Mantan talisman Argentina, Angel Di Maria, dengan cepat menghubungi rekan-rekan senegaranya untuk memberikan dukungan setelah tim asuhan Lionel Scaloni mengalami kekalahan menyakitkan di babak perpanjangan waktu. Dalam tulisannya di media sosial, winger legendaris itu dengan tegas membela warisan luar biasa tim tersebut dan menegaskan bahwa satu pertandingan saja tidak akan pernah mengurangi status mereka sebagai ikon bangsa.
Juara bertahan menyerahkan mahkota dunia
Harapan Argentina untuk mempertahankan gelar juara dunia mereka berakhir dengan kekecewaan setelah kalah tipis 1-0 dari Spanyol di New York melalui babak perpanjangan waktu. Setelah Enzo Fernandez mendapat kartu merah dan tim bermain dengan 10 orang, gawang Emiliano Martinez akhirnya kebobolan melalui penyelesaian jarak dekat dari pemain pengganti Ferran Torres pada menit ke-106. Hasil mengecewakan ini membuat Albiceleste menyamai rekor Jerman sebagai tim yang paling sering finis sebagai runner-up dalam sejarah turnamen.
Legenda memberi penghormatan kepada skuad bersejarah
Meski sudah tidak lagi bermain, Di Maria segera bertindak untuk menguatkan semangat mantan rekan-rekannya dengan membagikan pesan emosional melalui unggahan Instagram Story-nya.
Winger ikonik itu menegaskan bahwa satu kekalahan di final tidak akan pernah menghapus warisan luar biasa yang telah dibangun oleh generasi ini. Di Maria menulis: "Sebuah negara bangga padamu. Sebuah negara kembali bersatu berkat cinta dan keberanian yang kalian tunjukkan di Piala Dunia ini.
"Kalian adalah sejarah, kalian adalah legenda, dan tidak ada yang bisa mengambil itu dari kalian. Tim nasional terbaik dalam sejarah negara kita. Lima final berturut-turut, tidak ada yang bisa mengambil itu dari kalian. TERIMA KASIH BANYAK UNTUK SEMUANYA."
Albiceleste jalani akhir yang menyakitkan
Pertandingan penentuan itu berjalan sangat sulit bagi sang juara bertahan, yang mencatat rekor tidak diinginkan sebagai tim pertama yang gagal melepaskan satu pun tembakan selama waktu normal di final. Ketegangan tinggi dan bentrokan fisik keras mendominasi laga, berpuncak ketika Lisandro Martinez harus ditarik keluar karena cedera parah di babak pertama sebelum Enzo diusir keluar lapangan menjelang perpanjangan waktu.
Sementara Spanyol merayakan keberhasilan menjadi negara pertama yang secara bersamaan memegang gelar juara dunia sepak bola putra dan putri, kubu Argentina harus menelan pil pahit menyaksikan berakhirnya era keemasan mereka.
Scaloni hadapi tuntutan perubahan taktik
Kekalahan menyakitkan ini menuntut agar Lionel Scaloni segera meninjau ulang pendekatan taktisnya serta mengatasi dinamika skuad yang mulai menua. Tantangan nyata kini terletak pada mempercepat perkembangan talenta muda seperti Nico Paz untuk membangun kembali daya saing mereka menjelang siklus internasional berikutnya.