TRIBUNKALTIM.CO - Luca Marini merefleksikan perjalanannya selama memperkuat tim pabrikan Honda di MotoGP.
Meski mengakui bahwa peningkatan kompetitif yang diharapkan pada musim ini belum sepenuhnya terwujud, pembalap asal Italia tersebut tetap memberikan penilaian positif terhadap perkembangan proyek serta proses kerja yang telah dilakukan bersama pabrikan asal Jepang tersebut.
Menurut Marini, proyek MotoGP Honda telah mengalami evolusi yang sangat signifikan sejak kedatangannya, baik dalam hal pengembangan teknis motor maupun metodologi kerja internal pabrikan.
Baca juga: Bukti Pembalap Asia Tidak Sekadar Lewat di MotoGP, Ai Ogura Jadi Ancaman Terbesar Marc Marquez
Marini menegaskan bahwa secara keseluruhan, pengalamannya menunggangi motor Honda memberikan dampak positif terhadap perkembangan kariernya sebagai pembalap profesional.
"Secara keseluruhan, evaluasinya sangat positif. Saya menilai ini adalah pengalaman yang berharga: saya sangat menikmati prosesnya dan merasa telah berkembang pesat sebagai seorang pembalap," ujar Marini saat diwawancarai oleh Moto.it.
Ia tidak memungkiri bahwa proses adaptasinya di awal kepindahan berjalan cukup berat dan dipenuhi berbagai kendala.
"Pada awalnya ini merupakan tantangan yang sangat rumit, tahun pertama terasa sangat sulit. Kami memang cukup menderita, namun melalui kerja keras bersama, dalam waktu singkat kami berhasil membawa paket teknis yang kompetitif ke atas lintasan," jelasnya.
Baca juga: Idemitsu BLU CRU Yamaha Sunday Race Terheboh se-Asia Pasifik, Tak Kalah dengan MotoGP di Mandalika
Kendati berhasil mencatatkan peningkatan teknis, Marini mengakui performa Honda pada musim ini belum mencapai target yang dipatok pada akhir musim lalu.
"Tentu saja, pada musim terbaru ini kami masih kekurangan lompatan besar yang semula kami harapkan. Jika melihat paruh kedua musim lalu, hasil kami konsisten berada di posisi delapan besar. Musim ini saya berharap bisa memulai dari level tersebut untuk menembus posisi lima besar, namun kenyataannya belum sesuai harapan," ungkapnya.
Marini menilai perkembangan pesat dari kompetitor seperti Ducati dan Aprilia menjadi salah satu faktor yang menahan laju progres Honda.
Baca juga: Transfer Kontroversial MotoGP, Gresini Racing Rekrut Joan Mir di Tengah Sorotan Performa Buruk
"Kami memulai sedikit lebih di belakang karena Ducati dan Aprilia juga mengalami peningkatan pesat, hampir setara dengan persentase kemajuan kami. Hal itu menghambat kami untuk menjaga tren kenaikan posisi. Saat ini performa kami mulai stabil, namun menembus posisi sepuluh besar menjadi sangat sulit karena seluruh kontestan tampil sangat kompetitif," tambahnya.
Salah satu aspek yang paling disoroti Marini adalah perubahan signifikan dalam metodologi kerja tim balap Honda.
"Dalam banyak hal kami telah berkembang pesat, terutama pada metode kerja. Dalam dua tahun terakhir, kami berhasil mengubah pendekatan kerja kami ke arah yang tepat," papar Marini.
Baca juga: Dejavu Masa Kejayaan di Honda, Marc Marquez Kembali Bertarung Tanpa Motor Terbaik di MotoGP 2026
Namun, ia juga menyoroti bagaimana karakteristik industri manufaktur di Jepang membuat proses pengembangan komponen berjalan lebih lambat dibandingkan pabrikan Eropa.
"Bekerja dengan pemasok, khususnya dari Jepang, bukan perkara mudah karena adanya perbedaan budaya kerja. Hal ini tidak hanya berlaku pada tim di lintasan, melainkan juga pada bagaimana markas di Jepang berinteraksi dengan para pemasok mereka," katanya.
