TRIBUNSTYLE.COM, YOGYAKARTA - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo dan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di Jogja dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa yang megah. Namun, tahukah kamu bahwa kedua keraton besar ini dulunya berasal dari satu rahim yang sama? Ya, keduanya adalah pecahan dari Kerajaan Mataram Islam yang didirikan pada tahun 1588 Masehi oleh raja pertamanya, Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati).
Berbeda dengan Keraton Solo dan Jogja saat ini yang berdiri megah, ibu kota pertama Mataram Islam yang berada di kawasan Kotagede, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini telah berubah menjadi kawasan permukiman padat dan nyaris tak berbekas. Hal ini terjadi karena pusat pemerintahan sempat berpindah beberapa kali—mulai dari Kerto, Pleret, Kartasura, hingga akhirnya pecah menjadi dua melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.
Meskipun fisiknya telah menyatu dengan rumah-rumah warga, kamu masih bisa berpetualang menyusuri gang-gang Kotagede untuk menemukan 6 situs peninggalan bersejarah yang sarat akan kisah mistis dan legenda berikut ini:
Dahulu kala, sebuah keraton selalu dilindungi oleh dua lapis benteng pelindung: Benteng Baluwarti di sisi luar dan Benteng Cepuri di sisi dalam.
Daya Tarik: Situs Bokong Semar merupakan sisa-sisa dinding Benteng Cepuri yang berwujud melengkung. Karena bentuk lengkungannya yang unik, masyarakat setempat secara turun-temurun menyebutnya mirip dengan bentuk "bokong" tokoh pewayangan Semar. Saat ini, struktur tersisa telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan direstorasi agar tidak runtuh dimakan zaman.
Baca juga: Rekomendasi Sarapan Murah di Solo Raya, Kenyang Cuma Modal Rp10.000
Tidak jauh dari Situs Bokong Semar, kamu bisa menemukan bagian lain dari Benteng Cepuri yang memiliki kondisi unik berupa dinding jebol yang terputus.
Kisah Legenda: Dinding yang jebol ini menyimpan cerita rakyat yang kental akan ajaran moral. Konon, bagian tembok ini jebol karena Raden Rangga (putra Panembahan Senopati yang terkenal sakti namun angkuh) diempaskan oleh ayahnya sendiri. Hal itu sengaja dilakukan oleh sang raja sebagai bentuk pelajaran keras agar putranya tidak tumbuh menjadi pribadi yang sombong.
Ketiga peninggalan batu ini tersimpan rapi di dalam sebuah bangunan khusus yang terletak tepat di tengah jalan raya. Untuk memasukinya, kamu wajib mendapatkan izin dan didampingi oleh juru kunci setempat.
Baca juga: Cari Makan Murah di Solo Raya? Ini 5 Warung Favorit dengan Harga Mulai Rp5.000
Didirikan pada tahun 1587 Masehi, rumah ibadah ini merupakan bagian dari penerapan tata kota kuno Jawa yang mengusung konsep Catur Gatra Tunggal (Empat Elemen Tunggal penyangga kota).
Fungsi Tata Kota: Berdasarkan konsep tersebut, tata ruang kota dibagi menjadi empat pilar utama dengan fungsinya masing-masing:
Berlokasi tepat di samping Masjid Gedhe Mataram, kompleks sakral ini merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi para tokoh pendiri wangsa Mataram Islam.
Terletak tepat di sebelah selatan Masjid Gedhe Mataram dan berbatasan langsung dengan area pemakaman, pemandian kuno ini dibangun langsung oleh Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati.
Daya Tarik: Sendang Seliran terbagi menjadi dua area terpisah, yaitu Sendang Putri (khusus untuk kaum wanita) dan Sendang Kakung (khusus untuk kaum laki-laki). Meskipun saat ini sudah tidak difungsikan lagi sebagai tempat pemandian umum, air dari sendang alami ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat memiliki tuah yang dapat membuat wajah awet muda.
Mengingat situs-situs sejarah ini berada di tengah perkampungan padat penduduk dengan jalan dan gang yang relatif sempit, cara terbaik untuk mengeksplorasi Kotagede adalah dengan berjalan kaki atau menyewa sepeda/becak. Jangan ragu untuk menyapa warga lokal yang ramah guna mendapatkan petunjuk arah menuju lokasi cagar budaya ini! (Travel.kompas.com/ Anggara Wikan Prasetya/ TribunStyle.com/ Ana Vaidatu Zuhda)