TRIBUNNEWS.COM - Persaingan memperebutkan gelar juara MotoGP 2026 semakin memanas. Empat pembalap yang menggunakan motor Aprilia RS-GP, masih memiliki peluang untuk menjadi juara dunia.
Akan tetapi, kini muncul pertanyaan apakah seluruh pembalap akan mendapat kebebasan bertarung hingga akhir musim MotoGP 2026.
Bos Trackhouse Racing, Davide Brivio, mengaku belum bisa memastikan apakah Aprilia akan menerapkan team order jika perebutan gelar semakin mengerucut.
Ia menilai keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan pabrikan asal Noale tersebut.
Meski Marc Marquez tampil impresif lewat kebangkitan luar biasa dalam beberapa seri terakhir, dua posisi teratas klasemen sementara MotoGP masih ditempati pembalap Aprilia.
Jorge Martin dari tim pabrikan memimpin klasemen dengan raihan 208 angka. Sementara pembalap Trackhouse Aprilia Racing, Ai Ogura, terus membayangi dengan selisih hanya 14 poin.
Ogura menjadi salah satu kejutan terbesar musim ini.
Walaupun baru mengoleksi satu kemenangan Grand Prix, pembalap asal Jepang itu tampil sangat konsisten di hampir setiap balapan.
Konsistensi tersebut membuatnya tetap berada dalam jalur perebutan gelar juara dunia.
Namun, peluang Ogura meraih titel bukan tanpa tantangan.
Sebagai tim satelit Aprilia, Trackhouse berpotensi menghadapi kebijakan team order apabila pabrikan ingin memastikan gelar juara pertama MotoGP dalam sejarah mereka diraih oleh pembalap tim utama.
Dalam wawancara di kanal YouTube Motorsport Italia, Selasa (21/7), Brivio ditanya mengenai kemungkinan Aprilia memprioritaskan Jorge Martin dibandingkan Ai Ogura apabila keduanya bersaing langsung dalam perebutan gelar.
Baca juga: Kejutan Transfer Pembalap MotoGP 2027: Fabio Quartararo Tak Sendirian Dikontrak Honda HRC
Brivio mengaku belum mengetahui bagaimana sikap Aprilia jika skenario tersebut benar-benar terjadi.
"Kalau nantinya hanya kami yang bersaing melawan tim lain, saya juga belum tahu bagaimana keputusannya," ujar Italiano berusia 62 tahun.
Meski demikian, pria asal Monza itu berharap Aprilia bisa mencontoh sikap Ducati pada MotoGP 2024.
Saat itu, Ducati tetap memberikan kebebasan kepada Francesco 'Pecco' Bagnaia dan Jorge Martin untuk bertarung memperebutkan gelar, meski Martin membela tim satelit.
Yang pada akhirnya, Jorge Martin sukses menjadi juara dunia MotoGP 2024, sekaligus Pramac Prima Racing mengukir sejarah sebagai non-pabrikan pertama era modern yang menjadi kampiun.
"Saya harus memberikan apresiasi kepada Ducati, Gigi Dall'Igna, dan seluruh tim atas cara mereka menangani persaingan Bagnaia dan Martin," tambah mantan manajer Yamaha dan Suzuki Ecstar.
"Mereka membiarkan keduanya bertarung secara adil, dan menurut saya itu adalah contoh yang sangat baik," kata Brivio.
Ia berharap filosofi serupa dapat diterapkan Aprilia apabila situasi tersebut benar-benar terjadi pada musim ini.
"Saya berharap hal yang sama bisa terjadi. Namun, pertama-tama tentu akan menjadi mimpi jika kami benar-benar berada dalam posisi tersebut," ucapnya sambil bercanda.
Brivio juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat berdiskusi dengan CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, mengenai peluang tersebut.
Baca juga: Jorge Martin Nantikan Duel dengan Marc Marquez dalam Perebutan Gelar MotoGP 2026
Menurutnya, pihak Aprilia sejauh ini hanya ingin melihat motor mereka meraih kemenangan, tanpa memandang warna tim yang menggunakannya.
"'Selama motor Aprilia yang menang, saya senang, apa pun warna motornya.' Kurang lebih seperti itu yang disampaikan kepada saya. Namun, kita lihat saja bagaimana situasinya nanti," tutur Brivio.
Seri-seri berikutnya diprediksi akan menjadi penentu arah kebijakan Aprilia.
Apalagi jika Ai Ogura mampu menyalip Jorge Martin di puncak klasemen.
Dalam kondisi tersebut, keputusan mengenai ada atau tidaknya team order diyakini akan menjadi salah satu sorotan terbesar dalam perebutan gelar MotoGP 2026.
(Tribunnews.com/Giri)