Oleh: Mulawarman
Wartawan Senior Makassar
TRIBUN-TIRMU.COM - Kamis, 23 Juli 2026, menjadi satu lagi catatan penting dalam perjalanan dunia usaha dan media di Sulawesi Selatan.
Pendiri Bosowa, Aksa Mahmud, mengambil alih mayoritas saham PT Fajar Indonesia Corporindo, penerbit Harian Fajar, setelah mengakuisisi saham yang sebelumnya dimiliki Grup Jawa Pos.
Di usia yang telah melewati delapan dekade, tokoh kelahiran Barru itu kembali memperlihatkan satu hal: tidak semua keputusan harus selesai pada hitung-hitungan bisnis.
Ada sejarah yang perlu dijaga. Ada persahabatan yang perlu dihormati. Ada pula identitas yang tidak seharusnya dilepaskan begitu saja.
Fajar bukan sekadar perusahaan media.
Bagi Sulawesi Selatan, Fajar telah menjadi bagian dari perjalanan daerah ini. Ia merekam sejarah, mengawal pembangunan, mengkritik kebijakan, sekaligus menjadi salah satu rujukan utama informasi masyarakat Indonesia Timur.
Graha Pena yang menjulang di Jalan Urip Sumoharjo menjadi salah satu simbol perjalanan panjang itu.
Saya mengenal Fajar sejak masih menjadi wartawan kampus di Universitas Hasanuddin. Senior-senior di koran kampus beberapa kali meminta saya datang ke kantor Fajar untuk berbagai urusan. Termasuk mengantar kader-kader pers mahasiswa yang kemudian dipersiapkan menjadi wartawan Fajar maupun media nasional di Makassar.
Ketika itu, redaksi Fajar masih berkantor di Percetakan Bakti Baru, Jalan Ahmad Yani, Makassar.
Waktu berlalu. Fajar tumbuh. Kantornya berpindah. Graha Pena kemudian berdiri dan menjadi salah satu ikon Kota Makassar.
Sampai hari ini, saya pun masih kerap datang ke sana.
Karena itu, akuisisi yang dilakukan Aksa Mahmud menarik untuk dibaca bukan semata sebagai sebuah transaksi bisnis.
Ada sesuatu yang lebih jauh di belakangnya.
Aksa Mahmud seperti kembali mengambil peran sebagai penjaga sebuah identitas yang telah lama menjadi bagian dari sejarah dan harga diri masyarakat Sulawesi Selatan.
Bukan yang Pertama
Ini bukan pertama kalinya Aksa Mahmud mengambil keputusan yang bersentuhan dengan simbol kebanggaan Sulawesi Selatan.
Pada 2015, melalui Bosowa Sport Indonesia, Aksa Mahmud mengambil alih mayoritas saham PSM Makassar.
Saat itu, klub sepak bola tertua di Indonesia tersebut sedang menghadapi berbagai persoalan setelah bergabung dengan LPI. Sejumlah tawaran datang dari luar. Bahkan sempat muncul kemungkinan PSM berpindah ke kota lain.
Dengan kata lain, PSM nyaris tinggal cerita bagi Makassar.
Padahal keterlibatan Bosowa dalam perjalanan PSM telah berlangsung jauh sebelumnya. Sejak 2003, melalui Erwin Aksa dan Sadikin Aksa, Bosowa ikut terlibat dalam pengelolaan PSM setelah estafet dari Pemerintah Kota Makassar.
Jika semuanya dihitung dengan kalkulator bisnis, mempertahankan PSM tentu bukan pilihan sederhana.
Apalagi hingga hari ini PSM belum memiliki stadion representatif di Kota Makassar.
Namun yang dipertahankan bukan sekadar sebuah klub sepak bola.
PSM adalah sejarah. PSM adalah kebanggaan. PSM adalah bagian dari harga diri masyarakat Sulawesi Selatan.
Semangat yang sama tampaknya kembali terlihat dalam keputusan Aksa Mahmud mengambil alih saham Fajar.
Usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Aksa Mahmud menjelaskan alasan di balik keputusannya.
“Awalnya saya meminta Agus untuk mengambil saham Jawa Pos, tetapi karena tidak memungkinkan, saya memutuskan maju sendiri. Tujuannya sederhana, agar Fajar tetap berada dalam suasana kekeluargaan dan semangat tiga pendiri tetap terjaga.”
Ia kembali menegaskan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan sejarah dan kesinambungan perusahaan.
“Supaya tetap kita pertahankan trio pendiri daripada Fajar Indonesia Corporindo, itu historisnya. Saya bicara dengan Agus, dia tidak bisa, supaya jangan lepas, saya terpaksa mengambil sahamnya Jawa Pos dan Bu Dorothea Samola.”
Dari pernyataan itu, saya menangkap satu pesan sederhana.
Pak Aksa tidak sekadar menjaga kepemilikan saham.
Ia sedang menjaga warisan sejarah dan persahabatan yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Di titik inilah PSM dan Fajar seperti bertemu.
PSM berada di lapangan sepak bola. Fajar berada di ruang redaksi. Dua institusi yang berbeda, tetapi keduanya telah tumbuh melampaui fungsi dasarnya.
PSM bukan lagi sekadar kesebelasan.
Fajar bukan lagi sekadar perusahaan media.
Keduanya telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam bahasa Pierre Bourdieu, keduanya telah memiliki kapital simbolik: nilai yang lahir bukan semata dari aset ekonomi, melainkan dari sejarah, pengakuan, kebanggaan, dan kepercayaan yang diberikan masyarakat selama bertahun-tahun.
Karena itu, ketika Aksa Mahmud mempertahankan PSM dan kini mengambil alih saham Fajar, modal ekonomi seperti sedang digunakan untuk menjaga modal simbolik.
Pada PSM, yang dijaga adalah kebanggaan sepak bola.
Pada Fajar, yang dijaga adalah sejarah sebuah institusi pers.
Ada pula simbol menarik di Kota Makassar.
Kalla Tower, Menara Bosowa, dan Graha Pena berdiri sebagai tiga menara yang selama ini menjadi bagian dari wajah kota.
Ketiganya bukan sekadar bangunan tinggi. Di belakangnya terdapat perjalanan panjang dunia usaha, media, persahabatan, dan pembangunan Sulawesi Selatan.
Tentu hanya Aksa Mahmud yang mengetahui secara utuh pertimbangan bisnis di balik akuisisi ini.
Namun dari sudut pandang saya, langkah tersebut memperlihatkan sebuah pola yang menarik.
Ada nilai yang tampaknya selalu ditempatkan di depan: menjaga sesuatu yang telah menjadi bagian dari identitas Sulawesi Selatan.
Di dalam keputusan terhadap Fajar, terdapat pula penghormatan terhadap sejarah persahabatan dengan almarhum Alwi Hamu, salah seorang tokoh yang membangun dan membesarkan Harian Fajar.
Karena itu, sekali lagi, ini bukan sekadar transaksi bisnis.
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, langkah Pak Aksa dapat dimaknai sebagai upaya menjaga agar salah satu institusi yang telah menjadi bagian dari sejarah daerah ini tetap berada di tangan mereka yang memahami perjalanan dan nilai yang dikandungnya.
Pada akhirnya, mungkin di situlah cara Aksa Mahmud memandang sebuah warisan.
Tidak semua yang bernilai harus dilepas ketika harganya tinggi.
Ada yang justru harus dijaga karena nilainya tidak bisa dihitung dengan uang.(*)