokasi," ucap Andi.
Keluarga dan kerabat seketika kehilangan kontak dengan korban usai kejadian.
Ponsel dan semua akun media sosial Jesslyn Wijaya tidak lagi aktif dan tak bisa dihubungi.
Saat ditelusuri ke apartemen tempat tinggal korban di Pluit, korban tidak berada di lokasi.
Karena rasa khawatir yang mendalam atas keselamatan Jesslyn, teman dekat korban berinisial NAH (37) mengambil langkah hukum dengan melaporkan peristiwa ini ke Polres Metro Jakarta Pusat pada Kamis (16/7/2026).
Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/2092/VII/2026/SPKT/POLRES METRO JAKPUS/POLDA METRO JAYA.
Baca juga: Darurat 9 WNI Diculik Israel, Prabowo Minta Bantuan Turki dan Yordania untuk Pembebasan Sandera
Sayangnya, penyelidikan awal di tempat kejadian perkara (TKP) sempat terkendala karena pihak restoran menyebut kamera pengawas di lokasi rusak.
"Saat dilakukan pengecekan di lokasi, diperoleh informasi rekaman CCTV restoran tidak dapat digunakan," kata Andi.
Saat ditanyai perihal respons keluarga yang juga berada di lokasi saat penyergapan terjadi, Andi menyebut enggan berkomentar banyak demi menjaga privasi.
"Kami belum dapat memberi keterangan lebih jauh mengenai komunikasi dengan keluarga maupun hubungan pribadi antara pelapor dan terlapor, karena privasi para pihak dan berkaitan dengan proses yang berjalan," ujarnya.
Di tengah upaya pencarian, muncul dua petunjuk yang saling bertolak belakang dan menambah teka-teki keberadaan Jesslyn Wijaya.
"Berdasarkan informasi lainnya yang diperoleh pelapor, terdapat indikasi bahwa pada 14 Juli 2026 korban melakukan perjalanan menuju Malaysia melalui Semarang," jelas Andi.
Di sisi lain, pelacakan terhadap gawai milik korban justru menunjukkan koordinat yang masih berada di Jakarta, tak jauh dari tempat tinggalnya.
"Pihak pelapor memperoleh informasi bahwa perangkat telepon seluler yang diduga milik korban masih terdeteksi berada di Puri Jimbaran (Jakarta Utara)," kata dia.
Pihaknya berharap aparat kepolisian bisa mengurai kebingungan dari perbedaan informasi tersebut.
"Kami menghormati penyelidikan dan menyerahkan sepenuhnya ke kepolisian untuk melakukan pendalaman terhadap seluruh fakta," ujar Andi.
Dikonfirmasi secara terpisah, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Hery Saputra, menyebutkan bahwa pihaknya telah menerima laporan peristiwa tersebut.
"Ada laporan tersebut ke Polres Jakarta Pusat, selanjutnya kami masih lakukan pendalaman untuk mencari fakta-faktanya," kata Roby.