Tribunlampung.co.id, Pesawaran – Rindangnya pepohonan kakao menaungi sebidang kebun di Dusun Sukajaya, Desa Kurungan Nyawa, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Baca Juga: Petani di Way Lima Dorong Pesawaran Jadi Tempat Jual Kakao yang Menguntungkan
Di bawah rimbun daun-daun kakao itulah Bandi menghabiskan sebagian besar waktunya.
Sambil merawat ratusan pohon kakao, ia juga membuka lapak kelapa muda sederhana di pinggir kebun.
Putri kecilnya kerap menemaninya menunggu pembeli.
Dua pekerjaan itu sudah menjadi rutinitas Bandi selama beberapa tahun terakhir.
Berjualan kelapa muda menjadi penopang penghasilan harian, sedangkan kebun kakao menjadi harapan jangka panjang bagi keluarganya.
Namun saat musim panen tiba, lapak kelapa muda itu terpaksa tutup.
Seluruh waktunya dicurahkan untuk memetik buah kakao yang telah masak.
"Kalau kakao ini perawatannya relatif mudah. Panennya sekitar 10 hari sekali, jadi masih bisa disambi dengan pekerjaan lain," kata Bandi saat diwawancarai, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, tanaman kakao mulai berbuah pada usia sekitar 2,5 hingga tiga tahun setelah ditanam.
Dalam sekali petik, satu batang mampu menghasilkan sekitar 1,5 kilogram biji kakao basah.
Dengan luas kebun sekitar setengah hektare, Bandi dapat memanen sekitar 70 hingga 80 kilogram kakao setiap 10 hari.
Ia mulai menanam kakao sejak awal 2000-an.
Selama bertahun-tahun, komoditas itu menjadi salah satu sumber nafkah keluarga karena dapat dipanen secara rutin sepanjang tahun, tidak hanya saat panen raya.
Meski begitu, penghasilannya kini ikut tergerus akibat anjloknya harga kakao.
Jika pada 2025 harga kakao sempat menembus lebih dari Rp100 ribu per kilogram, kini harga di tingkat petani hanya berkisar Rp35 ribu per kilogram.
"Kalau sekarang Rp35 ribu per kilo. Ini termasuk murah. Idealnya di atas Rp50 ribu supaya sebanding dengan biaya perawatan," ungkapnya.
Tak hanya menghadapi harga yang terus turun, Bandi juga harus berjibaku melawan serangan hama dan penyakit yang menyerang bunga maupun buah kakao.
Karena itu, penyemprotan rutin menjadi pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan agar bunga dapat berkembang menjadi buah dan tidak mengering sebelum dipanen.
Setelah dipanen dan dikeringkan, seluruh hasil kakaonya dijual kepada pengepul.
Selama ini, Bandi mengaku belum pernah mendapatkan pelatihan ataupun pendampingan untuk mengolah kakao menjadi produk bernilai tambah, seperti cokelat, bubuk kakao, maupun olahan lainnya.
"Kalau di sini belum pernah ada pembinaan. Petani taunya jual bahan baku saja ke pengepul atau pabrik," jelasnya.
Meski demikian, ia tidak menampik peran pengepul masih sangat penting bagi petani.
Menurutnya, pengepul menjadi pihak yang selama ini membeli hasil panen sekaligus memudahkan petani memasarkan kakao.
Hanya saja, posisi tawar petani masih sangat lemah.
Petani, kata Bandi, menanggung seluruh proses budidaya, mulai dari menanam, memupuk, merawat tanaman hingga menghadapi serangan hama dan penyakit. Namun, mereka tidak memiliki keleluasaan menentukan harga jual.
Karena itu, ia berharap ke depan petani kakao memiliki posisi tawar yang lebih baik melalui penguatan kelompok tani maupun akses pemasaran yang lebih luas.
Selain bantuan bibit dan pupuk, Bandi berharap pemerintah juga memberikan pelatihan pengolahan hasil, pendampingan pemasaran, hingga pembentukan kelembagaan petani.
"Kalau ada pelatihan mengolah kakao atau akses langsung ke pembeli yang lebih besar tentu petani akan lebih diuntungkan. Selama ini kami tahunya hanya panen lalu jual ke pengepul," kata Bandi.
Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya akan meningkatkan nilai jual kakao Lampung, tetapi juga membuat petani memperoleh hasil yang lebih layak dari kerja keras mereka di kebun.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)