TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, mulai membangun Huma Betang di kawasan bekas Kantor Dinas Kehutanan (Dishut), di Jalan Imam Bonjol, Palangka Raya.
Bangunan yang diklaim akan menjadi Rumah Betang terbesar di Asia itu ditargetkan rampung pada 2027 dengan anggaran sekitar Rp130 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi.
Pembangunan ditandai dengan pemancangan tiang perdana oleh Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, Kamis (23/7/2026).
Agustiar mengatakan, pembangunan Huma Betang tidak sekadar menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga menjadi upaya melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Dayak.
Menurutnya, Huma Betang merupakan simbol keberagaman, kebersamaan, toleransi, dan semangat gotong royong yang harus terus dijaga oleh generasi penerus.
"Huma Betang ini rumah besar, rumah adat leluhur kita. Filosofinya adalah keberagaman, kebersamaan, toleransi, dan belom bahadat atau semangat gotong royong yang ada di dalamnya," kata Agustiar.
Ia menilai, pembangunan Huma Betang menjadi penting agar generasi muda tidak kehilangan akar budaya dan sejarah di tengah perkembangan zaman.
"Harapannya generasi ini jangan sampai tidak punya landasan, tidak punya sejarah," ujarnya.
Meski pembangunan dilakukan di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Agustiar memastikan proyek tersebut tetap dijalankan secara bertahap.
Ia mengakui pembangunan membutuhkan biaya besar, terlebih sebagian besar material yang digunakan merupakan kayu ulin yang kini semakin sulit diperoleh.
"Walaupun di tengah efisiensi begini, lumayan juga biaya pembangunannya. Huma Betang ini dibangun dengan kayu ulin, hampir 80 persen menggunakan kayu ulin. Kayu ulin juga sekarang agak langka," katanya.
Selain menjadi simbol budaya, kawasan Huma Betang juga disiapkan sebagai destinasi wisata baru di Kalimantan Tengah.
Menurut Agustiar, di kawasan tersebut nantinya akan tersedia pusat kuliner, produk herbal, hingga berbagai makanan khas Dayak yang diharapkan mampu menarik wisatawan dari dalam maupun luar daerah.
"Tentunya ini menjadi tempat wisata baru. Di sini nanti tempatnya pusat kuliner, herbal, semuanya ada di sini, termasuk makanan-makanan khas Dayak," ujarnya.
Agustiar menargetkan pembangunan Huma Betang dapat diselesaikan dalam waktu dua tahun.
"Targetnya dua tahun. Pertama karena anggaran, kedua kayu ulin juga agak langka," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalimantan Tengah, Juni Gultom mengatakan, pembangunan Huma Betang merupakan gagasan Gubernur Agustiar Sabran yang mengangkat filosofi kehidupan masyarakat Dayak.
Menurutnya, bangunan tersebut dirancang menjadi rumah betang terbesar di Kalimantan, bahkan diklaim terbesar di Asia.
"Pembangunan ini adalah ide Bapak Gubernur untuk masyarakat Kalimantan Tengah. Huma Betang ini mengangkat filosofi dari akar masyarakat Dayak dan akan menjadi rumah betang terbesar di Kalimantan bahkan di Asia," kata Juni.
Ia menjelaskan, proyek tersebut dibangun di atas lahan seluas sekitar lima hektare, dengan luas bangunan mencapai lebih dari 4.000 meter persegi atau hampir setengah hektare.
"Kalau luas lahan yang digunakan kurang lebih sekitar lima hektare, sedangkan luas bangunannya sendiri sekitar 4.000 sekian meter persegi atau hampir setengah hektare," jelasnya.
Huma Betang itu nantinya dirancang mampu menampung sekitar 8.000 orang dan difungsikan sebagai pusat kegiatan masyarakat Dayak, termasuk pertemuan berskala besar dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Baca juga: Pemprov Kalteng Lanjut Proyek RTH, Huma Betang Segera Dibangun di Eks Kantor Dinas Kehutanan
Baca juga: HMI Kalteng Pertanyakan Rencana Stafsus Gubernur dan Tagih Janji Kartu Huma Betang
"Sebagaimana desain arsiteknya, daya tampungnya sekitar 8.000 orang. Ini bisa digunakan untuk pertemuan-pertemuan besar masyarakat Dayak dari seluruh dunia dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah sebagai pusat peradaban masyarakat Dayak di Kalimantan," ujarnya.
Juni menambahkan, pembangunan ditargetkan selesai pada 2027 sehingga pada awal 2028 bangunan sudah dapat difungsikan.
Untuk merealisasikan proyek tersebut, Pemprov Kalteng mengalokasikan anggaran sekitar Rp130 miliar yang dikerjakan secara bertahap selama dua tahun.
"Anggarannya kurang lebih sekitar Rp130 miliar yang dialokasikan dalam dua tahun. Tahun ini sekitar Rp36 miliar, kemudian sisanya akan diselesaikan pada tahun 2027. Sumber dananya berasal dari APBD Provinsi," tutupnya.