Antrean Biosolar Mengular di Manado, Pertamina Ungkap Alasan Solar Diserbu dan Mengatasinya
Sinta Darmastri July 21, 2026 07:08 PM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Pemandangan antrean panjang kendaraan yang berburu Biosolar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kota Manado belakangan ini menyita perhatian. Menanggapi situasi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memberikan kejelasan mengenai penyebab utamanya, yakni lonjakan konsumsi masyarakat yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan ketat serta siap melakukan penyesuaian penyaluran di lapangan.

"Kami memahami kondisi antrean di beberapa SPBU di Manado dan Sulawesi Utara. Kami pastikan, dari sisi pasokan stok BBM di Sulawesi Utara dalam kondisi aman dan distribusi ke seluruh SPBU berjalan secara rutin," ujar Lilik kepada Kompas.com, Selasa (21/7/2026).

Faktor Selisih Harga yang Terlampau Jauh

Secara terpisah, Sales Branch Manager I Fuel Sulutgo Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Mohammad Agung Afrizal, membeberkan bahwa fenomena membludaknya peminat Biosolar dipicu oleh kontrasnya rentang harga antara BBM bersubsidi dan non-subsidi.

"Untuk BBM bersubsidi, Biosolar dijual Rp 6.800 per liter, sedangkan Dexlite sekitar Rp 14.000 per liter. Selisih harga ini membuat masyarakat lebih memilih menggunakan Biosolar," katanya.

Agung menambahkan, dinamika geopolitik global yang berfluktuasi turut memengaruhi harga minyak dunia, yang secara tidak langsung berdampak pada tata kelola rantai distribusi bahan bakar nasional. Meski demikian, Pertamina berkomitmen penuh mengawal penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran sesuai ketentuan pemerintah.

Baca juga: Harga BBM Hari Ini 21 Juli 2026, Warga Sukoharjo Beli Pertalite Full Tank: Biar Sepadan Sama Antre

Langkah Konkret: Kirim Petugas Marshalling hingga Amankan Stok

Guna mengurai kemacetan akibat antrean tersebut, Pertamina merancang sejumlah taktik operasional. Di antaranya dengan memperketat pengawasan di area SPBU, menerjunkan petugas marshalling di titik-titik rawan, hingga memperkuat sinergi dengan aparat penegak hukum, Hiswana Migas, serta pemerintah daerah.

Pasokan BBM yang dialirkan dari Fuel Terminal Bitung dipastikan meluncur sesuai jadwal. Tak hanya itu, langkah build up stock (penumpukan stok cadangan) serta pengawasan intensif terus difokuskan pada SPBU yang berstatus kritis.

Fokus redistribusi ini diprioritaskan pada SPBU di sepanjang jalur utama Kota Manado, seperti kawasan Ring Road, Kairagi, Malalayang, dan Sario, dengan memastikan stok Biosolar sudah terisi sebelum jam operasional dimulai.

"Sejak SPBU buka, kami upayakan stok Biosolar sudah tersedia sehingga masyarakat tidak perlu menunggu pengiriman dari terminal," ujarnya.

Kehadiran petugas marshalling di lapangan difungsikan untuk menata barisan antrean agar tetap tertib, sembari berkoordinasi dengan kepolisian sektor setempat guna mengawal proses penyaluran.

Baca juga: Harga BBM Hari Ini 21 Juli 2026, Warga Sukoharjo Beralih dari Pertamax ke Pertalite: Menghemat

Pengetatan Sistem QR Code dan Ancam Sanksi Tegas

Di samping pembenahan distribusi, Pertamina menaruh perhatian serius terhadap potensi penyalahgunaan solar bersubsidi dengan memperketat verifikasi digital melalui QR Code.

"Operator wajib mencocokkan nomor polisi kendaraan dengan QR Code sehingga setiap transaksi dapat tercatat dan dipertanggungjawabkan," kata Agung.

Pertamina juga memastikan tidak akan tinggal diam jika menemukan indikasi pelanggaran aturan di tingkat pengecer. Pemeriksaan komprehensif terhadap seluruh log transaksi digital akan langsung dilakukan bila ada laporan mencurigakan.

"Jika terbukti terjadi pelanggaran, perusahaan akan memberikan sanksi dan pembinaan kepada SPBU yang bersangkutan," tutup Agung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.