Menjadi Saksi Sejarah Detik-detik Timor Leste Merdeka dari Indonesia
Moh. Habib Asyhad July 24, 2026 03:35 PM

Wartawan foto Harian Kompas menjadi salah satu wartawan yang bertugas di Dili di detik-detik Timor Leste merdeka dari Indonesia.

Penulis: Eddy Hasbi | Tayang di Majalah Intisari edisi Februari 2000 dengan judul "Jadi Saksi Sejarah Lepasnya Timtim"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Setelah 23 tahun menjadi provinsi bungsu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NRKI), Timor Timur lepas dan merdeka dan mengganti nama menjadi Timor Leste. Saat bersejarah itu disaksikan, direkam, dan dikisahkan oleh wartawan foto Harian Kompas, Eddy Hasbi.

Dari dalam pesawat, menjelang mendarat di Bandara Komoro pertengahan Agustus 1999, Dili tak tampak istimewa. Namun begitu memasuki pusat kota, banyak spanduk dan banner bertuliskan “prootonomi”.

Poster Presiden Dewan Pertahanan Nasional Rakyat Timor Timur, Kay Rala Xanana terbentang menantang. Berbagai merek mobil jip buatan luar negeri dengan tulisan UNAMET (misi penjaga perdamaian PBB yang dibentuk pada 11 Juni 1999, red.) berseliweran di jalan kota Dili yang sempit. Dili tak seperti dulu lagi.

Saat kampanye prootonomi, konvoi truk dan kendaraan roda dua memacetkan jalan. Merah Putih berkibar.

Milisi Aitarak (milisi pro-Indonesia yang beroperasi di Timor Timur pada akhir 1990-an dan dipimpin oleh Eurico Guterres, red.) berseragam hitam turut menjaga jalannya kampanye. Tak ada kerusuhan, meski hampir setiap malam masih terdengar letupan senjata api.

Lain yang ditempuh kelompok pro-kemerdekaan yang dimotori Conselho Nacional da Resistencia Timorense (CNRT). Mereka tidak mengerahkan massa, melainkan memilih jalur kampanye door to door, mendatangi rumah-rumah, dan memasang poster dengan cara simpatik.

CNRT sepertinya diam, namun sesungguhnya melakukan gerakan tersembunyi. Dugaan itu perlahan mulai terjawab setelah memasuki markas Falintil (sayap militer Fretilin, red.) di Uai mori, Viqueque, 20 Agustus 1999, saat diadakan upacara peringatan ulang tahunnya yang ke-24.

Ribuan orang hadir. Ada yang mengenakan kaos oblong bertuliskan “prootonomi”. Mantan guru dan camat juga hadir.

Sebagian dari mereka rasanya ikut pula dalam kampanye prootonomi. Melihat itu semua, saya mulai merasakan bahwa kekalahan di pihak prootonomi akan terjadi.

Nyaris terserempet peluru

Kampanye putaran terakhir prootonomi 25 Agustus 1999 diwarnai bentrokan. Kejadian bermula ketika peserta kampanye prootonomi salah jalur memasuki kawasan Becora, basis prokemerdekaan.

Meski terdengar rentetan tembakan dari senjata rakitan, tak ada rasa gentar dari kelompok pro-kemerdekaan. Ini membuat suasana di perempatan Jalan 15 Oktober, Becora, semakin tegang hingga menjelang Maghrib.

Kelompok prootonomi yang menggunakan sepeda motor lari tunggang langgang dikejar kelompok pro-kemerdekaan. Tanpa diduga sepeda motor teman satu media turut dibakar oleh kelompok pro-kemerdekaan yang mengira motor itu milik prootonomi.

Untuk mendapatkan gambar yang bagus, saya berusaha maju ke depan di antara kedua kelompok yang bertikai sambil berlindung di balik sebatang pohon. Wartawan foto Antara melompat ke kali kering. Saya pikir dia tertembak.

Ketika menoleh ke samping dan berteriak menanyakan keadaannya, saat itu juga desingan peluru mengenai kulit pohon tempat saya sembunyi. Hampir saja!

Dari seberang kali, wartawan foto Reuters berteriak. “Ediii... lari... posisimu sudah paling depan, mundur…!!!”

Saya baru sadar setelah melihat sekeliling tak ada lagi orang. Padahal saya tidak mengenakan rompi antipeluru, karena saya pinjamkan kepada rekan wartawan wanita.

Dari jarak sepuluh meter, beberapa orang sudah mengacungkan senjata ke arah saya. Tanpa basa-basi saya ambil langkah seribu secara zig-zag.

