Nikmatnya Serabi Notosuman Kuliner Legendaris, Pilihan Oleh-oleh Khas Solo, Diproduksi Sejak 1923
Listusista Anggeng Rasmi July 25, 2026 04:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Serabi Notosuman menjadi salah satu kuliner legendaris yang wajib dicicipi saat berkunjung ke Kota Solo, Jawa Tengah.

Jajanan tradisional ini telah bertahan hampir satu abad dan masih menjadi favorit wisatawan maupun warga lokal hingga sekarang.

Di balik kelezatannya, Serabi Notosuman menyimpan sejarah panjang yang belum banyak diketahui masyarakat.

Kuliner khas Solo tersebut pertama kali diproduksi pada tahun 1923 dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Cikal bakal lahirnya serabi legendaris ini berasal dari pasangan keturunan Tionghoa, Hoo Ging Hok dan Tan Giok Lan.

Berawal dari sebuah proses yang tidak direncanakan, keduanya berhasil menemukan resep serabi dengan cita rasa yang khas.

Resep tersebut kemudian dikembangkan hingga dikenal luas sebagai salah satu ikon kuliner Kota Bengawan.

Baca juga: 5 Kuliner Malam Dekat Alun-alun Lor Solo, Ada Yassalam Resto, Banyak Hidangan Khas Timur Tengah

KULINER DI SOLO - Serabi Notosuman. ((Ist)/muhammadalfian.it.student.pens.ac.id)

Tekstur lembut dengan aroma santan yang khas membuat Serabi Notosuman tetap mampu bertahan di tengah gempuran makanan modern.

Hingga kini, kuliner legendaris tersebut masih menjadi buah tangan favorit sekaligus destinasi wisata kuliner yang selalu diburu para pelancong.

Tak hanya menawarkan cita rasa autentik, Serabi Notosuman juga menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas kuliner khas Solo.

Berawal dari Permintaan Membuat Apem

Nama Notosuman diambil dari kawasan tempat serabi ini pertama kali diproduksi, yakni di Jalan Notosuman yang kini berganti nama menjadi Jalan Moh. Yamin, Solo.

Usaha tersebut dirintis oleh pasangan Hoo Ging Hok dan Tan Giok Lan yang membuka usaha rumahan di kawasan tersebut.

Menariknya, cikal bakal Serabi Notosuman bermula ketika Ny. Hoo Ging Hok diminta tetangganya membuat apem untuk keperluan acara selamatan.

Apem buatannya mendapat sambutan yang sangat baik hingga banyak warga sekitar mulai memesan kue tersebut.

Suatu hari, salah seorang pelanggan mengusulkan agar apem dibuat dengan bentuk yang lebih tipis dan pipih.

Perubahan sederhana itu justru melahirkan jenis kue baru yang kemudian dikenal sebagai serabi.

Tanpa diduga, serabi tersebut ternyata lebih digemari dibandingkan apem yang sebelumnya dibuat.

Dilanjutkan oleh Generasi Penerus

Warisan kuliner ini kemudian diteruskan oleh keturunan Hoo Ging Hok dan Tan Giok Lan.

Saat ini terdapat dua toko Serabi Notosuman yang berada berdampingan di Jalan Moh. Yamin, Solo, masing-masing dikelola oleh Lidia dan Handayani.

Meski berasal dari resep keluarga yang sama, keduanya memiliki ciri khas tersendiri.

Serabi yang diproduksi Lidia lebih dikenal sebagai Serabi Notosuman bungkus hijau, sedangkan milik Handayani populer dengan sebutan Serabi Notosuman bungkus oranye.

Perbedaan keduanya lebih terlihat pada penyajian dan kemasannya. Dahulu serabi disajikan dalam bentuk utuh setelah matang. Kini, serabi umumnya digulung menggunakan daun pisang sebelum dikemas dalam kotak karton sehingga lebih praktis dibawa sebagai oleh-oleh.

KULINER LEGENDARIS SOLO - Serabi Notosuman Ny. Lidia yang sudah berusia 1 abad di Solo, Jawa Tengah. Beginilah sejarah Serabi Notosuman.
KULINER LEGENDARIS SOLO - Serabi Notosuman Ny. Lidia yang sudah berusia 1 abad di Solo, Jawa Tengah. Beginilah sejarah Serabi Notosuman. ((Ist)/KOMPAS.com/YUHARRANI AISYAH)

Baca juga: 5 Wisata Keluarga Harga Terjangkau di Tawangmangu untuk Liburan Akhir Pekan, Ada The Lawu Park

Memiliki Dua Varian Rasa

Serabi Notosuman tersedia dalam dua pilihan rasa, yaitu original dan cokelat.

Varian original menawarkan cita rasa gurih dari santan kental, sedangkan varian cokelat diberi tambahan taburan meses yang menghadirkan rasa manis.

Berbeda dengan beberapa jenis serabi dari daerah lain, Serabi Notosuman tidak disajikan bersama kuah sehingga memiliki karakter yang khas.

Proses pembuatannya juga masih mempertahankan cara tradisional.

Adonan yang terdiri dari tepung beras, santan, gula pasir, garam, pandan, dan air dituangkan ke dalam wajan kecil, kemudian ditutup hingga mengembang dan matang. Seluruh proses memasak hanya memerlukan waktu sekitar tiga menit, sehingga pengunjung dapat menyaksikan langsung pembuatannya.

Keistimewaan Serabi Notosuman juga terletak pada penggunaan bahan-bahan alami tanpa tambahan bahan pengawet.

Karena itu, serabi ini memiliki masa simpan sekitar 24 jam setelah dipanggang, sehingga setiap produk yang dijual tetap terjaga kesegaran dan cita rasanya.

(Tribunnewsmaker.com/ TribunSolo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.