TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Anggota DPR RI Komisi III asal Gianyar Bali, Nyoman Parta, angkat bicara menanggapi viral di sosial media adanya event lari digelar serta diikuti WNA.
Bahkan diduga terdapat tindakan diskriminasi karena WNI tidak diperkenankan untuk ikut event lari tersebut.
"Saya ingin tidak reaktif melihat fenomena perilaku WNA di Bali, Saya ingin mengajak kita ke persoalan yang lebih substantif," tulis Nyoman Parta pada Jumat 24 Juli 2026 melalui akun Facebook dan Instagram nya.
Baca juga: Pernyataan Resmi dari Penyelenggara Event Lari Bali Silent Disco: Acara Kami Selalu Terbuka
Ia menambahkan sesungguhnya konsep wisata yang paling ideal itu jika rotasi orang itu secara kontinyu datang dan pergi, kalau ada yang datang kembali selanjutnya juga dalam batas visa kunjungan mereka harus keluar dari Bali.
Dengan demikian transaksi akan terjadi secara terus menerus, dan efek rembasnya akan dinikmati, Pajak Hotel dan Restoran (PHR) akan terus mengalir, destinasi wisata akan kecipratan, UMKM akan berkembang dan devisa pariwisata akan makin besar.
"Pariwisata membutuhkan pergantian orang bukan orang yamg menetap apalagi sampai overstay. Jadi titik krusialnya ketika kita membiarkan desa-desa kita dijadikan kampung-kampung turis dimana mereka tinggal secara permanen. Apa yang terjadi di Canggu dengan sekelompok WNA yang menguasai jalanan tanpa izin adalah dampak saja ini hanya salah satu saja, besok lusa akan ada masalah baru lagi," ungkap Nyoman Parta.
"Marah, sedih pasti, ketika kita kehilangan Bali yang damai, kita kehilangan ruang sosial, beberapa warga desa-desa kita semakin tersisih di wilayahnya sendiri," sambungnya.
Menurutnya Canggu hanya satu contoh saja betapa pentingnya membuat perencanaan jika sebuah Desa dijadikan tempat wisata, betapa pentingnya untuk membatasi WNA tinggal secara permanen dan lain sebagainya, lebih-lebih turis yang kere.
Mungkin ada baiknya kita belajar bisa seperti Venice di Italia, yang justru wilayahnya dihuni lebih banyak orang asing dibandingkan masyarakat lokalnya yang secara tidak langsung "tergusur".
Kita juga mungkin kita bisa belajar dari Spanyol, negara ini bagus pengelolaan pariwisatanya.
Fokusnnya bukan lagi pada angka kunjungan wisatawan, tapi pariwisata yang memiliki nilai tinggi.
Di Barcelona dan Madrid, penggunaan ruang publik itu diatur ketat.
"Ironisnya apa yan terjadi di Canggu seperti pembiaran, lari menguasai badan jalan fasilitas publik tanpa izin, tidak ada yang menghentikan, pihak Desa, Dinas Perhubungan Badung, Kapolsek Kuta Polres Badung ada dimana saat itu?" tanya Nyoman Parta.
Pihaknya meminta agar Pemerintah Daerah harus segera berbenah, pihak Kepolisian harus lebih inisiatif , jangan sampai kesan di Bali itu tidak ada hukum dan WNA boleh melakukan apa saja di Bali menjadi stigma. Dan stop desa-desa dijadikan kampung WNA.
"Dan sekali lagi saya mendesak pihak Imigrasi menertibkan izin WNA (izin tinggal/visa) di Bali. Imigrasi harus periksa WNA yang tinggal di Canggu karena banyak info ada penyalahgunaan izin tinggal," pintanya dengan tegas.
Sementara itu salah satu anggota komunitas lari BURN, Kendrick Reinaldo, mengatakan bahwa event lari hanya khusus WNA merupakan bentuk eksklusifitas dan bentuk diskriminasi.
"Saya tidak setuju dengan event lari yang hanya khusus WNA saja karena itu merupakan bentuk eksklusifitas dan bahkan diskriminasi. Dan sebagai tuan rumah kita di Bali harus menolaknya dengan keras," ungkap Kendrick.
Kemudian komunitas lari Jurnalis Bali atau News Run Bali, dalam unggahan Instagram menyampaikan "Kami percaya bahwa lintasan tidak mengenal asal negara, warna kulit, suku, maupun ras. Semua berhak berlari bersama".
Hal senada disampaikan Nomas Run Club melalui unggahan Instagramnya, berikut pernyataan mereka :
"Dengan bangga mendukung dan menghormati komunitas lokal kami. Kami percaya bahwa lari adalah untuk semua orang dan bisa menyatukan siapa saja."
Lokal, ekspat, copat atau santai, apa pun latar belakangmu, semua orang selalu diterima di Nomas Run Club.
Di Nomas Run Club, kami percaya bahwa lari adalah tentang menyatukan orang-orang.
Kami bangga mendukung dan menghormati komunitas lokal kami. Baik kamu warga lokal maupun ekspat, baru mulai lari 3K atau sedang berlatih untuk maraton, semua orang selalu diterima di sini.
Beragam latar belakang. Beragam cerita. Satu komunitas.
Sampai jumpa di lari berikutnya."
(*)