Potensi Wajib Haji di Jogja 397 Ribu, BPKH Kolaborasi Perkuat Ekosistem Haji
Hari Susmayanti July 25, 2026 02:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Kesadaran masyarakat untuk menginvestasikan sebagian hartanya melalui tabungan haji dinilai masih belum optimal.

Padahal, potensi ekonomi dari calon jemaah yang secara finansial sudah mampu (wajib haji) di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sangat besar.

Berdasarkan laporan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang bersumber dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), terdapat sekitar 20 juta warga Indonesia yang memiliki simpanan perbankan di kisaran Rp25 juta hingga Rp100 juta dan tergolong memenuhi kriteria finansial untuk mendaftar haji.

"Di Jogja yang mendaftar haji masih sedikit. Padahal yang berpotensi dan eligible secara finansial itu ada 397 ribu jiwa, kalau kita bulatkan sekitar 400 ribu jiwa," ungkap Anggota Badan Pelaksana BPKH, Harry Alexander, saat menghadiri Synergy Roadshow 2026 BPKH bersama Bank Muamalat di Yogyakarta, Jumat (24/7/2026).

Harry menjelaskan, jika seluruh masyarakat DIY yang tergolong mampu tersebut tergerak untuk menyetor dana pendaftaran haji, potensi dana yang terhimpun bisa mencapai hampir Rp2 triliun.

"Tetapi di Jogja hari ini, jemaah yang sudah wajib haji dan menyimpan tabungan haji jumlahnya masih puluhan ribu," terangnya.

Baca juga: Eks Jampidsus Tidak Pakai Rompi dan Tidak Diborgol, JCW Soroti Dugaan Tebang Pilih

Kondisi serupa juga terjadi di Jawa Tengah. Dari total potensi wajib haji yang mencapai 3,39 juta jiwa, jumlah jemaah yang mendaftar baru sekitar 900 ribu jiwa.

"Maka dari itu kami berkeliling bersama Bank Muamalat mulai dari Jakarta, Jawa Barat, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Kalimantan. Tujuannya agar potensi wajib haji ini bisa tergarap optimal," tambah Harry.

Sebagai bentuk dukungan terhadap transformasi Bank Muamalat, BPKH tengah mengembangkan sejumlah langkah strategis.

Salah satunya melalui pemanfaatan BPKH Apps yang terintegrasi dengan Bank Muamalat untuk mempermudah proses pembukaan rekening setoran awal maupun pelunasan haji.

Sinergi ini diharapkan dapat memperluas akuisisi nasabah, meningkatkan aktivitas cross-selling, serta mendongkrak pertumbuhan pendapatan margin Bank Muamalat.

Direktur Utama Bank Muamalat, Imam Teguh Saptono, menyampaikan bahwa Yogyakarta menjadi kota keempat penyelenggaraan Synergy Roadshow 2026 setelah Jakarta, Surabaya, dan Bandung, sebelum berlanjut ke Makassar dan Medan.

"Melalui forum ini kami menyelaraskan strategi dan mengidentifikasi peluang pertumbuhan di daerah. Sasarannya jelas, kami ingin membangun optimisme menghadapi semester kedua tahun ini di tengah kondisi perekonomian yang menantang," jelas Imam. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.