Kenali Gaslighting, Manipulasi yang Membuat Korban Selalu Merasa Salah
Joko Widiyarso July 21, 2026 02:01 PM

TRIBUNJOGJA.COM- Tribunners, pernahkah merasa setiap kali berdebat dengan seseorang, justru diri sendiri yang selalu dianggap salah?

Atau saat menyampaikan perasaan malah dibilang terlalu sensitif?

Perbedaan pendapat, salah paham, atau lupa terhadap suatu kejadian merupakan hal yang bisa terjadi dalam berbagai hubungan.

Namun, jika seseorang terus-menerus dibuat meragukan ingatan, emosi, atau penilaiannya sendiri hingga kehilangan rasa percaya terhadap diri sendiri, kondisi tersebut patut diwaspadai.

Apa Itu Gaslighting dan Mengapa Perlu Diwaspadai?

Fenomena inilah yang dalam psikolgis dikenal sebagai gaslighting, yaitu bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan secara bertahap sehingga korban mulai mempertanyakan realitas yang dialaminya.

Manipulasi ini tidak selalu muncul dalam hubungan asmara.

Gaslighting juga dapat terjadi dalam hubungan keluarga, pertemanan, atau bahkan lingkungan kerja, ketika ada pihak yang berusaha mengendalikan cara orang lain memandang situasi.

Gaslighting bukan sekedar berbohong atau menyangkal suatu kejadian.

Manipulasi ini dilakukan secara berulang hingga korban perlahan kehilangan keyakinan terhadap apa yang dilihat, diingat, dan dirasakannya.

Ketika kepercayaan terhadap diri sendiri mulai memudar, korban menjadi lebih mudah bergantung pada penjelasan maupun penilaian pelaku.

Istilah gaslighting berasal dari drama Gas Light karya Patrick Hamilton yang kemudian diadaptasi menjadi film pada tahun 1944.

Poster film Gaslight (1944), yang menginspirasi lahirnya istilah gaslighting dalam psikologi. (Wikimedia Commons)
Poster film Gaslight (1944), yang menginspirasi lahirnya istilah gaslighting dalam psikologi. (Wikimedia Commons) (Tribun Jogja)

Dalam cerita tersebut, seorang suami sengaja mengubah berbagai hal di rumah, termasuk membuat cahaya lampu gas tampak meredup.

Ketika istrinya menyadari perubahan itu, sang suami justru terus menyangkal dan meyakinkan bahwa tidak ada yang berubah.

Lama-kelamaan istrinya mulai meragukan apa yang ia lihat dan percaya bahwa dirinya memang keliru.

Kisah tersebut kemudian menjadi inspirasi lahirnya istilah gaslighting yang kini digunakan untuk menggambarkan bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang kehilangan kepercayaan terhadap persepsinya sendiri.

Gaslighting sering kali tidak disadari karena terjadi secara perlahan.

Pelaku umunya melakukan manipulasi dimulai dari hal-hal yang terlihat sepele.

Misalnya, menyangkal pernah mengucapkan sesuatu, menganggap perasaan orang lain terlalu berlebihan, atau memutarbalikkan suatu kejadian sehingga korban meras dirinya salah.

Penelitian menjelaskan bahwa gaslighting bukan hanya persoalan komunikasi yag buruk.

Manipulasi ini merupakan proses yang secara perlahan mengikis kepercayaan seseorang terhadap pikirannya sendiri. 

20262107- Ilustrasi
ILUSTRASI- Seseorang yang mulai meragukan dirinya akibat manipulasi emosional atau gaslighting. (Generated by Gemini AI)

Ketika hal tersebut terjadi terus-menerus, korban menjadi lebih mudah dipengaruhi karena merasa pelakulah yang lebih memahami kenyataan dibanding dirinya.

Pelaku berusaha mempertahankan kendali dengan membuat korban kehilangan keyakinan terhadap penilaiannya sendiri. 

Karena berlangsung sedikit demi sedikit, banyak korban baru menyadari bahwa dirinya mengalami gaslighting setelah hubungan tersebut berjalan cukup lama.

Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa korban gaslighting lebih rentan mengalami kecemasan, stres berkepanjangan, penurunan harga diri, hingga depresi. 

Tidak sedikit pula yang akhirnya kesulitan mengambil keputusan karena terus merasa khawatir bahwa penilaiannya keliru.

Karena itulah, gaslighting kini dipandang sebagai salah satu bentuk kekerasan emosional yang dapat memengaruhi kesehatan mental apabila terus dibiarkan.

