TRIBUN-MEDAN.com, BATANGTORU - Meski baru saja operasional pascabencana, PT Agincourt Resources (PT AR) tetap melanjutkan program Beasiswa Martabe Prestasi kepada para siswa dan mahasiswa di Tapanuli Selatan (Tapsel).
Diketahui, perusahaan tambang emas yang berpusat di Aek Pining, Kecamatan Batangtoru ini mengalokasikan Rp5,29 miliar untuk memastikan dukungan terhadap pendidikan tetap berlanjut.
Ada sebanyak 341 pelajar dan mahasiswa di Tapsel yang mendapat Beasiswa Martabe Prestasi.
Dari jumlah itu, 88 di antaranya merupakan penerima baru dan 253 orang lanjutan. Sebanyak 37 siswa atau 42 persen dari total penerima baru berasal dari Batangtoru dan Muara Batangtoru.
Kuasa Direksi PT AR, Rahmat Lubis mengatakan pada 2026 beasiswa difokuskan hanya pada jenjang SMA dan perguruan tinggi.
Pada kesempatan itu, Rahmat Lubis menyampaikan permintaan maafnya karena program beasiswa tingkat SD dan SMP ditiadakan.
Ini merupakan bagian dari dari penyesuaian prioritas Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) selama masa pemulihan kegiatan perusahaan.
Ia mengaku, komitmen perusahaan terhadap pendidikan generasi muda Tapsel tidak pernah berubah. Pihaknya menyesuaikan skala program agar tetap berjalan secara berkelanjutan, dengan mendahulukan kelompok yang paling membutuhkan dukungan, yakni siswa SMA.
"Siswa SMA ini akan bersiap masuk perguruan tinggi dan tentunya kepada mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi," kata Rahmat saat acara Penghargaan Beasiswa Martabe Prestasi di Sopo Daganak, Batangtoru, Jumat (24/7/2026).
Program Beasiswa Martabe Prestasi pertama kali diluncurkan sembilan tahun silam, dengan jangkauan 3.037 pelajar dan mahasiswa dengan total investasi pendidikan sebesar Rp24,11 miliar.
Selama hampir satu dekade, program ini menjadi salah satu program Beasiswa terluas yang dikelola perusahaan tambang di Sumatera Utara, menjangkau siswa dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
"Konsistensi pemberian beasiswa selama sembilan tahun mencerminkan bahwa pendidikan merupakan prioritas jangka panjang kami dalam membantu ribuan anak asal Tapanuli Selatan untuk selanjutnya berkontribusi ke daerah dan negara," tutur Rahmat.
Menurutnya, program Beasiswa Martabe Berprestasi ini dihadirkan semata-mata karena perusahaan ingin memberi kail daripada ikan ke para pelajar dan mahasiswa, agar bisa membawa manfaat di masa mendatang. Sebab kata dia, program sosial yang buruk di manapun, termasuk di PT AR itu adalah 'bakar duit'.
Ia menjelaskan, tahun lalu, PT AR menggelontorkan dana PPM sebanyak Rp5,97 miliar untuk lebih kurang 569 pelajar dan mahasiswa. Uang sebanyak ini menurutnya, belum tentu cukup untuk mengangkat derajat masyarakat Batang Toru jika hanya dibagi-bagikan kepada lebih kurang 36 ribu masyarakat.
"Meski jumlah penerima tahun ini berkurang dibandingkan tahun lalu, namun semangat perusahaan untuk terus menggulirkan kebaikan kepada masyarakat tetap berlanjut," ungkap Rahmat.
Kata dia, PT AR hadir di Batangtoru untuk berbisnis dengan menginvestasikan uangnya dengan harapan return (untung). Begitu juga dengan program sosial, pihaknya harus bisa menghasilkan return-nya.
"Kalau tidak ada return yang dihasilkan, maka hanya 'bakar-bakar duit' saja. Saya percaya return yang paling tinggi dari program sosial adalah mendidik generasi muda," jelasnya.
Ia mencontohkan, jika uang di deposito ke bank maka return-nya hanya sekitar 5 persen per tahun. Namun, jika perusahaan membantu generasi muda di bidang pendidikan, maka return-nya bisa jauh meningkat.
Karena menurutnya, jika anak-anak tidak difasilitasi pendidikan yang baik, maka biasanya ia akan mengikuti pekerjaan orang tuanya. Jika orang tuanya bertani, maka kemungkinan besar sang anak menjadi petani dan begitu seterusnya.
"Kalau anak difasilitasi pendidikan yang baik bisa saja anak tersebut menjadi Direktur di perusahaan, maka berapa besar return yang didapat dari menginvestasikan uang terhadap pendidikan anak tersebut," ucapnya.
Oleh karenanya, dia berpesan kepada penerima manfaat program ini, agar ke depan harus berhasil dan bisa mengembalikan uangnya kembali ke masyarakat luas. Jika tidak berhasil mengembalikan uang beasiswa ini ke masyarakat, maka ia tak sungkan mengalihkan Beasiswa ini ke program lain.
"Saya anak seorang petani dari desa yang mendapat Beasiswa di SMA dan perguruan tinggi hingga bisa menjadi Direktur di PT AR.
Ketika saya menjadi Direktur maka saya bisa memprogramkan program sosial beasiswa seperti saya dulu, karena sudah terbukti return yang saya dapatkan berkali-kali lipat daripada di deposito ke Bank," terangnya.
"Inilah yang kami maksud, kami ingin memberi kail daripada ikan. Dan saya percaya, Indonesia akan maju, jika program-program seperti ini dilaksanakan dengan baik," tambahnya menutup.
Kepala Dinas Pendidikan Tapsel, Efrida Yanti Pakpahan. Ia menegaskan, program PPM PT AR selama ini memberikan manfaat besar bagi masyarakat, baik di sektor pendikan maupun sektor lainnya.
Beasiswa ini, lanjutnya, sangat membantu anak-anak dari keluarga dengan kemampuan ekonomi rendah agar punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Ia berpesan kepada para siswa agar tidak menjadikan kondisi ekonomi sebagai alasan memutus cita-cita. Sebab banyak jalan untuk pendidikan tinggi, salah satunya melalui jalur Beasiswa.
Efrida mengatakan, tahun ini sebanyak 13 penerima Beasiswa Martabe Prestasi membuktikan hal tersebut dengan diterima di perguruan tinggi negeri unggulan di Pulau Jawa. Enam orang diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB).
"Sementara, tiga orang di Universitas Gadjah Mada dan masing-masing satu orang di Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, serta Universitas Sebelas Maret," tukasnya.
Salah satu penerima Beasiswa yang sudah membuktikannya yaitu, Sahrial Azhari Gultom, warga Wek III, Kecamatan Batangtoru, desa lingkar tambang, yang berhasil diterima di IPB Jurusan Meteorologi Terapan.
Sahrial mengaku, Beasiswa ini akan dimanfaatkannya sebaik mungkin. Selain membantu biaya pendidikan, Beasiswa ini juga menjadi motivasi baginya untuk terus berprestasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Dampak beasiswa ini tidak hanya terasa saat kuliah, tetapi merentang jauh ke depan. Rona Melati Pakpahan, penerima beasiswa pada 2017, kini bekerja di perusahaan logistik di Medan usai menamatkan studi S1 Ekonomi Islam di UIN Sumatera Utara Medan yang didukung Beasiswa Martabe Prestasi.
"Dengan latar pendidikan yang saya raih berkat beasiswa ini, saya akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passion saya, mandiri secara finansial, dan membantu keluarga," pungkas Rona.
(*/ Tribun-medan.com)