Bertubi-tubi senjata meletup. Tuhan Maharahim, saya selamat dan berlindung di belakang petugas.

Sementara saya mengatur napas, pasukan Kontingen Lorosae dari kesatuan Brimob kewalahan melerai kelompok yang bertikai. Tanpa diduga, seorang pemuda berlari sambil menggenggam batu menuju ke belakang petugas. Dia diteriaki sebagai provokator.

Pemuda bernama Bernadio Guterres itu bersikeras ingin melempari kelompok prootonomi, namun dicegah petugas. Tiba-tiba terdengar rentetan tembakan ke atas dari petugas.

Begitu tembakan berhenti, sekitar sepuluh meter di belakang petugas, Bernadio terkapar berlumuran darah. Terhenyak, saya merekam korban yang terkapar dan tak bernyawa itu.

Di emperan toko, sekitar 300-an meter dari situ, saya duduk termenung bersama beberapa teman seprofesi. Lalu seorang teman bercerita bahwa rekan sekantor saya juga menjadi korban tembak dalam peristiwa tadi. Berita itu membuat pikiran saya tambah kacau.

Hari mulai gelap. Saya kembali ke tempat kejadian perkara (TKP). Beberapa pemuda setempat tampak sibuk memasang batu dan lilin di tempat korban tadi ditembak.

Dari informasi mereka, sahabat saya ternyata sudah dibawa ke rumah sakit. Saya agak tenang.

Hari semakin gelap, tak ada seorang pun di jalanan. Pintu rumah di sekitar TKP terkunci rapat.

Saya berjalan meninggalkan tempat itu. Di kejauhan tampak dua pemuda naik sepeda motor dan membawa senjata rakitan laras panjang. Saya lekas bersembunyi di balik tembok pagar rumah penduduk, ketika motor itu melintas.

Diancam lewat telepon gelap

30 Agustus 1999, ratusan ribu rakyat mendatangi tempat pemungutan suara. Suasana kota tampak tenang, semua toko tutup. Tak ada kerusuhan seperti diperkirakan banyak orang.

Namun dua hari kemudian suasana Dili kembali tegang. Jenazah Flasidio Ximenes, anggota kelompok pro-integrasi yang menjadi korban kerusuhan, diarak menuju makam pahlawan integrasi di sebelah barat Dili.

Ratusan kendaraan mengiringi jenazah. Di bawah bendera Merah Putih dengan khidmat jenazah dimasukkan ke liang lahat.

Suhu politik di Dili memanas. Sekitar pukul 17.00 kerusuhan kembali melanda. Kantor Unamet menjadi sasaran.

Petugas membarikade lokasi sehingga wartawan tidak bisa masuk ke daerah itu. Di kejauhan terdengar tembakan dan puluhan orang berhamburan ke arah petugas. Karena mereka tampak beringas, segerombolan wartawan di belakang petugas memilih lari tunggang langgang.

Ancaman terhadap wartawan bukan cuma itu. Ketika baru dua hari di Dili, saya menerima telepon gelap yang menuduh saya pro kelompok kemerdekaan. Namun tak saya pedulikan.

Sebetulnya ini bukan yang pertama kali. Ketika meliput penjelasan Uskup Belo tentang sebuah artikel di Majalah Der Spiegel, tahun 1997, saya juga menerima ancaman lewat telepon gelap.

Juga saat meliput kelompok milisi Besi Merah Putih Februari 1999, lewat secarik kertas bertuliskan “janggan jual timtim untuk kekayaan pribadi” ("janggan" itu maksudnya "jangan") yang diselipkan di pintu depan rumah rekan satu media. Waktu itu, hubungan telepon di rumah yang biasa untuk mengirim berita pun putus.

Kali ini saya dan teman semedia diancam dengan target mati. Semula kami abaikan, tapi buntutnya malahan mendapatkan telepon gelap yang memerintahkan kami untuk sesegera mungkin keluar dari Dili. Maka malam itu juga kami berkemas.

Dengan dikawal ketat oleh rekan dari Departemen Luar Negeri (Deplu), sampai juga kami di Bandara Komoro. Ternyata sebagian besar wartawan Indonesia sudah berada di sana, siap evakuasi.

Seorang teman mengatakan memang ada yang membawa-bawa daftar berisi nama saya. Jadi ancaman tadi cukup serius.

Jarang ketemu nasi

Namun tanggal 26 September 1999, saya ditugaskan lagi ke Dili. Di Bandara Komoro ratusan pasukan Interfet berjaga-jaga.