Cara Mengenali Gaslighting dalam Kehidupan Sehari-hari

20262107- Gaslighting dalam chat
ILUSTRASI- Gaslighting juga dapat terjadi melalui chat. (Generated by Gemini AI)

Dalam kehidupan sehari-hari, gaslighting tidak selalu muncul dalam bentuk ancaman atau kata-kata yang terdengar kasar. 

Justru, manipulasi ini sering disampaikan melalui kalimat yang sekilas tampak biasa sehingga sulit dikenali. 

Salah satu contohnya adalah ucapan seperti, "Kamu terlalu sensitif," "Jangan lebay," atau "Perasaanmu aja."

Kalimat-kalimat tersebut mungkin pernah terdengar dalam percakapan sehari-hari. 

Jika hanya sesekali diucapkan, tentu belum bisa langsung disebut sebagai gaslighting

Namun, ketika ucapan tersebut terus digunakan setiap kali seseorang mencoba mengungkapkan perasaannya, dampaknya bisa berbeda. 

Lama-kelamaan, korban mulai merasa emosinya memang berlebihan dan memilih memendam apa yang dirasakan daripada kembali dianggap terlalu sensitif.

Bentuk lain yang juga cukup sering terjadi adalah menyangkal sesuatu yang sebenarnya pernah diucapkan atau dilakukan. 

Misalnya dengan mengatakan, "Aku nggak pernah ngomong begitu," atau "Kamu salah ingat.

Ketika pola seperti ini terus berulang, korban dapat mulai mempertanyakan ingatannya sendiri. 

Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya lebih percaya pada versi cerita pelaku dibandingkan apa yang benar-benar dialaminya.

Gaslighting juga dapat muncul melalui kebiasaan mengalihkan kesalahan. 

Saat seseorang menyampaikan rasa kecewa, pelaku justru membalas dengan kalimat seperti, "Semua ini gara-gara kamu," atau "Kalau bukan karena kamu, masalah ini nggak akan terjadi.

Dibanding membahas akar persoalan, perhatian korban justru dialihkan untuk memikirkan kesalahan dirinya sendiri. 

Akibatnya, korban lebih sering meminta maaf, meskipun belum tentu menjadi penyebab utama konflik.

Dalam situasi lain, pelaku mungkin menggunakan alasan, "Aku cuma bercanda," setelah mengucapkan sesuatu yang menyakitkan. 

Candaan memang merupakan hal yang wajar dalam hubungan. 

Namun, jika alasan tersebut terus dipakai untuk menutupi ucapan yang merendahkan atau mengabaikan perasaan orang lain, korban bisa mulai berpikir bahwa dirinya memang terlalu serius atau tidak mampu menerima lelucon. 

Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah perasaannya terus-menerus dianggap tidak penting.

Penting untuk dipahami bahwa gaslighting tidak ditentukan oleh satu atau dua kalimat tertentu. 

Perbedaan pendapat, salah paham, atau lupa terhadap suatu kejadian tetap dapat terjadi dalam hubungan yang sehat. 

Yang membedakan adalah adanya pola manipulasi yang dilakukan secara berulang hingga membuat seseorang perlahan kehilangan kepercayaan terhadap pikiran, ingatan, maupun perasaannya sendiri.

Pada awalnya, korban mungkin hanya merasa bingung atau menganggap semua itu sebagai kesalahpahaman biasa. 

Namun, seiring waktu, keraguan terhadap diri sendiri semakin sering muncul.

Penelitian menjelaskan bahwa gaslighting bekerja dengan cara mengikis kepercayaan seseorang terhadap persepsinya sendiri. 

Korban perlahan diyakinkan bahwa cara berpikir, ingatan, atau emosinya tidak dapat dipercaya. 

Akibatnya, korban menjadi lebih bergantung pada pelaku untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah.  

Kondisi ini pula yang membuat banyak korban tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena merasa dirinya memang selalu keliru.

Jika merasa sering mengalami situasi seperti ini, cobalah mulai memperhatikan kejadian yang dialami.

Menulis hal-hal yang terjadi, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu melihat situasi maupun masalah dengan lebih jelas.

Langkah ini dilakukan agar lebih memahami kondisi yang sedang dialami sekaligus menjaga kesehatan mental.

Selain itu, juga memastikan apakah hubungan tersebut masih memberikan rasa aman atau tidak.

(MG Mayumi Cinta Mahesi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.