Kabupaten Bogor, Jawa Barat (ANTARA) - Badan Narkotika Nasional (BNN) RI menegaskan perang melawan narkotika tidak boleh baru dimulai ketika sudah ada individu yang telah menjadi korban.

Kepala BNN RI Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menyatakan perang tersebut harus dimulai jauh dari sebelumnya, yakni dari keluarga, sekolah, lingkungan tempat anak bertumbuh, dan kemampuan untuk berkata tidak terhadap narkotika atau say no to drugs.

"Karena itu lah BNN RI menginisiasi program Ananda Bersinar atau Aksi Nasional Antinarkotika dimulai dari Anak Bersih Narkoba," kata Suyudi dalam acara Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2026 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Dia menjelaskan program tersebut merupakan transformasi strategi pencegahan BNN yang menempatkan anak sebagai subjek utama perlindungan dengan membangun karakter, ketahanan diri, kecakapan hidup, literasi bahaya narkotika serta memperkuat peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.

BNN merancang program Ananda Bersinar agar berjalan searah dengan agenda besar pembangunan sumber daya manusia yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto.

Sebab, kata dia, anak yang sehat secara fisik, tercukupi gizinya serta memperoleh pendidikan yang baik, tetapi tidak memiliki daya tangkal terhadap narkotika tetap berada dalam risiko kehilangan masa depannya.

Untuk memperkuat ekosistem pencegahan narkotika, BNN bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mendorong Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) ke dalam proses pembelajaran melalui mata pelajaran yang telah ada.

Selain itu, Suyudi menyampaikan pihaknya juga menginisiasi penguatan gerakan kepanduan melalui Satuan Karya Pramuka Anti Narkotika (Saka Antinarkotika), memperluas edukasi berbasis komunitas serta menghadirkan layanan BNN Call Center 184 yang beroperasi 24 jam sebagai kanal informasi dan pengaduan masyarakat.

"Langkah ini dilakukan dengan menjaga kerahasiaan identitas pelapor tentunya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," ujarnya.