TRIBUNKALTIM.CO, UJOH BILANG — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur, harus memutar otak ekstra keras untuk bertahan hidup.
Tak hanya tertekan oleh lonjakan harga bahan baku dan lesunya daya beli lokal, pergerakan roda bisnis mereka juga tersandera oleh rumitnya rantai distribusi ke kawasan pedalaman.
Salah satu potret perjuangan tersebut dialami oleh Arul, pemilik usaha Tahu Uap yang berpusat di Ujoh Bilang.
Produk tahunya sejatinya tidak hanya menyasar pasar lokal Ujoh Bilang, tetapi juga dipasok untuk memenuhi kebutuhan warga di Long Bagun, Batu Majang, hingga pelosok Hulu Mahakam.
Baca juga: Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu Tempe Balikpapan Tahan Harga Demi Daya Beli
Namun, menembus kawasan hulu sungai bukanlah urusan sepele. Jalur transportasi air di sepanjang Sungai Mahakam kerap menjadi tantangan ekstrem yang melumpuhkan jadwal pengiriman.
Dia paparkan, kalau pengiriman ke Hulu Mahakam itu sepenuhnya tergantung kondisi debit air sungai.
"Kami tidak bisa memastikan jadwalnya. Kalau airnya sedang surut atau justru banjir besar, pengiriman terpaksa dihentikan total," ungkap Arul saat ditemui TribunKaltim.co pada Rabu (22/7/2026).
Ancaman jeram atau riam ganas di Sungai Mahakam membuat moda transportasi air sangat rentan.
Saat air terlalu dangkal, perahu pengangkut berisiko kandas di celah bebatuan riam; sebaliknya, saat banjir, arus deras membahayakan keselamatan jiwa.
Akibatnya, pasokan bahan pangan segar seperti tahu ke kawasan Hulu Mahakam acap kali terlambat atau terputus sementara.
Tantangan distribusi geografi tersebut semakin diperparah oleh tekanan finansial di tingkat produksi.
Arul mengungkapkan, harga bahan baku utama berupa kedelai yang diimpor dari Samarinda melonjak tajam dari harga normal Rp500 ribu menjadi Rp800 ribu per karung.
Di saat biaya produksi membengkak, pasar justru sedang lesu akibat menurunnya daya beli masyarakat dalam beberapa bulan terakhir.
Pesanan dalam beberapa bulan terakhir memang jauh lebih sepi dari biasanya karena daya beli masyarakat sedang lemah.
Baca juga: Harga Kedelai Naik, Perajin Tempe di Kutai Kartanegara Kecilkan Ukuran demi Bertahan
"Di saat yang sama, harga kedelai naik sampai Rp800 ribu per karung," paparnya.
Meski diterjang badai ganda, mulai dari melonjaknya harga bahan baku, melesunya transaksi pasar, hingga ekstremnya rintangan distribusi sungai ke wilayah pedalaman, Arul menolak gulung tikar.
Ia memilih terus bertahan menjaga asa usaha Tahu Uap yang telah dirintis keluarganya selama lebih dari dua dekade tersebut demi memastikan pasokan pangan warga Mahakam Ulu tetap terpenuhi.
(TribunKaltim.co/Deasy Filana)