Kenapa Gunung Merbabu Harus Dijaga 24 Jam di Bulan Agustus
khoirul muzaki July 23, 2026 04:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN - Area lahan Hutan Gunung Merbabu akan dijaga 24 jam saat puncak musim kemarau pada Agustus 2026. 


Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) berencana membuka posko siaga kebakaran hutan selama 24 jam guna mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran.


Kasubag TU Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, Nurpana Sulaksono menyampaikan, BTNGMb telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menghadapi potensi kebakaran hutan selama musim kemarau.

Langkah pertama, pihaknya telah menyusun rencana mitigasi bencana kebakaran hutan yang dilengkapi standar operasional prosedur (SOP), petunjuk pelaksanaan, dan petunjuk teknis penanganan kebakaran.


Selain itu, BTNGMb telah menggelar Apel Siaga Kebakaran Hutan bersama berbagai pemangku kepentingan pada Juni lalu. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menyamakan koordinasi sekaligus memastikan kesiapan personel dan peralatan apabila terjadi kebakaran.


Di lapangan, patroli rutin juga terus dilakukan hampir setiap hari oleh petugas Taman Nasional bersama masyarakat di kawasan lingkar Merbabu.

Patroli ini bertujuan mendeteksi dini potensi titik api sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berisiko memicu kebakaran.


"Puncaknya nanti pada Agustus kami rencanakan membuka posko siaga kebakaran hutan selama 24 jam. Saat ini posko masih berada di kantor, tetapi kami sedang mempersiapkan posko khusus untuk antisipasi kebakaran hutan," ujar Nurpana, Kamis (23/7/2026). 

Baca juga: Dampak Kekeringan di Banyumas Meluas, 15.575 Jiwa di 18 Desa/Keluarkan Andalkan Kiriman Air Bersih

Sosialisasi

Di sisi lain, pihaknya juga menggencarkan sosialisasi kepada desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Surat edaran telah dikirimkan kepada pemerintah desa maupun kecamatan agar menyampaikan imbauan pencegahan kebakaran kepada masyarakat dalam berbagai forum pertemuan warga.


Tak hanya warga sekitar, para pendaki juga menjadi sasaran sosialisasi. Sesuai prosedur yang berlaku, seluruh pendaki dilarang menyalakan api atau membuat perapian selama berada di jalur maupun kawasan pendakian Gunung Merbabu.


Berdasarkan peta kerawanan yang dimiliki BTNGMb, kawasan yang paling rentan mengalami kebakaran berada di wilayah sabana dan area yang berbatasan langsung dengan permukiman warga.

Kebakaran di kawasan tersebut umumnya dipicu api rambatan dari bawah yang kemudian menjalar ke vegetasi sabana saat kondisi kering.


"Jadi itu yang akan terus kita cegah. Kita sosialisasikan karena kan biasanya nanti api rambatan dari bawah sehingga kita mengantisipasinya pada daerah-daerah yang rawan itu ya daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan aktivitas masyarakat," jelasnya.


Koordinator Relawan Pinoes Merbabu, Suryo Sigit menambahkan, belum lama ini, para relawan juga mengikuti sosialisasi dan pelatihan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan relawan dalam menghadapi potensi kebakaran saat musim kemarau.


"Teman-teman relawan sekarang sudah saling pantau. Kalau ada sedikit saja terlihat asap, kami langsung mengecek ke lokasi.

Beberapa kali ada laporan asap, tetapi setelah dicek ternyata berasal dari luar kawasan. Kami juga sudah menyiapkan tangki air untuk mendukung penanganan awal apabila terjadi kebakaran," tutur Suryo.


Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro mengatakan komunikask dengan komunitas Gerakan Masyarakat Peduli Api terus dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Terkait dengan peralatan, pihaknya juga mendapat bantuan dari BNPB untuk mendukung penanganan jika terjadi kebakaran di hutan dan lahan. 


"Jadi, ada alkon untuk alat semprot. Itu radius bisa sampai 3 kilo. Memang kekuatannya besar. Itu kita punya 5 unit. Karena tangki kalau karhutla tidak mungkin sampai ke atas, maka kita coba kemarin di Merbabu radius 3 kilo bisa hidup," paparnya. 


Selain di Merbabu, ia menyebut, beberapa lahan perhutanan di kawasan Kabupaten Semarang juga berpotensi terjadi kebakaran antara lain Telomoyo dan Penggaron. Ia meminta masyarakat di sekitar kawasan hutan bisa mengantisipasi munculnya api agar tidak semakin meluas. 


"Yang rawan juga kadang di lingkungan masyarakat. Kayak kemarin di Lemah Ireng itu istilahnya mereka hanya bersih-bersih kemudian ditumpuk dibakar, tapi ditinggal pergi.

 Maka, kita tidak henti-hentinya menyampaikan melalui Pak Camat, Pak Kades untuk mau wanti-wanti masyarakatnya tidak melakukan hal-hal yang bisa berpotensi menimbulkan kebakaran hutan," ujarnya. (eyf)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.