Sering Iseng Mengopek Kuku? Ternyata Bukan Sekadar Kebiasaan Sepele
Muhammad Fatoni July 23, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM-  Sedikit kulit yang terkelupas di samping kuku sering kali terasa mengganggu. 

Bukannya dipotong, banyak orang justru refleks menariknya menggunakan jari yang lain. 

Awalnya mungkin hanya satu bagian kecil.

Namun setelah berhasil dilepas, muncul keinginan untuk menarik bagian berikutnya hingga tanpa sadar kulit di sekitar kuku semakin robek, terasa perih, bahkan berdarah.

Ada yang melakukannya saat mengerjakan tugas, membaca buku, menonton film, mengikuti rapat, hingga menunggu seseorang. 

Bahkan, tidak sedikit yang baru sadar setelah melihat ujung jarinya memerah atau mulai terasa nyeri.

Karena sering dilakukan begitu saja, banyak orang menganggapnya sekadar kebiasaan iseng. 

Padahal, menurut berbagai penelitian, perilaku mengopek kuku atau kulit di sekitarnya dapat berkaitan dengan cara seseorang merespons rasa bosan, cemas, stres, maupun ketegangan. 

Meski demikian, bukan berarti semua orang yang melakukannya mengalami gangguan psikologis.

Mengapa Kulit di Sekitar Kuku Sering Menjadi Sasaran?

Jika diperhatikan, bagian yang paling sering dikopek bukanlah kuku, melainkan kulit tipis di samping atau pangkal kuku. 

Dalam dunia medis, kulit kecil yang terkelupas ini dikenal sebagai hangnail.

Hangnail bisa muncul karena berbagai hal, mulai dari kulit yang kering, terlalu sering mencuci tangan, paparan sabun atau cairan pembersih, hingga kebiasaan menggigit kuku. 

Saat ada sedikit kulit yang mencuat, banyak orang merasa terganggu dan ingin segera menghilangkannya.

Masalahnya, kulit yang ditarik dengan tangan sering kali tidak putus di bagian yang seharusnya. 

Tarikan tersebut justru dapat merobek jaringan kulit yang masih sehat sehingga menimbulkan luka kecil. 

Ketika luka mulai mengering, biasanya muncul lagi bagian kulit yang kasar. Kondisi ini membuat seseorang terdorong untuk mengopeknya kembali sehingga kebiasaan tersebut seperti tidak ada habisnya.

Inilah alasan mengapa banyak orang merasa sudah berniat berhenti, tetapi beberapa jam atau beberapa hari kemudian kembali melakukan hal yang sama.

Mengapa Rasanya Sulit Berhenti?

Banyak orang mengira kebiasaan ini hanya terjadi karena tangan sedang iseng. 

Padahal, menurut penelitian, ada proses psikologis yang membuat perilaku tersebut terasa "memuaskan".

Saat seseorang berhasil mengelupaskan bagian kulit yang dianggap mengganggu, otak dapat memberikan sensasi lega untuk sesaat. 

Rasa lega inilah yang membuat dorongan untuk mengopek kembali muncul di kemudian hari. 

Polanya hampir seperti lingkaran: muncul kulit yang terasa kasar, muncul keinginan untuk mengopek, terasa lega setelah berhasil menariknya, lalu beberapa waktu kemudian keinginan itu datang lagi.

20262307- Pola berulang
ILUSTRASI- Pola berulang mengopek kulit di sekitar kuku yang sulit dihentikan. (Generated by ChatGPT)

Itulah sebabnya, sebagian orang mengatakan bahwa mereka sebenarnya tahu kebiasaan tersebut bisa membuat luka. 

Namun, tangan seolah bergerak sendiri sebelum sempat berpikir untuk menghentikannya.

Tidak Selalu Dipicu Stres
Banyak yang mengira kebiasaan mengopek kuku hanya muncul ketika seseorang sedang mengalami stres berat. 

Kenyataannya, pemicunya bisa jauh lebih beragam.

Menurut penelitian, perilaku ini sering muncul saat seseorang merasa bosan, sedang berpikir keras, gugup, cemas, atau justru ketika sedang sangat berkonsentrasi. 

Misalnya saat mengerjakan tugas, belajar menjelang ujian, bermain gim, menonton serial favorit, hingga berbicara melalui telepon.

20262307- Ilustrasi
ILUSTRASI- Kebiasaan mengopek kuku atau kulit di sekitar kuku saat beraktivitas tanpa disadari. (Generated by ChatGPT)

Dalam situasi seperti itu, tangan cenderung mencari aktivitas yang dilakukan secara berulang tanpa memerlukan banyak perhatian. 

Karena dilakukan hampir otomatis, banyak orang baru menyadari kebiasaannya setelah melihat kulit di sekitar kuku mulai terluka.

Meski cukup umum terjadi, ada perbedaan antara kebiasaan yang masih tergolong ringan dengan perilaku yang mulai sulit dikendalikan. 

Lalu, kapan kebiasaan mengopek kuku dianggap masih wajar, dan kapan kondisi tersebut bisa berkaitan dengan gangguan psikologis? 