Berbagai jenis pesawat terlihat di sini. Di landasan helikopter, enam heli Black Hawk milik Australia siap siaga.

Pusat kota Dili sudah sangat berbeda. Sebagian bangunan luluh lantak, hampir tak saya kenali lagi. Pasukan Interfet bertebaran di sudut-sudut kota.

Asap hitam membumbung ke langit. Bank Danamon di timur kantor Gubernur terbakar.

Dua panser Interfet meluncur kencang ke tempat kejadian. Dengan posisi siap tempur, mereka mencari perusuh yang membakar gedung itu. Gerak-gerik pasukan Interfet dari Australia itu malah menjadi tontonan menarik warga.

Di pelabuhan Dili, ratusan pasukan TNI tampak santai dan dijaga Interfet (satuan tugas penjaga perdamaian multinasional yang dibentuk pada 1999 untuk menghentikan kekerasan dan memulihkan keamanan di Timor Timur yang dipimpin oleh Australia di bawah mandat PBB, red.).

Mereka sedang menunggu kapal seiring dengan penarikan pasukan TNI dari Tanah Lorosae. Keesokan harinya, di Makorem Dili, berlangsung serah terima Komando Pengendalian (Kodal) Penguasa Darurat Militer dari Panglima PDM Mayjen Kiki Syahnakri kepada Ketua Interfet Mayjen Peter Cosgrove.

Sayang upacara itu tertutup bagi wartawan asing. Pihak TNI membentuk Indonesian Task Force in East Timor (Itfet), sebagai penghubung.

Tanggal 15 Oktober 1999 kembali saya mendapat kesempatan ke Dili. Tapi kali ini melalui jalur Darwin, Australia, dan mendapat rekomendasi dari Interfet. Saya ditempatkan di bekas Hotel Turismo.

Bangunan hotel masih utuh meski hampir semua pintu kamar rusak dan fasilitas seadanya.

Harga kebutuhan pokok setelah kerusuhan membumbung tinggi. Sebungkus rokok yang di Jakarta harganya Rp3.000, di Dili bisa mencapai Rp45 ribu.

Ojek sepeda motor sekali jalan Rp50.000. Maklum, untuk tambal ban satu lubang saja mereka harus membayar Rp30.000 dan harga satu liter bensin Rp10.000.

Apalagi suku cadang kendaraan, benar-benar barang langka, seperti juga minuman kaleng. Kalaupun ada, satu kaleng minuman soda harganya Aus $ 2, dan satu kaleng bir Aus $ 3.

Saya pun jarang dapat menikmati nasi. Interfet hanya menyediakan roti, kentang, daging, pasta, dan masakan Eropa yang membosankan lidah Melayu.

Sepiring nasi baru dapat dinikmati bila mengkonfirmasikan berita di Rumah Tangga Panglima yang menjadi kediaman para petinggi Itfet (satuan tugas militer dan sipil Indonesia yang dibentuk pada 1999 untuk mengatur proses penarikan mundur serta mengamankan peralihan kekuasaan saat Timor Timur lepas dari Indonesia, red.), atau ketika mampir ke rumah Romo Ageng di Balide.

23 Oktober 1999, di bibir pantai depan bekas kantor gubernuran, ratusan warga Timtim mengelu-elukan kapal Lambelu yang mengangkut pengungsi kembali ke Dili. Di kapal wajah-wajah ceria berteriak histeris "Viva Timor Leste," sembari mengacungkan tangan yang membentuk huruf "V" (victory).

Seorang prajurit Interfet dari Australia bahkan meniup alat musik Skotlandia. Satu per satu mereka turun dari kapal.

Sekitar pukul 09.00 waktu setempat, ribuan orang sudah berkumpul di halaman bekas Kantor Gubernur, menanti Presiden CNRT, Kay Rala Xanana Gusmao, berpidato untuk pertama kalinya di Timor Timur setelah bebas.

Ketika saya menerobos kerumunan orang itu, ratusan pasang mata menatap tak suka. Seorang dari mereka mencoba mengadang dan berucap sinis, “Kami tidak suka wartawan Indonesia, yang suka menulis bohong dan sekarang bangsa Indonesia sudah menghancurkan Timtim!”

Untunglah, setelah saya beri penjelasan, mereka bisa menerima dan memberikan jalan sehingga saya bisa memotret peristiwa penting itu.

Ratusan yang hadir terisak ketika Xanana dengan nada sedih mengatakan, “Semua yang terjadi adalah sebuah pengorbanan untuk mencapai kemerdekaan, dan mereka harus menerima kenyataan yang ada dan kembali membangun bumi Loro Sae.”

