TRIBUNNEWSMAKER.COM - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki babak yang lebih serius setelah serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) menghantam sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Serangan balasan Iran tidak hanya menyebabkan puluhan personel militer Amerika terluka, tetapi juga merusak berbagai fasilitas strategis yang selama ini menjadi tulang punggung operasi militer Washington di negara-negara Arab.
Laporan terbaru menyebut pangkalan militer AS di Kuwait, Qatar, Bahrain, Irak, hingga Yordania menjadi sasaran serangan dalam beberapa pekan terakhir.
Citra satelit memperlihatkan kerusakan pada hanggar logistik, gudang persenjataan, sistem radar canggih, hingga barak pasukan yang menjadi pusat aktivitas militer Amerika.
Salah satu kerugian terbesar terjadi di Pangkalan Udara Ahmad Al Jaber, Kuwait, setelah radar peringatan dini FPS-117 yang bernilai tinggi dilaporkan hancur.
Kerusakan juga terjadi di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, markas terbesar militer AS di Timur Tengah sekaligus pusat operasi CENTCOM.
Di saat yang sama, Pentagon mengungkap sekitar 100 personel militer Amerika mengalami luka akibat rentetan serangan Iran sejak awal Juli 2026.
Meningkatnya efektivitas rudal balistik dan drone Iran memunculkan kekhawatiran bahwa sistem pertahanan udara Amerika di kawasan mulai menghadapi tekanan yang semakin berat.
Situasi tersebut sekaligus memperlihatkan eskalasi konflik yang terus membesar meski sebelumnya sempat muncul upaya penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Di tengah membengkaknya kerugian militer dan logistik, Presiden Donald Trump mengambil langkah kontroversial dengan menyatakan biaya kerusakan akan dibebankan kepada Iran.
Trump menegaskan pemerintah AS akan menggunakan aset Iran yang selama ini dibekukan untuk membayar kerusakan akibat serangan terhadap kepentingan Amerika di kawasan.
Baca juga: Presiden AS Donald Trump Ancam Gempur Situs Nuklir Iran di Dalam Gunung, Eskalasi Perang Memanas
Seperti diketahui, laporan The New York Times menyebutkan serangan balasan Iran dalam beberapa pekan terakhir berhasil menghantam berbagai fasilitas strategis milik militer AS di Kuwait, Qatar, Bahrain, Irak, hingga Yordania.
Kerusakan tersebut diperkuat melalui citra satelit yang menunjukkan rusaknya hanggar logistik, gudang militer, sistem radar, hingga barak pasukan.
Salah satu kerugian paling besar terjadi di Pangkalan Udara Ahmad Al Jaber, Kuwait, setelah sistem radar peringatan dini FPS-117 dilaporkan hancur sekitar 20 Juli 2026.
Padahal, radar bernilai tinggi tersebut baru dioperasikan sekitar enam bulan sebelumnya dan menjadi salah satu komponen utama sistem pertahanan udara AS di kawasan Teluk.
Selain itu, sebuah gudang logistik milik Angkatan Laut AS di Bahrain ikut terdampak serangan, sementara Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait mengalami kerusakan terbatas.
Di Irak, sebuah hanggar besar di kompleks militer AS di Bandara Internasional Erbil yang digunakan untuk menyimpan peralatan pemantauan juga dilaporkan hancur akibat serangan.
Kerusakan paling strategis terjadi di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, markas terbesar militer Amerika Serikat di Timur Tengah sekaligus pusat Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). Berdasarkan citra satelit, salah satu hanggar logistik utama yang digunakan menyimpan suku cadang pesawat mengalami kerusakan signifikan.
Fasilitas tersebut merupakan bagian dari Combined Air Operations Center, pusat komando yang mengoordinasikan operasi udara militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Kerusakan pada infrastruktur logistik ini diperkirakan dapat mengganggu kemampuan operasional dan dukungan penerbangan militer AS dalam menjalankan misi di kawasan.
Di Yordania, kompleks militer Tower 22 juga kembali menjadi sasaran serangan. Area barak pasukan mengalami kerusakan setelah dihantam rudal Iran. Lokasi ini sebelumnya juga pernah diserang pesawat nirawak yang menewaskan tiga tentara Amerika.
Selain kerugian material, Pentagon juga menghadapi meningkatnya jumlah korban personel.
Seorang pejabat militer AS mengungkapkan bahwa 12 tentara Amerika mengalami luka serius akibat serangan rudal dan drone Iran di Yordania serta sejumlah negara Timur Tengah sepanjang Juli.
Seluruh korban yang mengalami luka berat diterbangkan ke rumah sakit militer AS di Jerman untuk menjalani perawatan intensif.
Mereka merupakan bagian dari sekitar 100 personel militer AS yang menurut Pentagon mengalami luka akibat serangan Iran sejak awal Juli.
Dari jumlah tersebut, sekitar 50 tentara terluka dalam serangan terbaru terhadap pangkalan Amerika di Yordania.
Pejabat tersebut menjelaskan bahwa CENTCOM tidak diwajibkan mengumumkan seluruh data korban, terutama apabila personel yang terluka dapat kembali bertugas dalam waktu singkat.
Hingga kini, penyelidikan terhadap serangan terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania masih berlangsung.
Sejumlah analis militer menilai serangan rudal balistik dan drone Iran kini semakin efektif dibandingkan fase awal konflik.
Kerusakan pada radar FPS-117 yang selama ini dianggap sebagai salah satu sistem pertahanan udara paling penting milik Amerika menunjukkan meningkatnya kemampuan Iran menembus sistem pertahanan AS dan sekutunya.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa kemampuan pertahanan udara Amerika di kawasan mulai menghadapi tekanan lebih besar seiring meningkatnya intensitas serangan balasan Iran.
Konfrontasi yang kembali memanas sejak awal Juli juga menandai gagalnya nota kesepahaman yang sebelumnya dimediasi Pakistan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak Februari 2026. Meski sempat muncul harapan menuju penyelesaian diplomatik, aksi saling serang justru terus berlanjut hingga saat ini.
Di tengah membengkaknya kerugian, Presiden Donald Trump mengumumkan langkah baru dengan membebankan biaya kerusakan kepada Iran.
Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan seluruh kerusakan terhadap kapal, muatan, maupun aset yang terdampak serangan di kawasan Selat Hormuz akan dibayar menggunakan aset Iran yang selama ini dibekukan oleh pemerintah Amerika Serikat.
"Mulai saat ini, semua kerusakan yang terjadi pada kapal, kargo, atau apa pun yang terkait dengannya akan dibayar dengan uang Iran yang dimiliki dan dikendalikan oleh Amerika Serikat," tulis Trump.
Ia mengakui nilai kerugian kemungkinan mencapai angka yang sangat besar. Namun menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah yang adil karena Iran dianggap bertanggung jawab atas meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.
(TribunNewsmaker.com/TribunNews/Namira)