Penyuluh Pertanian di Ciamis Temukan Cara Tingkatkan Hasil Panen Padi, Naik Jadi 7 Ton per Hektare
Dedy Herdiana July 25, 2026 05:21 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Produktivitas padi di Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, mengalami peningkatan signifikan setelah diterapkannya teknologi PMAS (Padi Menanam Asyik) yang dipadukan dengan inovasi bernama Muharram.

Penyuluh Pertanian Kecamatan Purwadadi, Jaja, mengatakan hasil panen petani yang semula rata-rata hanya sekitar tiga ton gabah per hektare kini meningkat menjadi sekitar tujuh ton per hektare.

Peningkatan tersebut diperoleh setelah teknologi PMAS diterapkan di lahan pertanian yang didominasi rawa dan sawah tadah hujan.

"Awalnya produktivitas sekitar tiga ton per hektare, sekarang bisa mencapai sekitar tujuh ton per hektare," ujar Jaja saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis, Sabtu (25/7/2026).

Baca juga: Demokrat Ciamis Tegaskan Pengisian Wakil Bupati Harus Lewat Kesepakatan Koalisi, Anjar Siap Maju

Ia mengungkapkan, sejak ditugaskan di Kecamatan Purwadadi pada Januari 2026, dirinya menemukan tantangan utama berupa kondisi lahan yang sangat bergantung pada cuaca.

Saat musim hujan, lahan rawa sering tergenang sehingga menghambat budidaya padi. 

Sebaliknya, ketika musim kemarau, lahan tadah hujan kekurangan pasokan air sehingga sulit ditanami.

Melihat kondisi tersebut, Jaja menerapkan teknologi PMAS yang merupakan program Kementerian Pertanian untuk mendukung percepatan swasembada pangan.

Menurutnya, PMAS bukan hanya metode tanam baru, tetapi mengombinasikan sejumlah teknologi budidaya seperti tanam dangkal, penggunaan alat tanam yang lebih efisien, sistem jajar legowo, hingga teknik budidaya lain yang disesuaikan dengan karakteristik lahan.

Untuk memaksimalkan hasil, Jaja juga mengembangkan inovasi pendukung bernama Muharram yang pernah diikutsertakan dalam lomba inovasi tingkat nasional pada 2024.

Muharram merupakan ekstrak kompos atau pupuk kandang yang mengandung asam humat, asam fulvat, serta berbagai senyawa organik yang membantu meningkatkan kemampuan tanah menyerap unsur hara.

Menurut Jaja, inovasi tersebut membuat penggunaan pupuk menjadi lebih efisien sehingga dosis pupuk kimia dapat dikurangi.

"Saat ini pupuk kimia masih digunakan, tetapi tidak lagi dengan dosis penuh karena sebagian kebutuhan hara sudah dipenuhi oleh ekstrak kompos," katanya.

Selain meningkatkan produktivitas, Jaja juga menyiapkan program pompanisasi di Desa Kutawaringin sebagai langkah mengantisipasi musim kemarau.

Ia mengatakan, ketersediaan air dari pompa membuat petani lebih yakin mengubah sebagian lahan yang sebelumnya ditanami kacang hijau menjadi sawah.

Menurutnya, tambahan hasil panen padi mampu menutup biaya operasional pompanisasi sekaligus memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani.

Jaja berharap penerapan teknologi PMAS yang dipadukan dengan inovasi Muharram dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kabupaten Ciamis.

Ia menilai keberhasilan meningkatkan produksi pangan tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi juga inovasi yang disesuaikan dengan kondisi lahan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung target swasembada pangan.(*)

 



 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.