Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih terus bergejolak setelah kedua negara saling melancarkan operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Terbaru, Iran mengklaim telah melancarkan serangan drone yang menyasar pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, yakni Al-Doha, Al-Salem, dan Camp Arifjan, pada Kamis (23/7/2026).
Dikutip dari The Times of Israel, serangan tersebut merupakan bagian dari operasi balasan atas serangan Amerika Serikat.
Iran mengklaim drone-drone yang diluncurkan berhasil menghantam fasilitas logistik, pusat komunikasi, serta sejumlah aset militer Amerika Serikat di tiga pangkalan tersebut.
Iran juga menuduh Amerika Serikat menyerang Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil Iran, serta wilayah Shalamcheh di dekat perbatasan Irak.
Teheran lantas memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur sipil akan dibalas dengan respons yang lebih keras.
Namun hingga kini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan konfirmasi maupun tanggapan atas klaim Iran tersebut.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah menyelesaikan serangan malam ke-12 berturut-turut terhadap sasaran militer Iran.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut menyasar lokasi peluncuran rudal, fasilitas drone, sistem pertahanan udara, serta berbagai infrastruktur militer yang disebut digunakan oleh IRGC.
Amerika Serikat menyebut operasi tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer Iran dan mengurangi ancaman terhadap pasukan serta kepentingan AS di kawasan Timur Tengah.
Rangkaian aksi saling serang ini semakin meningkatkan ketegangan antara Washington dan Teheran.
Situasi tersebut juga memicu kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.