Jika kebiasaan mengopek kuku atau kulit di sekitarnya terus dilakukan hingga sulit dihentikan, perilaku tersebut ternyata memiliki penjelasan dalam dunia psikologi.

Menurut penelitian, kebiasaan ini termasuk ke dalam kelompok Body-Focused Repetitive Behaviors (BFRBs), yaitu perilaku berulang yang berfokus pada bagian tubuh. 

Selain mengopek kulit di sekitar kuku, kelompok BFRBs juga mencakup kebiasaan menggigit kuku, menarik rambut, menggigit bagian dalam pipi, hingga mengopek kulit di bagian tubuh lainnya.

Meski sama-sama termasuk BFRBs, tidak semua kebiasaan mengopek kuku memiliki kondisi yang sama.

Onychotillomania dan Dermatillomania, Apa Bedanya?

Jika seseorang berulang kali mengorek, mencabut, atau merusak kukunya sendiri hingga bentuk kuku berubah atau rusak, kondisi tersebut dikenal sebagai onychotillomania.

Sementara itu, jika yang lebih sering dikopek adalah kulit di sekitar kuku atau bagian tubuh lain hingga menimbulkan luka, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan excoriation disorder atau dermatillomania

Gangguan ini telah diakui dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) sebagai salah satu gangguan yang berkaitan dengan perilaku berulang yang sulit dikendalikan.

Namun, penting dipahami bahwa istilah tersebut bukan untuk digunakan mendiagnosis diri sendiri. 

Seseorang baru dapat didiagnosis mengalami gangguan apabila perilaku tersebut berlangsung terus-menerus, sulit dihentikan meski sudah berusaha, menimbulkan luka berulang, serta mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca juga: Sering Disamakan, Ternyata Memuji dan Mengapresiasi Anak Itu Berbeda

Iseng atau Perlu Diwaspadai?

Lalu, bagaimana membedakan kebiasaan yang masih tergolong wajar dengan kondisi yang perlu mendapat perhatian?

Sesekali mengopek kulit di sekitar kuku umumnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. 

Banyak orang pernah melakukannya, terutama ketika ada kulit yang mengelupas atau terasa mengganggu. Biasanya, kebiasaan tersebut masih mudah dihentikan dan tidak menyebabkan luka yang berarti.

Sebaliknya, kondisi mulai perlu diperhatikan ketika seseorang terus mengopek kulit meski tahu jari sudah terluka. 

Dorongan untuk melakukannya tetap muncul berulang kali, bahkan setelah muncul rasa sakit atau darah. 

Tidak sedikit yang mengaku merasa menyesal setelah selesai mengopek, tetapi beberapa saat kemudian kembali mengulanginya.

Selain menyebabkan nyeri, kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko infeksi karena kulit yang terbuka menjadi lebih mudah dimasuki bakteri. 

Pada beberapa kasus, luka yang terus-menerus muncul dapat membuat kulit di sekitar kuku menebal, meninggalkan bekas, bahkan memengaruhi pertumbuhan kuku apabila kerusakan terjadi dalam waktu lama.

Dampaknya bukan hanya pada kondisi fisik. 

Sebagian orang merasa malu memperlihatkan tangannya karena kulit di sekitar kuku tampak rusak. 

Ada pula yang sengaja menyembunyikan jari saat berbicara dengan orang lain atau merasa kurang percaya diri ketika harus berjabat tangan maupun difoto.

Bisakah Kebiasaan Ini Dikurangi?

20262307- stress ball
ILUSTRASI- Mengalihkan dorongan mengopek kuku dengan stress ball. (Generated by ChatGPT)

Kabar baiknya, kebiasaan mengopek kuku bukan berarti tidak bisa diatasi. 

Langkah pertama yang paling penting adalah menyadari kapan dorongan tersebut biasanya muncul.

Cobalah memperhatikan situasi yang sering memicu kebiasaan itu, misalnya saat belajar, bekerja di depan laptop, menonton film, atau ketika merasa cemas. 

Dengan mengenali pemicunya, seseorang akan lebih mudah mencari pengalihan sebelum tangan mulai mengopek kulit.

Beberapa cara sederhana yang juga dapat dicoba antara lain menjaga kelembapan kulit di sekitar kuku dengan pelembap atau cuticle oil, memotong hangnail menggunakan gunting kuku bersih daripada menariknya dengan tangan, serta mengalihkan gerakan tangan menggunakan benda seperti stress ball atau fidget toy.

Apabila kebiasaan tersebut sudah sulit dikendalikan, psikolog atau psikiater dapat membantu melalui terapi perilaku, salah satunya Habit Reversal Training (HRT).

Terapi ini bertujuan membantu seseorang mengenali pemicu kebiasaan, lalu melatih respons pengganti yang lebih aman ketika dorongan itu muncul.

Kebiasaan mengopek kuku memang terlihat sederhana, bahkan sering dianggap sekadar iseng. 

Namun, jika dilakukan berulang kali hingga menimbulkan luka dan sulit dihentikan, perilaku tersebut bisa menjadi sinyal bahwa tubuh sedang berusaha merespons rasa tidak nyaman dengan caranya sendiri.

(MG Mayumi Cinta Mahesi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.