Timtim lepas

Detik-detik pelepasan Timtim cukup tegang. Setiap detik bisa berubah drastis, tergantung keputusan Jakarta.

Dalam kondisi tak menentu, menit per menit kami harus memantau kondisi lapangan, terutama di sekitar Pantai Farol yang menjadi wilayah kekuasaan TNI dan markas Lintas Udara 700.

30 Oktober 1999 merupakan puncak sejarah lepasnya Timtim dari tangan Indonesia. Sekitar pukul 08.00 pagi saya di depan Gereja Motael, 20-an meter dari perbatasan kekuasaan TNI.

Tak terlihat lagi pasukan Linud 700 menjaga perbatasan itu. Merah Putih juga tak berkibar. Tulisan “You Entry TNI Area” juga sudah hilang.

Saya mencoba lagi masuk ke area itu, karena ingin menghadiri upacara penurunan Bendera Merah Putih di depan markas Linud 700. Lagi-lagi tetap dilarang masuk.

Hati kesal dan kecewa. Apalagi pagi itu saya meninggalkan acara pernikahan sahabat saya di Gereja Dare demi hari bersejarah ini.

Saya tak beranjak dan tetap menunggu perkembangan dari luar area terlarang itu. Menjelang tengah hari satu truk pasukan TNI keluar dari perbatasan.

Massa yang sejak pagi menunggu pengungsi pulang ke Dili berteriak memaki pasukan TNI. Malah ada yang melempari dengan batu.

Pasukan Interfet sibuk menjaga massa agar tidak beringas dan menangkap orang-orang yang diduga melempari TNI.

Dalam kondisi yang tak menentu, saya meluncur ke Bandara Komoro. Di sana anggota TNI dan petugas P4TT dari Deplu sibuk mengangkuti barang untuk segera keluar dari Dili. Kami masuk dan bertemu petinggi Itfet dan Dubes untuk urusan Timtim, Taufik R. Soedarba.

Pesawat Hercules pertama tinggal landas. Sebagian petinggi Itfet yang dikomandani Brigjen (Pol) Jd Sitorus, Wadan Itfet Kolonel (CZI) Suryoprabowo, dan Komandan Keamanan untuk Itfet, Kolonel Sahala Silalahi, serta sejumlah perwira menanti kedatangan Xanana Gusmao yang berjanji akan datang melepas mereka di bandara.

Sekitar pukul 14.30, Xanana Gusmao hadir. Pembicaraan akrab antara perwira Itfet dan Xanana terlihat akrab. Ucapan selamat jalan dan selamat tinggal meluncur dari suasana perpisahan itu.

Paskhas dari TNI-AU sibuk membawa peralatan ke dalam Hercules TNI AU. Mereka sempat berfoto bersama. Di sisi lain, anggota Paskhas berbincang akrab dengan pasukan udara Australia, dan mereka saling jabat tangan.

Pukul 20.00, KRI Teluk Banten merapat di pelabuhan Dili. Ada kecerahan di raut wajah pasukan Linud 700 yang akan ditarik keluar dari Dili.

Pukul 00.00 KRI Teluk Banten meninggalkan pelabuhan. Usai sudah tugas prajurit TNI di Timor Timur dan lepas sudah Bumi Lorosae dari wilayah Indonesia.

Saya berjalan kaki menyusuri jalanan aspal di Dili yang tak berlampu menuju ke penginapan untuk mengirim berita.

Esoknya pukul 15.00, ribuan warga Dili berkumpul di Gereja Motael, menghadiri prosesi Bunda Maria yang diperingati setiap 31 Oktober. Arak-arakan berlangsung khidmat di tengah reruntuhan bangunan kota Dili. Di taman Ucedere depan kediaman uskup, Uskup Belo berpidato dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Tanggal 2 November 1999, pemakaman Santa Cruz ramai dikunjungi warga yang memperingati Hari Arwah. Makam-makam penuh dengan taburan bunga dan nyala lilin.

Saya sempat menengok Taman Makam Pahlawan yang bersebelahan dengan Santa Cruz. Beberapa orang membersihkan salah satu makam kemudian berdoa dan menabur bunga, tampaknya keluarga pejuang integrasi.

Usai sudah tugas jurnalistik kami menjadi saksi pelepasan wilayah Timor Timur dari wilayah Indonesia. Tanggal 4 November 1999, dengan pesawat Hercules pasukan Amerika, kami meninggalkan Dili menuju Darwin, dan selanjutnya ke Jakarta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.