Grid.ID - Memiliki karier yang membentang selama seperempat abad membuat posisi Ciccio Manassero sangat unik di mata masyarakat Indonesia. Wajahnya telah menghiasi layar kaca dan layar lebar melintasi berbagai era, membuatnya disaksikan oleh kelompok usia yang sangat beragam. Fenomena ini menciptakan gelombang nostalgia yang berbeda-beda bagi setiap orang yang melihat penampilannya.
Ciccio sangat menyadari bahwa dirinya memiliki identitas yang terpecah-pecah di mata publik, murni karena rentang kariernya yang panjang. Kelompok usia yang lebih tua mengenalnya dari satu karya, sementara remaja masa kini mengenalnya dari medium yang sama sekali berbeda, membuktikan bahwa daya tariknya mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
"Yes and no, tergantung orang dari generasi apa. Kalau yang generasiku ke atas mungkin tahu aku penyanyi cilik. Tapi kalau anak-anak yang 20 tahun sekarang mungkin tahunya dari sinetron GGS atau apa. Terus kalau anak-anaknya lebih muda-muda lagi mungkin tahunya dari project-projectku belakangan. Jadi selalu apa ya, selalu berevolusilah penontonnya gitu, nggak yang sama terus gitu," ujar Ciccio Manassero di kawasan Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.
Salah satu topik yang kerap mengiringi perbincangan tentang Ciccio adalah penampilan fisiknya yang seolah menolak tua. Banyak pihak, baik penggemar maupun rekan media, sering menyoroti struktur wajahnya yang dirasa tidak banyak berubah sejak ia masih remaja.
Menanggapi komentar publik mengenai wajahnya yang awet muda, aktor yang kini telah memasuki usia kepala tiga tersebut meresponsnya dengan santai dan penuh canda. Di balik kelakarnya, ia merasa bersyukur karena penampilan fisiknya tersebut justru membuka banyak pintu peluang untuk terus mengeksplorasi berbagai peran di dunia seni peran.
"Hmm... mungkin aku vampir beneran. Enggak lah. Ya, berarti aku awet muda, terima kasih. Di umurku yang sudah kepala tiga ini. Ya, imbasnya aku masih bisa dikasih kesempatan untuk berkarya terus, main di lebih banyak film, banyak series, dan juga dapat project-project bagus seperti 'Rumah Singgah' ini," sambungnya.
Namun, di balik penampilannya yang selalu segar dan statusnya sebagai figur publik di era digital, Ciccio menyimpan sebuah rahasia kecil yang mengundang tawa. Berbeda dengan mayoritas anak muda zaman sekarang yang sangat bergantung pada kecanggihan gawai, ia justru mengaku sangat gagap teknologi.
Sifat "gaptek" ini baru-baru ini terbongkar saat ia sedang menghabiskan waktu bersama sahabatnya, kreator konten Jerome Polin. Saat hendak membayar makanan menggunakan metode pindai kode QRIS, Ciccio melakukan sebuah kesalahan mendasar yang membuat teman-temannya terheran-heran.
"Iya. He-eh. Aduh parah banget sih. Temenku Jerome waktu itu nawarin, aku kan mau transfer ke dia, kita makan bareng kan, pakai QRIS. Terus dia bilang, 'scan aja QRIS'. Aku scan-nya dari kamera bukan dari m-banking, jadi nggak bakal jadilah. Gaptek-nya segitu," ungkap Ciccio.
Kejadian lucu tersebut rupanya bukan disebabkan karena Ciccio tidak memiliki fasilitas perbankan modern di ponselnya. Ia memiliki aplikasi perbankan, namun kebiasaan dan kenyamanannya melakukan hal-hal secara manual membuatnya kerap abai terhadap fungsi-fungsi pintas teknologi masa kini.
Sikap cueknya terhadap perkembangan teknologi ini juga tercermin dari preferensinya terhadap perangkat komunikasi yang ia gunakan sehari-hari. Alih-alih mengejar ponsel pintar keluaran terbaru dengan fitur tercanggih, Ciccio merasa jauh lebih nyaman dan aman menggunakan ponsel bergaya klasik.
"Ada, ada m-banking, tapi kan aku biasanya ketik nomornya aja berapa gitu. Ini dia kayak QR QR, aku scan-nya malah pakai kamera bukan dari m-banking, nggak bisa gitu. Berarti lebih cuek aja sih kalau masalah teknologi," ungkap Ciccio.