Oleh: Ignasius Parlo Ngantut dan Vinsensius Jeradu, Program Studi Akuntansi, FEB, Universitas Flores
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA – Lahan kosong di lingkungan SD Pohon Bao, Kelurahan Pohon Bao, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, kini berubah menjadi kebun produktif yang menyediakan sumber pangan bergizi bagi anak-anak. Perubahan itu merupakan hasil inisiatif mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan Ekstrem (GENTASKIN) Batch II Tahun 2026.
Program pembangunan Kebun Gizi Anak tersebut dilaksanakan pada Jumat (17/7/2026) sebagai bagian dari upaya mendukung percepatan penurunan stunting dan pengentasan kemiskinan ekstrem melalui pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Mahasiswa KKN-T GENTASKIN memanfaatkan lahan sekolah yang sebelumnya tidak produktif menjadi ruang yang menghasilkan sayuran bergizi sekaligus menjadi media pembelajaran bagi peserta didik.
Inisiatif ini berangkat dari hasil observasi lapangan dan diskusi bersama pemerintah kelurahan, pihak sekolah, serta masyarakat. Dari proses tersebut ditemukan masih adanya anak dengan kondisi berat badan kurang, rendahnya konsumsi sayuran, serta keterbatasan pemahaman tentang pentingnya pola makan bergizi seimbang.
Baca juga: Anak-Anak Pelosok Elar Selatan Penuh Semangat Rayakan Hari Anak Nasional ke-42
Di sisi lain, terdapat lahan sekolah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa menghadirkan solusi sederhana namun berkelanjutan melalui pembangunan kebun gizi.
Melalui kesepakatan bersama, SD Pohon Bao ditetapkan sebagai lokasi pengembangan kebun tersebut. Pihak sekolah berkomitmen melakukan perawatan dan memanfaatkan hasil panen untuk mendukung pemenuhan gizi peserta didik.
Sementara Pemerintah Kelurahan Pohon Bao turut mendampingi agar program dapat terus berjalan setelah masa KKN berakhir.
Kebun gizi ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak. Mereka diajak mengenal proses menanam, merawat tanaman, hingga memahami manfaat mengonsumsi sayuran bagi pertumbuhan tubuh.
Koordinator peserta KKN-T GENTASKIN menjelaskan, pendidikan gizi tidak cukup hanya diberikan melalui teori, tetapi perlu diterapkan melalui pengalaman langsung agar anak-anak memiliki kebiasaan hidup sehat sejak dini.
Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Divisi Pertanian dan Peternakan bertanggung jawab merancang teknik budidaya, sistem perawatan tanaman, serta pembuatan pupuk organik dan pupuk cair dari bahan alami seperti kulit buah, buah busuk, daun kering, daun lamtoro, kotoran ternak, dan abu dapur.
Pemanfaatan bahan-bahan tersebut sekaligus menjadi edukasi tentang pengelolaan limbah dan penerapan pertanian ramah lingkungan.
Sementara itu, Divisi Kesehatan dan Gizi merekomendasikan penanaman berbagai jenis sayuran bergizi, seperti pakcoy dan bayam, yang mengandung vitamin, mineral, zat besi, dan serat untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Divisi Ekonomi juga memberikan pemahaman mengenai nilai manfaat kebun gizi, sehingga masyarakat dapat melihat potensi kebun sebagai sumber pangan keluarga sekaligus memiliki nilai ekonomi apabila dikembangkan secara berkelanjutan.
Kepala SD Pohon Bao, Cherly Meity Mawakere, S.Pd., Gr., mengapresiasi kehadiran program tersebut. Ia menilai kebun gizi tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pangan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi siswa.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKN-T GENTASKIN yang telah membangun kebun gizi di sekolah kami. Program ini bukan hanya menghadirkan sumber pangan bergizi bagi anak-anak, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang menanamkan kepedulian terhadap kesehatan, lingkungan dan pemanfaatan potensi lokal," ujarnya.
Menurutnya, pihak sekolah berkomitmen merawat dan mengembangkan kebun tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Peserta KKN-T GENTASKIN berharap program kebun gizi dapat melahirkan kebiasaan baru di lingkungan sekolah, seperti gemar menanam, mengonsumsi sayuran, serta memanfaatkan lahan kosong menjadi ruang produktif.
Kehadiran Kebun Gizi Anak di SD Pohon Bao menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa, sekolah, pemerintah, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata dalam menghadapi persoalan stunting.
Dari lahan kosong yang sebelumnya tidak termanfaatkan, kini tumbuh harapan baru bagi terciptanya generasi Flores Timur yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas.