SURYA.CO.ID NGANJUK - Pemerintah Kabupaten Nganjuk membawa kekayaan budaya daerah ke panggung nasional melalui Harmoni Budaya Kabupaten Nganjuk di TMII Jakarta. Kolaborasi teater kontemporer dan wayang kulit menjadi cara menjaga warisan leluhur tetap hidup di era modern.
Gemerlap budaya Nganjuk hadir di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Pergelaran tersebut menjadi ruang bagi Pemkab Nganjuk untuk mengenalkan identitas daerah melalui perpaduan seni tradisi dan kreativitas modern yang tetap mempertahankan nilai-nilai luhur budaya.
Acara bertajuk Harmoni Budaya Kabupaten Nganjuk itu menghadirkan kolaborasi teater kontemporer dengan wayang kulit melalui lakon Sang Seno yang dibawakan oleh dalang Ki R. Akbar Syahalam, S.Sn.
Pembukaan pertunjukan ditandai dengan penyerahan gunungan dan lakon wayang oleh Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi bersama Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPRD Kabupaten Nganjuk Tatit Heru Tjahjono, jajaran Pemkab Nganjuk, serta berbagai komunitas seperti MKKS Kabupaten Nganjuk, paguyuban warga Nganjuk di Jakarta, dan warga Kediri yang tinggal di wilayah Jabodetabek.
Baca juga: 100 Tahun Gontor Meriah, Wayang Kulit Jadi Ruang Pendidikan dan Spirit Dakwah
Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi atau yang akrab disapa Kang Marhaen mengatakan seni tradisi harus terus mendapatkan ruang agar mampu berkembang mengikuti perubahan zaman.
Menurutnya, perpaduan antara teater kontemporer dan wayang kulit menjadi bentuk inovasi yang membuat seni tradisi lebih dekat dengan masyarakat tanpa menghilangkan pesan budaya di dalamnya.
"Budaya merupakan jati diri bangsa. Melalui pertunjukan seperti ini, kita ingin memperkenalkan kekayaan seni Kabupaten Nganjuk kepada masyarakat yang lebih luas," katanya, Selasa (21/7/2026).
Ia menegaskan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemkab Nganjuk dalam menguri-uri budaya, termasuk memperkenalkan Wayang Timplong sebagai salah satu warisan seni khas daerah.
"Sekaligus mengajak generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan leluhur," paparnya.
Pergelaran Sang Seno tidak hanya menyajikan pertunjukan visual, tetapi juga membawa pesan moral tentang kepemimpinan, keteguhan hati, keberanian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Baca juga: Upaya Pemkab Nganjuk Lestarikan Wayang Timplong, Daftarkan jadi WBTB dan Beri Ruang Penampilan
Dengan sentuhan tata artistik modern, musik pengiring, dan pakeliran wayang kulit, pertunjukan tersebut menjadi gambaran bahwa budaya tradisional dapat terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Selain memperkenalkan budaya, Kang Marhaen juga menyampaikan berbagai capaian pembangunan Kabupaten Nganjuk di hadapan para tamu undangan.
Di sektor infrastruktur dan perkotaan, Pemkab Nganjuk telah membangun kawasan pedestrian di Jalan Ahmad Yani sebagai pusat aktivitas masyarakat dan penggerak ekonomi.
Pemerintah daerah juga memperluas pemasangan CCTV untuk meningkatkan keamanan serta mengembangkan layanan digital melalui program Nganjuk Smart City.
Pada sektor industri, Pemkab terus mendorong pembangunan Kawasan Industri Nganjuk (KING) sebagai langkah membuka lapangan kerja baru dan mengurangi angka pengangguran.
Sementara sektor pertanian terus diperkuat dengan meningkatnya keterlibatan generasi muda dalam dunia pertanian dan kewirausahaan berbasis sektor pangan.
Kabupaten Nganjuk juga dipercaya menjadi pilot project nasional untuk pengembangan komoditas kedelai dan bawang merah, memperkuat perannya sebagai salah satu daerah lumbung pangan Indonesia.
"Pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga dari keberhasilan menjaga identitas budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat," terangnya.
Harmoni Budaya Kabupaten Nganjuk merupakan hasil kolaborasi Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk bersama Sanggar Seni Asta Brata.
Melalui panggung nasional tersebut, Pemkab Nganjuk berharap budaya daerah tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga menjadi kekuatan identitas yang terus dikenang generasi mendatang.