Musim Kemarau di Pangkalpinang, Sumur Warga Mengering, Isi Dompet Ikut Terkuras
Hendra July 24, 2026 07:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Musim kemarau tak hanya mengeringkan sumur-sumur warga di Kota Pangkalpinang, tetapi juga menguras isi dompet mereka.

Ketika debit air terus menyusut, sebagian keluarga terpaksa mengubah pos pengeluaran rumah tangga demi memastikan kebutuhan paling mendasar tetap terpenuhi: air bersih.

Di sebuah rumah sederhana di kawasan Jalan Kampak, Kecamatan Gerunggang, Pangkalpinang, tandon air menjadi penanda datangnya musim kemarau.

Saat air sumur tak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, Vera Siska (50) memilih membeli air bersih agar aktivitas keluarganya tetap berjalan.

Sudah sekitar satu bulan terakhir, Vera bergantung pada pasokan air yang dibeli dari penjual air bersih.

Dalam sekali pemesanan, ia membeli sekitar 1.000 liter air dan harus melakukannya dua kali setiap pekan karena kebutuhan keluarga yang terus berjalan.

Pengeluaran yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam anggaran rumah tangga kini menjadi beban baru. Setiap bulan, Vera harus menyisihkan sekitar Rp800 ribu hanya untuk membeli air bersih.

"Awalnya memang tidak ada anggaran khusus untuk beli air. Jadi kalau musim kemarau seperti ini kami harus menyisihkan uang untuk membeli air bersih," katanya.

Bagi Vera, membeli air bukan berarti seluruh kebutuhan rumah tangga langsung terpenuhi. Air yang dibeli harus dihemat sedemikian rupa agar cukup digunakan untuk mandi dan kebutuhan dasar lainnya. Sementara itu, untuk memasak, keluarganya tetap mengandalkan air galon.

Agar persediaan air tidak cepat habis, Vera bahkan mengubah kebiasaan sehari-hari. Pakaian keluarga kini lebih sering dicuci di jasa laundry dibandingkan di rumah.

Meski pasokan air yang dibeli masih mencukupi kebutuhan harian, situasi berubah ketika ada tamu atau keluarga yang datang berkunjung. Kebutuhan air otomatis meningkat sehingga persediaan lebih cepat habis.

Kondisi tersebut membuat Vera berharap pemerintah kembali memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan, seperti melalui distribusi mobil tangki.

Selain itu, ia juga berharap ada kemudahan bagi warga untuk mendapatkan sambungan air perpipaan.

Menurut Vera, biaya pemasangan jaringan PDAM masih menjadi kendala bagi sebagian masyarakat yang hingga kini masih mengandalkan air sumur sebagai sumber utama. (Bangkapos.com/Sumanti/Salsabila Hadi Rahmadani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.