Prabowo Sindir "Suporter Gendeng" yang Prediksi Indonesia Kolaps: Jangan Turunkan Moril Dong
Acos Abdul Qodir July 24, 2026 12:25 AM

 

SINDIRAN PRABOWO - Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Puncak Harlah ke-28 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026). Prabowo merespons prediksi Indonesia kolaps dengan analogi "suporter gendeng" dan meminta publik tidak menurunkan moril saat negara menghadapi tantangan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto merespons pihak-pihak yang berulang kali memprediksi Indonesia akan mengalami kebangkrutan atau kolaps.

Prabowo menyebut narasi tersebut sebagai upaya yang dapat memengaruhi keyakinan masyarakat terhadap kondisi negara.

Ia mengatakan prediksi Indonesia akan kolaps yang terus muncul setiap bulan tidak terbukti terjadi.

"Jadi, saudara-saudara kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps. Bulan April akan kolaps. Eh April lewat nggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps. Bulan Mei lewat nggak. Bulan Juni akan kolaps. Bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps," ujar Prabowo.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam acara Puncak Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Analogi Suporter Sepak Bola
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menggunakan analogi pertandingan sepak bola untuk menggambarkan sikap masyarakat terhadap kondisi bangsa.

Ia mengatakan sebuah tim yang sedang bertanding membutuhkan dukungan dari suporter, bukan dorongan yang dapat melemahkan mental pemain.

"Kita kan sebagai suporter ayo ayo maju. Aduh. Tapi jangan menurunkan moril dong, orang lagi bertanding di situ," kata Prabowo.

Prabowo kemudian mempertanyakan pihak yang terus memberikan prediksi buruk terhadap negaranya sendiri.

"Ini suporter macam apa. Gendeng ya, gendeng kali ya," ujar Prabowo.

Kritik, Efisiensi Anggaran, dan Tata Kelola Negara

Prabowo menyampaikan pernyataan tersebut saat pemerintah tengah menjalankan kebijakan efisiensi anggaran dan mengarahkan hasil penghematan untuk sejumlah program prioritas.

Ia sebelumnya menyebut pemerintah menghadapi berbagai tantangan dalam mengelola negara, termasuk tekanan ekonomi global dan kebutuhan memperbaiki tata kelola anggaran.

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung adanya kritik dari sejumlah pengamat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) terhadap kebijakan pemerintah.

Ia menilai kritik tetap diperlukan, namun masyarakat perlu melihat kondisi negara secara menyeluruh.

Pemerintah, kata dia, terus berupaya menjalankan program dengan memanfaatkan anggaran secara lebih efektif.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.