TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Penanganan rob di kawasan pesisir Kota Semarang dinilai masih berfokus pada pembangunan infrastruktur seperti tanggul, pompa, peninggian jalan, hingga normalisasi drainase.
Di sisi lain, belum tersedia alat ukur yang mampu memetakan tingkat kerentanan kawasan secara menyeluruh sebagai dasar penyusunan kebijakan.
Satu di antaranya adalah kawasan Kampung Melayu, Kota Semarang yang dikenal sebagai salah satu pemukiman tertua di Kota Semarang dan memiliki nilai sejarah tinggi.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya Model Maladaptif Spasial Kuantitatif (MMSK) yang dikembangkan mahasiswa S3 Soegijapranata Catholic University (SCU) Ida Rahayu Widowati.
Model tersebut dirancang untuk mengukur tingkat kerentanan kawasan pesisir bersejarah akibat rob, dengan Kampung Melayu Semarang sebagai objek penelitian.
Ida mengatakan, selama ini penanganan rob lebih banyak bersifat fisik, tetapi belum didukung instrumen yang mampu memprediksi dampak penurunan kualitas kawasan secara spasial.
Baca juga: 3 Desa di Demak Masuk Kategori 5 Desa Paling Tertinggal di Jawa Tengah
"Disertasi ini lahir dari kegelisahan saya melihat Kampung Melayu sebagai kawasan pesisir bersejarah yang setiap tahun tergerus rob.
Selama ini solusi yang ada masih parsial, seperti tanggul, pompa, maupun relokasi. Belum ada alat ukur yang mampu memprediksi secara spasial seberapa besar penurunan kualitas permukiman akibat rob," ujarnya usai Ujian Terbuka Promosi Doktor Ilmu Lingkungan di Unika Soegijapranata Semarang, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, kebaruan penelitian tersebut terletak pada dimasukkannya variabel Patologis Historis (PH) ke dalam model kuantitatif.
Selama ini aspek sejarah kawasan cenderung dipandang sebagai faktor kualitatif sehingga belum diperhitungkan dalam penyusunan kebijakan penataan kawasan pesisir.
Padahal, berdasarkan hasil analisis terhadap 300 titik di Kampung Melayu menggunakan metode Geographically Weighted Regression (GWR), faktor Patologis Historis justru menjadi penentu terbesar tingkat kerentanan kawasan dengan bobot 40 persen.
Selain Patologis Historis, penelitian tersebut juga memasukkan variabel Intensitas Tertutup dan Termal (IT) sebesar 35 persen serta Degradasi Ekologis (DE) sebesar 25 persen.
Dari ketiga indikator tersebut, Ida menyusun rumus MMSK yang mampu menghasilkan peta tingkat kerentanan kawasan dengan akurasi mencapai 82 persen.
"Melalui model ini pemerintah bisa mengetahui gang atau wilayah mana yang memiliki tingkat kerentanan paling tinggi sehingga penanganannya dapat diprioritaskan berdasarkan data," katanya.
Ia menjelaskan, indikator Intensitas Tertutup tidak hanya menghitung kepadatan bangunan seperti Koefisien Dasar Bangunan (KDB), tetapi juga memperhitungkan pengaruh Urban Heat Island (UHI) akibat semakin luasnya permukaan yang diperkeras.
Menurutnya, halaman rumah yang seluruhnya diplester atau dibeton ikut meningkatkan suhu kawasan sekaligus mengurangi kemampuan tanah menyerap air.
"Kalau penanganannya hanya meninggikan jalan atau membangun saluran, itu belum tentu menyelesaikan persoalan. Jangan sampai solusi yang diberikan justru memunculkan masalah baru atau maladaptasi," ujarnya.
Sebagai alternatif, ia mengusulkan penataan ulang kawasan melalui konsep vertical housing atau rumah susun panggung.
Model tersebut dinilai dapat mengurangi kepadatan permukiman sekaligus menyediakan ruang terbuka sebagai daerah resapan dan ruang produktif bagi masyarakat.
Selain itu, penelitian tersebut menghasilkan empat rekomendasi kebijakan, yakni peningkatan Koefisien Dasar Hijau (KDH), restorasi morfologi gang, normalisasi saluran yang dipadukan dengan biopori, serta penguatan partisipasi masyarakat dalam menjaga kawasan.
Ida berharap Pemerintah Kota Semarang dapat memanfaatkan Model MMSK sebagai salah satu acuan dalam penyusunan kebijakan adaptasi rob, khususnya di kawasan cagar budaya seperti Kampung Melayu.
"Kawasan pesisir bersejarah adalah memori kota. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan infrastruktur, tetapi juga harus berbasis data agar pelestarian kawasan dan mitigasi rob dapat berjalan beriringan," pungkasnya. (arl)