BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI- Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pondok pesantren mulai digencarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tanah Laut (Tala).
Sebanyak 600 ustaz dan ustazah ditargetkan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Standardisasi yang akan dilaksanakan secara bertahap sepanjang tahun 2026 ini.
Program tersebut resmi diawali dengan pelaksanaan angkatan pertama di Gedung IV Pondok Pesantren As Syuhada Pelaihari, Selasa (21/7/2026).
Sebanyak 100 peserta yang terdiri atas pimpinan pondok pesantren dan tenaga administrasi mengikuti pelatihan yang digagas Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kabupaten Tanahlaut.
Baca juga: Senyum Baru Bayi Temuan Pabahanan Tanahlaut, Berat Badan Naik Setelah Beberapa Hari Dirawat di Panti
Ketua panitia pelaksana, Ustadz Ahmad Bahruni, mengatakan program tersebut merupakan langkah strategis MUI dalam memperkuat kualitas kelembagaan pesantren sekaligus meningkatkan kompetensi para ustaz dan ustazah.
"Tahun ini target kami sebanyak 600 peserta yang dibagi dalam enam angkatan. Setiap angkatan diikuti sekitar 100 orang. Hari ini merupakan angkatan pertama yang kami fokuskan kepada pimpinan pondok pesantren dan pengelola administrasi," katanya.
Menurut Bahruni, pemilihan peserta pada angkatan perdana bukan tanpa alasan. MUI menilai masih banyak pondok pesantren, khususnya pesantren tradisional, yang memerlukan pendampingan dalam pengelolaan administrasi agar mampu berkembang mengikuti tuntutan zaman.
"Kami ingin pondok pesantren di Tanah Laut memiliki tata kelola administrasi yang semakin baik. Administrasi yang tertata akan mendukung pengembangan lembaga dan memudahkan pesantren berkolaborasi dengan berbagai pihak," ujarnya.
Untuk menunjang tujuan tersebut, MUI menghadirkan tiga narasumber dengan kompetensi berbeda sesuai kebutuhan peserta.
Narasumber pertama, Prof H Mujiburrahman (Rektor UIN Antasari Banjarmasin) yang mengupas materi Peran Strategis Pondok Pesantren dalam Sosial Kemasyarakatan.
Ia menekankan bahwa pesantren tidak boleh hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga harus mampu menjadi agen perubahan sosial yang memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.
"Pesantren harus hadir di tengah masyarakat, membangun karakter, memperkuat moral, sekaligus menjadi pusat pemberdayaan umat," ungkap Prof Mujiburrahman.
Materi kedua disampaikan H Zairin Fanjani (Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Tala).
Ia mengulas pentingnya tata kelola administrasi pendidikan keagamaan sebagai salah satu indikator kemajuan sebuah pondok pesantren.
Sementara itu, Ketua MUI Tala KH Ahmad Syarifuddin Noor menjadi narasumber ketiga dengan materi Sinergitas Majelis Ulama Indonesia dan Pondok Pesantren.
Ia mengajak seluruh pesantren memperkuat kolaborasi dengan MUI dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam dan pelayanan keagamaan di Kabupaten Tanahlaut.
Bahruni menjelaskan, pelaksanaan diklat berikutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan peserta.
Setelah angkatan pertama yang menyasar pimpinan pesantren dan tenaga administrasi, angkatan selanjutnya akan diperuntukkan bagi ustaz dan ustazah berdasarkan bidang keilmuan masing-masing.
"Kami sudah menyusun pelaksanaannya berdasarkan zona, mulai dari wilayah Pelaihari, Bati-Bati, Jorong hingga Panyipatan. Materinya nanti juga akan disesuaikan dengan bidang yang ditekuni peserta agar manfaatnya lebih maksimal," jelasnya.
Baca juga: Karhutla Landa Wilayah Takisung Tanahlaut, Mobil Tangki Pemadam Tak Bisa Capai Lokasi Titik Api
Melalui program ini, MUI Tala berharap lahir para ustadz dan ustadzah yang tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan yang baik.
Lebih dari itu juga diharapkan mampu mengelola lembaga pendidikan Islam secara profesional sehingga pondok pesantren semakin berkontribusi dalam pembangunan masyarakat dan kemajuan daerah.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)