Industri Manufaktur Didorong Terapkan Teknologi Ramah Lingkungan untuk Tingkatkan Daya Saing
Sanusi July 25, 2026 08:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Transformasi industri manufaktur nasional dinilai perlu berjalan seiring dengan upaya meningkatkan efisiensi produksi dan penerapan prinsip keberlanjutan. 

Di tengah persaingan global dan tuntutan investasi yang semakin memperhatikan aspek lingkungan, pelaku industri didorong mengadopsi teknologi yang mampu mengurangi pemborosan bahan baku sekaligus meningkatkan produktivitas.

Baca juga: Brand Komponen Asal Jerman Gandeng Distributor Lokal, Bidik Dominasi Pasar Aftermarket Indonesia

CEO PT Indonesia Research Institute Japan (IRIJ) Albertus Prasetyo Heru Nugroho mengatakan penguatan industri tidak cukup hanya melalui pembaruan mesin produksi. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media agar transformasi industri berjalan lebih efektif.

Ia menilai sinergi tersebut juga dapat memperkuat kerja sama Indonesia dengan Jepang, sekaligus membuka peluang kolaborasi teknologi dengan negara lain.

"Kami berharap melalui forum seperti ini hubungan antarpemangku kepentingan semakin erat. Ketika sudah saling mengenal, proses membangun kerja sama akan menjadi lebih mudah," ujar Albertus saat Simposium Material Handling in Manufacturing yang digelar di Jakarta belum lama ini.

Baca juga: Sistem Resi Gudang Diperluas, Ikan Kayu dan Ikan Asap Resmi Masuk Daftar Komoditas Perikanan

Forum ini menghadirkan perwakilan pemerintah, pelaku industri, dan mitra teknologi dari Jepang untuk membahas pengembangan teknologi material handling sebagai bagian dari modernisasi sektor manufaktur Indonesia.

Ia menjelaskan, teknologi material handling dapat membantu perusahaan mengurangi kehilangan bahan baku selama proses produksi sehingga operasional menjadi lebih efisien.

Di sisi lain, langkah tersebut juga mendukung penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) yang kini semakin menjadi perhatian investor global.

"Perusahaan yang mampu beroperasi lebih efisien dan menerapkan prinsip ESG akan memiliki daya saing yang lebih baik di mata investor," katanya.

Albertus menambahkan, Indonesia masih membutuhkan investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI).

Karena itu, selain meningkatkan efisiensi industri, kepastian regulasi serta penyampaian informasi mengenai iklim investasi kepada investor internasional juga dinilai perlu terus diperkuat.

Kasubdit Pemolaan Pengolahan Hasil Hutan Kementerian Kehutanan Deden Nurochman mengatakan penerapan teknologi tersebut juga berpotensi mendukung pengelolaan sumber daya hutan yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, efisiensi penggunaan bahan baku dapat mengurangi pemborosan sehingga kebutuhan material menjadi lebih terukur. Kondisi itu dinilai berkontribusi terhadap upaya menjaga kelestarian hutan.

"Saat efisiensi meningkat, kebutuhan bahan baku menjadi lebih terukur. Dampaknya, jaminan terhadap kelestarian hutan juga semakin baik," ujar Deden.

Selain mendukung aspek lingkungan, inovasi teknologi juga diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk hasil hutan.

Selama ini, nilai ekonomi bahan baku yang dijual dalam bentuk mentah relatif lebih rendah dibandingkan produk yang telah melalui proses pengolahan.

"Dengan efisiensi dan inovasi, nilai tambah sumber daya hutan diharapkan terus meningkat sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar," katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Industri Peralatan Pabrik, Alat Berat, dan Mesin Pelestari Lingkungan Kementerian Perindustrian Norma Budiman menegaskan pemerintah terus mendorong modernisasi sektor manufaktur sebagai bagian dari strategi memperkuat daya saing industri nasional.

"Kami mendorong industri melakukan modernisasi, mulai dari mengganti mesin-mesin yang sudah tua, menambah sistem otomasi, hingga menerapkan teknologi material handling yang sebelumnya masih dilakukan secara manual," ujarnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.