TRIBUNJAKARTA.COM - Menjelang gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta berharap kontestasi pemilihan pimpinan tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dapat berjalan secara sejuk, damai, dan bermartabat.
Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Samsul Ma'arif mengimbau kepada seluruh pihak dan figur yang bakal maju untuk menjaga suasana tetap kondusif.
Ia meminta agar forum tertinggi NU tersebut tidak diwarnai oleh aksi saling jegal maupun kampanye hitam atau black campaign.
"Antar calon juga jangan saling mengganjal atau saling menjegal, apalagi black campaign," ujar Samsul saat dihubungi TribunJakarta.com, Jumat (24/7/2026).
Samsul mengingatkan para tokoh yang bermunculan di bursa pimpinan PBNU pada dasarnya adalah saudara dan kader-kader terbaik yang dimiliki Nahdlatul Ulama.
Oleh sebab itu, persaingan dalam Muktamar hendaknya dimaknai sebagai bagian dari satu kesatuan utuh organisasi.
"Karena semua ini saudara kita. Ini bukan lawan, bukan musuh, tetapi satu kesatuan," tegasnya.
Sementara itu, saat ditanya mengenai nama atau sosok pimpinan yang didukung oleh PWNU DKI Jakarta, Samsul menegaskan pihaknya saat ini belum dan tidak bermaksud membicarakan figur perorangan.
Menurutnya, PWNU DKI Jakarta lebih memilih untuk mendorong pembangunan serta perbaikan sistem organisasi NU ke depan agar menjadi lebih baik lagi.
"Kita memang lagi concern NU DKI itu tidak membicarakan tentang person. Lebih banyak bagaimana membangun sistem, sistem yang terbaik buat organisasi NU ke depan," kataya.
"Jadi saya tidak membicarakan person karena saya yakin banyak putra terbaik NU yang punya kapabilitas dan punya kemampuan dalam memimpin NU.
DKI lebih mengutamakan bagaimana NU ke depan ini agar lebih baik lagi, karena kami meyakini tokoh-tokoh NU terbaik itu sudah sangat banyak yang mumpuni," lanjut Samsul.
Samsul mengingatkan pentingnya sosok Ketua Umum PBNU yang bersikap terbuka dan tidak membangun sekat birokrasi dengan para pengurus di tingkat bawah.
Pasalnya, Samsul menyebut PBNU bukanlah lembaga birokrasi pemerintahan.
Selain itu, integritas dan kapabilitas juga menjadi fondasi utama sebagai syarat untuk memimpin PBNU.
Dari sisi integritas, calon pemimpin PBNU harus benar-benar murni berkhidmat dan mementingkan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun keluarga.
Ia juga menegaskan agar jabatan Ketum PBNU tidak dimanfaatkan sebagai pijakan untuk mengincar posisi politik tertentu.
"Integritas itu komitmen mementingkan perkumpulan di atas kepentingan pribadi dan keluarga. Murni khidmat, tidak dalam rangka mencari jabatan atau menjadi kepanjangan dari jabatan seperti presiden atau wakil presiden. Itu menurut saya integritas," jelasnya.
Adapun dari sisi kapabilitas, PWNU DKI Jakarta berharap Ketum PBNU mendatang memiliki wawasan yang luas serta jaringan hubungan internasional yang kuat untuk memperluas peran NU di tingkat global.
"Yang nomor dua kapabilitas tentu bahwa punya wawasan internasional. Punya hubungan internasional," ujar Samsul.
Baca juga: NU Klaim Teknologi Bionutrient Mampu Dongkrak Hasil Panen Padi hingga 106 Persen
Baca juga: Harlah ke-92, GP Ansor Napak Tilas Sejarah Ulama NU dengan Gowes dari Bangkalan ke Jombang
Baca juga: Menjemput Takdir Sejarah: Sinyal Kuat Cirebon sebagai Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU