Harga Eceran Minyak Tanah di Malaka NTT Capai Rp 10.000 per Liter
Ryan Nong July 25, 2026 08:45 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota

POS-KUPANG.COM, BETUN - Harga minyak tanah di tingkat pengecer di Kabupaten Malaka Nusa Tenggara Timur mengalami kenaikan cukup signifikan.

Naiknya harga minyak di wiilayah itu diduga dipicu oleh Kelangkaan yang terjadi beberapa waktu terakhir. 

Di sejumlah wilayah, harga minyak tanah eceran dilaporkan telah mencapai Rp 10.000 per liter. Ironisnya, meski masyarakat bersedia membeli dengan harga yang lebih tinggi, minyak tanah tetap sulit diperoleh karena ketersediaannya terbatas.

Kondisi tersebut turut dirasakan masyarakat Desa Alas, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka.

Baca juga: Bupati Dukung Penertiban Pedagang BBM Eceran oleh Polisi

Berdasarkan penuturan sejumlah tokoh masyarakat yang ditemui POS-KUPANG.COM di Kantor Desa Alas, Sabtu (25/7/2026), kelangkaan minyak tanah telah menjadi persoalan yang cukup menyulitkan warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Primus Ulu, salah seorang tokoh masyarakat Desa Alas yang mewakili warga lainnya, mengatakan harga minyak tanah saat ini telah mencapai Rp 10.000 per liter di tingkat pengecer.

Namun, persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya mengenai mahalnya harga. Menurut dia, warga juga harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan minyak tanah karena stok yang tersedia di kios-kios pengecer sangat terbatas.

"Di Desa Alas sekarang harga minyak tanah per liter Rp 10.000, itu pun kita cari susah untuk dapat," ujar Primus.

Ia menjelaskan, warga yang membutuhkan minyak tanah biasanya mendatangi sejumlah kios pengecer. Akan tetapi, tidak semua kios memiliki stok yang cukup sehingga masyarakat kerap pulang tanpa mendapatkan minyak tanah.

Kondisi serupa juga dialami para pengecer. Mereka mengaku kesulitan memperoleh pasokan minyak tanah dari agen. Untuk mendapatkan stok, para pengecer harus pergi membeli minyak tanah di agen yang berada di wilayah Betun.

Namun, perjalanan tersebut belum menjamin mereka bisa mendapatkan minyak tanah sesuai kebutuhan. Tidak jarang, ketika tiba di lokasi agen, stok minyak tanah telah habis sehingga mereka harus kembali tanpa membawa pasokan.

"Di kios-kios penjual minyak tanah sekarang kita ke sana juga jarang baru dapat. Mereka juga mengeluh karena biasa pergi beli di agen yang berada di Betun, itu kadang bilang pulang kosong saja," jelasnya.

Menurut Primus, apabila pengecer berhasil mendapatkan minyak tanah, pasokan tersebut terkadang sudah berada di tangan kedua sebelum sampai kepada mereka. Kondisi rantai distribusi yang lebih panjang tersebut turut memengaruhi harga jual di tingkat masyarakat.

"Kadang dapat pun sudah di tangan kedua sehingga harga sudah lebih tinggi," katanya.

Kondisi itu pada akhirnya membuat pengecer harus menjual minyak tanah dengan harga yang lebih tinggi kepada masyarakat. Harga Rp 10.000 per liter menjadi harga yang harus dibayar warga untuk mendapatkan bahan bakar tersebut.

Meski demikian, harga tersebut pun tidak serta-merta membuat minyak tanah mudah diperoleh. Masyarakat tetap harus mencari dari satu kios ke kios lainnya untuk mendapatkan kebutuhan bahan bakar rumah tangga.

Kelangkaan ini menjadi beban tersendiri bagi masyarakat Desa Alas, terutama bagi warga yang masih bergantung pada minyak tanah untuk kebutuhan memasak dan aktivitas rumah tangga lainnya.

Warga berharap persoalan kelangkaan dan tingginya harga minyak tanah tersebut segera mendapat perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait. Mereka menginginkan adanya kepastian pasokan sehingga masyarakat dapat memperoleh minyak tanah dengan harga yang wajar dan tidak lagi mengalami kesulitan untuk mendapatkannya. (ito)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.