TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dalam dunia kuliner modern, kenikmatan sebuah hidangan tidak lagi hanya ditentukan oleh rasa. Cara penyajian atau plating kini memegang peranan vital dalam menciptakan pengalaman kuliner yang berkesan bagi para tamu.
Baca juga: Hair Croissant Picu Polemik, Pakar: Kurang Sejalan dengan Filosofi Kuliner Indonesia
Tak heran jika tren tableware bergaya artisanal atau buatan tangan (handmade) kian diburu para pemilik hotel, restoran, dan kafe (Horeka). Bentuknya yang unik dan autentik dinilai sukses menghadirkan kesan mewah sekaligus hangat di atas meja makan.
Namun, di balik visualnya yang memikat, peralatan makan buatan tangan sering kali membawa dilema tersendiri bagi para pelaku usaha Food & Beverage (F&B).
Peralatan makan artisanal umumnya dibanderol dengan harga cukup mahal. Tak hanya itu, bentuk dan warnanya cenderung sulit konsisten, serta memiliki daya tahan yang relatif ringkih untuk operasional restoran yang sibuk. Risiko tergores hingga pecah saat digunakan berulang kali menjadi momok yang mengancam efisiensi biaya operasional.
Melihat tantangan tersebut, inovasi teknologi manufaktur keramik modern mulai menjembatani celah antara nilai estetika dan ketahanan fisik.
Kunci utama dari ketahanan piring kelas komersial ini rupanya terletak pada bahan baku dan proses pembakarannya. Penggunaan material khusus seperti Alumina Body yang dibakar pada suhu ekstrem hingga 1.380 derajat celsius terbukti mampu menghasilkan struktur keramik yang sangat padat.
Hasilnya, piring tak hanya anggun dipandang, tetapi juga memiliki ketahanan benturan yang tinggi, tahan terhadap noda bahan makanan berpigmen kuat seperti kecap dan saus, serta mudah dirawat.
"Tampilan artisanal yang indah sering kali kurang praktis untuk penggunaan harian di restoran commercial yang sibuk. Di sinilah teknologi produksi modern berperan untuk menjaga konsistensi bentuk dan warna, sekaligus memastikan produk tahan terhadap penggunaan intensif," ujar Commercial & Marketing Director PT Sango Ceramics Indonesia, Pepy Alamsjah, dalam pameran Food & Hospitality Indonesia (FHI) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Perkembangan tren peralatan makan tahun ini juga memperlihatkan pergeseran daya tarik ke arah motif yang lebih natural dan minimalis.
Tekstur batu alam (raw texture), aksen riak air, hingga adopsi elemen flora khas Asia seperti teratai dan bambu kini menjadi favorit baru. Sentuhan alami ini dinilai mampu mempercantik visual hidangan secara alami tanpa perlu menambahkan riasan (garnish) secara berlebihan.
Baca juga: Halal Expo Indonesia 2026 Siap Digelar, Sajikan Kuliner hingga Forum Bisnis Dunia
Menariknya, estetika berkarakter Asia ini tak hanya memikat selera pasar lokal, tetapi juga mulai mencuri perhatian pasar internasional, termasuk di kawasan Eropa.
Di era yang serba visual, fungsi peralatan makan pun telah bergeser. Piring tak lagi sekadar wadah penampung makanan, melainkan medium efektif untuk memperkuat identitas merek (branding).
Dengan memanfaatkan teknologi dekorasi presisi seperti silk screen, para pemilik usaha kini dapat menyematkan logo atau identitas visual merek mereka langsung di atas permukaan piring.
Strategi ini terbukti efektif dalam membangun citra merek di mata konsumen, terutama di era media sosial, tempat para tamu gemar mengabadikan dan mengunggah foto estetis hidangan mereka sebelum menyantapnya.
Melalui kehadiran teknologi manufaktur yang makin presisi, industri F&B kini memiliki angin segar. Pengusaha kuliner dapat menyajikan pengalaman makan yang estetik dan kekinian tanpa perlu lagi mengorbankan biaya operasional akibat piring yang gampang pecah.