TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO- Di usianya yang baru 10 tahun, Julung Bagaskoro sudah lihai dalam mementaskan pertunjukan wayang.
Julung merupakan siswa kelas 4 SDN 2 Sudagaran di Kabupaten Banyumas.
Dia merupakan dalang cilik dari Sanggar Seni dan Budaya Oemah Gamelan di Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas.
Sosok Julung menjadi representasi semangat Hari Anak Nasional 2026.
Keterampilan Julung dalam mendalang tidak lepas dari peran orangtua yang memberikan support, sebagaimana tema Hari Anak Nasional 2026 yaitu 'Sayang Anak, Lindungi Anak dan Bangun Masa Depan.'
Orang tuanya, Eko Kuntowibowo (41) dan Larasati Warihasih (41), merupakan pegiat seni karawitan.
Laras bercerita, putranya Julung menyukai wayang sejak usia 5 tahun, saat duduk di PAUD.
Di usia itu dia sudah memainkan jenis fragmen atau peperangan.
Anaknya tertarik dengan wayang karena sering melihat pelatihan-pelatihan dalang.
"Terus sering pegang wayang juga, akhirnya tertarik ingin belajar lebih jauh. Yang membimbing ada kakeknya yang juga dalang dan pelatihnya," katanya kepada tribunbanyumas.com, Kamis (23/7/2026).
Sebagai orang tua, menurut Laras, dia dan suaminya Eko selalu mensupport apa yang sedang disukai putranya.
Dia mencontohkan, putranya sering menginginkan sosok wayang tertentu, maka akan dipesankan.
Baca juga: Harga Terbaru Emas Antam Naik Hari Ini Kamis 23 Juli 2026
Dalam proses pembelajaran, putranya juga sempat mengalami kesusahan mempelajari antawicara, yaitu menguasai suara-suara tokoh perwayangan, seperti Gatotkaca.
"Jadi saat itu yang dipentaskan baru hanya fragmen, tapi kami tetap support. Sekarang sudah bisa suara Gatotkaca, lakok ini, lalu cerita seperti ini, dia sudah tahu," ungkapnya.
Laras mengatakan, putranya sudah menguasai beberapa lakon, seperti Gatotkaca Lahir, Bima Bungkus dan wayang golek.
Setiap bulannya ada undangan pentas, bulan Juni 2 pentas, Juli 2 pentas, dan Agustus 3 pentas.
"Putra kami juga sering mengikuti event, seperti lomba dalang cilik, tapi masih lingkup Kabupaten Banyumas. Terakhir, juara harapan 1," jelasnya.
Sementara itu, Julung Bagaskoro bercerita, awal mula dia menyukai wayang saat melihat embahnya punya wayang.
Saat itu, dia juga sering melihat ibunya memainkan wayang.
Dia meminta embahnya untuk mengajarinya wayang.
"Ayah tahu, saat itu dibelikan wayang satu kotak," katanya.
Julung mengatakan, saat mendalang yang dirasakannya adalah senang, tetapi terkadang juga merasa bingung.
Baginya yang cukup susah adalah sulukan, karena seperti puisi tapi ada nadanya.
"Saya senang saat mendalang. Beberapa pentas yang pernah, seperti mendalang di alun-alun dan acara perpisahan sekolah," jelasnya. (fba)