Ia memberikan contoh nyata mengenai perbedaan alur kerja tersebut:
"Meski terdengar unik, dalam banyak kesempatan Honda hanya diperlakukan sebagai pelanggan biasa oleh perusahaan pemasok, tanpa mendapat prioritas khusus. Hal itu membuat prosesnya memakan waktu lebih lama. Sebagai contoh, pemuatan satu unit swingarm saja bisa membutuhkan waktu hingga beberapa bulan."
Baca juga: MotoGP 2026: Cacat Produksi Mesin Penyebab Motor Pedro Acosta dkk Sering Mogok di Tengah Balapan
Marini turut membandingkan filosofi pengembangan teknis yang diterapkan Honda dengan pendekatan teknik yang mengantarkan Ducati menjadi tolok ukur di kelas utama MotoGP.
"Saya menilai pendekatan Ducati, yang jauh lebih berorientasi pada rekayasa teknik selama beberapa dekade terakhir, memungkinkan pertumbuhan yang sangat cepat dan konsisten dari tahun ke tahun," jelas mantan pembalap VR46 tersebut.
Sebaliknya, saat pertama kali bergabung dengan Honda, ia mendapati pendekatan tradisional yang kurang berkelanjutan.
"Ketika saya pertama kali tiba di Honda, sistem kerjanya masih cukup tradisional. Mereka cenderung membuat motor baru setiap tahun dan mengesampingkan hampir seluruh basis motor lama, tanpa memberikan kontinuitas pengembangan atau menindaklanjuti masukan pembalap dan insinyur secara bertahap."
Baca juga: Merasa Terasingkan di Tengah Cedera Parah, Maverick Vinales Ungkap Situasi Sulit di MotoGP 2026
"Saya mendapati filosofi yang cukup kuno, bahkan pada konsep dasar perancangan motornya," lanjutnya.
Di sisi lain, Marini mengapresiasi komitmen Honda yang terus menambah jajaran personel teknik demi mempercepat pengembangan.
"Saat saya baru tiba, jumlah personel di dalam tim sangat terbatas. Kini, jumlah insinyur yang terlibat dalam proyek MotoGP telah meningkat pesat. Hal ini sangat krusial karena selama akhir pekan balapan, terlalu banyak hal yang harus dikontrol dan dianalisis. Kami membutuhkan banyak sumber daya manusia karena waktu yang tersedia sangat terbatas," tuturnya.
Baca juga: Ketika Raul Fernandez Mencoba Meniru Marc Marquez di MotoGP Jerman 2026, Saya Hampir Jatuh
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan status konsesi yang didapatkan Honda untuk menghadapi sisa musim.
"Hal menarik lainnya adalah saat ini kami kembali mendapatkan lebih banyak hak konsesi karena berada di Tingkat D. Itu artinya manajemen masih dapat menghadirkan komponen-komponen baru hingga akhir musim."
Menghadapi sisa seri pada musim 2026, Marini mengungkapkan bahwa fokus tim telah dialihkan untuk mempersiapkan regulasi baru yang akan berlaku pada musim 2027.
Baca juga: Klasemen MotoGP 2026: 5 Pembalap Hanya Terpaut 24 Poin dalam Perburuan Gelar Juara Dunia
"Ide utamanya adalah memanfaatkan sisa balapan di musim 2026 untuk mempersiapkan musim 2027 dengan lebih baik. Ada banyak hal yang sudah bisa diuji coba tahun ini untuk menyongsong musim depan. Kami ingin tiba dengan material yang siap pakai demi tampil lebih cepat," tegasnya.
Terkait dengan gaya balap dan fokus pribadinya, Marini menyatakan akan berkonsentrasi pada optimasi pemanfaatan ban dan presisi saat memasuki tikungan.
Selain itu, ia tetap menyoroti pentingnya menjaga bobot badan pembalap sebelum adanya regulasi bobot minimum di MotoGP, serta mendukung penuh langkah Dorna Sports dalam meningkatkan standar keselamatan kejuaraan. (*)