Iran Klaim Gempur Pangkalan AS di Kuwait, Gudang Amunisi & Logistik Milik Amerika Jadi Target Drone
Eri Ariyanto July 23, 2026 06:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Iran mengklaim melancarkan serangan pesawat nirawak (drone) ke pangkalan militer AS di Kuwait.

Menurut Teheran, serangan menyasar depot amunisi dan fasilitas logistik Angkatan Darat Amerika Serikat di Camp Doha, salah satu pangkalan strategis Washington di kawasan Teluk.

Militer Iran menyebut operasi itu dilakukan menggunakan sejumlah drone tempur sebagai respons atas dugaan agresi berulang Amerika Serikat di Timur Tengah.

Hingga kini, pemerintah Amerika Serikat maupun otoritas Kuwait belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim serangan tersebut.

Belum ada informasi independen yang dapat memverifikasi klaim Iran maupun memastikan adanya korban jiwa atau tingkat kerusakan di lokasi yang disebut menjadi sasaran.

Apabila klaim tersebut terbukti benar, serangan terhadap Camp Doha berpotensi menjadi salah satu eskalasi paling signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Pangkalan tersebut diketahui memiliki peran penting dalam mendukung operasi militer dan distribusi logistik pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Perkembangan ini kembali memicu kekhawatiran bahwa ketegangan Iran dan Amerika Serikat dapat meluas dan berdampak terhadap stabilitas keamanan kawasan.

Baca juga: Hubungan AS-Kanada Memanas Usai Piala Dunia 2026, Gegara Donald Trump Kenakan Tarif Impor 50 Persen

Seperti dikertahui, Teheran menyebut serangan berskala besar telah menyasar depot amunisi serta fasilitas logistik Angkatan Darat AS yang berada di Camp Doha, salah satu pangkalan strategis militer Washington di kawasan Teluk.

Adapun serangan dilakukan menggunakan sejumlah besar drone tempur sebagai respons atas apa yang disebut sebagai "agresi berulang" Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, dengan persatuan yang suci, siap memberikan respons tegas terhadap setiap konspirasi dan aksi provokatif baru dari musuh," demikian bunyi pernyataan militer Iran yang dikutip Al Jazeera.

Sejauh ini pemerintah Amerika Serikat maupun otoritas Kuwait belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim serangan tersebut. 

Belum ada pula informasi yang dapat memverifikasi adanya korban jiwa maupun tingkat kerusakan di pangkalan tersebut.

Apabila klaim Iran terbukti benar, serangan terhadap Camp Doha diperkirakan menjadi salah satu eskalasi paling signifikan dalam beberapa pekan terakhir. 

RUDAL IRAN - Penampakan rudal Khorramshahr-4 Khaibar missile milik Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali memperlihatkan kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa serangan selanjutnya terhadap Israel akan menggunakan rudal balistik dengan hulu ledak seberat sekitar satu ton, terhitung mulai 10 Maret 2026.
RUDAL IRAN - Penampakan rudal Khorramshahr-4 Khaibar missile milik Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kembali memperlihatkan kemampuan militernya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. IRGC menyatakan bahwa serangan selanjutnya terhadap Israel akan menggunakan rudal balistik dengan hulu ledak seberat sekitar satu ton, terhitung mulai 10 Maret 2026. (Dok./Wartakota)

Pasalnya, pangkalan tersebut memiliki peran vital dalam mendukung operasi militer dan distribusi logistik pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Serangan tersebut memperlihatkan bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat berpotensi meluas ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi berbagai pangkalan militer AS, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan regional.

IRGC Ancam Gempur Kepentingan AS di Timur Tengah

Klaim serangan terhadap Camp Doha muncul tidak lama setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman terbuka kepada Amerika Serikat.

IRGC menegaskan bahwa seluruh kepentingan Amerika Serikat beserta sekutunya di Timur Tengah akan menjadi sasaran apabila Washington melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, termasuk kompleks nuklir yang berada di kawasan Pickaxe Mountain.

Peringatan serupa juga disampaikan Markas Besar Militer Iran Khatam Al Anbiya. Menurut mereka, setiap serangan terhadap fasilitas nuklir maupun infrastruktur strategis Iran akan dianggap sebagai bentuk perluasan perang dan akan dibalas dengan kekuatan penuh.

"Jika AS menyerang fasilitas nuklir atau fasilitas sensitif lainnya, maka kepentingan AS, sekutu, dan para pendukung Washington di kawasan akan menjadi sasaran," demikian pernyataan Khatam Al Anbiya yang dikutip Anadolu Agency.

Pernyataan tersebut mempertegas sikap Iran yang menyatakan siap memperluas respons militer apabila Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Trump Ancam Serang Fasilitas Nuklir Iran

Meningkatnya ketegangan dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran di kawasan Gunung Pickaxe.

Trump menyatakan Amerika Serikat siap melancarkan serangan dalam waktu dekat apabila perkembangan program nuklir Iran dinilai mengancam kepentingan keamanan Washington.

"Kami akan menyerang kawasan Pickaxe Mountain dalam waktu dekat, dan dengan sangat keras. Mungkin dalam waktu yang sangat dekat, dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikannya," kata Trump.

Ia kembali menegaskan ancamannya dengan menyebut serangan akan dilakukan menggunakan kekuatan militer yang besar.

Pernyataan tersebut langsung memicu respons keras dari Teheran dan semakin memperbesar kekhawatiran bahwa konflik kedua negara dapat berkembang menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara di Timur Tengah.

Iran dan Pakistan Bahas Upaya De-eskalasi Konflik

Meski aksi saling serang terus terjadi, pemerintah Iran dan Pakistan diketahui tengah memperkuat jalur diplomasi melalui pertemuan tingkat tinggi yang digelar di Islamabad.

Pertemuan tersebut dihadiri Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni dan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi.

Berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri Pakistan, kedua negara sepakat mempererat kerja sama di berbagai bidang strategis, mulai dari penanggulangan terorisme, pemberantasan peredaran narkoba, pencegahan penyelundupan manusia, penguatan pengelolaan wilayah perbatasan, hingga penanganan migrasi ilegal.

Selain membahas kerja sama bilateral, kunjungan Eskandar Momeni juga menjadi bagian dari upaya diplomatik untuk mencari jalan keluar atas konflik yang terus memanas antara Iran dan Amerika Serikat.

Dalam pertemuan tersebut, Pakistan bersama Qatar disebut menawarkan formula de-eskalasi yang diharapkan mampu menghentikan permusuhan kedua negara sekaligus membuka kembali jalur perundingan damai yang sempat terhenti akibat meningkatnya ketegangan militer.

Pemerintah Pakistan menilai penyelesaian melalui jalur diplomasi merupakan langkah penting untuk mencegah konflik meluas dan menjaga stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.

Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa di tengah memanasnya konflik Iran dan Amerika Serikat, masih terdapat upaya diplomatik yang dilakukan negara-negara kawasan untuk meredakan ketegangan sekaligus mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas

(TribunNewsmaker.com/TribunNews/Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.