Laporan Wartawan TribunBanten.com, Misbahudin
TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG – Musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga September 2026 mulai menekan sektor pertanian di wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten.
Selain 686 hektare sawah yang telah terdampak kekeringan, sedikitnya 515 hektare lahan pertanian kini berstatus terancam sehingga berpotensi mengalami gagal panen apabila pasokan air tidak segera tersedia.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, dari total 686 hektare sawah yang terdampak kekeringan, sekitar 304 hektare masih mengalami kekeringan.
Sementara itu, 590 hektare lahan berhasil diselamatkan karena telah dipanen sebelum dampak kemarau meluas.
Di sisi lain, sebanyak 515 hektare sawah kini masuk kategori rawan terdampak apabila musim kemarau terus berlanjut.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DPKP Kabupaten Pandeglang, Nuridawati, mengatakan wilayah selatan menjadi kawasan yang paling rentan terdampak kekeringan karena mayoritas merupakan sawah tadah hujan yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
"Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung hingga September, atau bahkan lebih lama dengan suhu yang jauh lebih panas. Wilayah Kecamatan Angsana terdampak cukup parah, karena mengandalkan sawah tadah hujan, sedangkan wilayah utara relatif lebih terbantu karena memiliki sumber air dan kondisi geografis yang lebih mendukung," ujarnya dalam sambungan telepon, Sabtu (25/7/2026).
Menurut dia, Kecamatan Munjul menjadi wilayah dengan luas lahan terdampak terbesar, yakni mencapai 420 hektare.
Namun, seluruh areal tersebut telah dipanen sehingga tidak lagi berisiko mengalami gagal panen.
Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Angsana. Sebanyak 170 hektare sawah di wilayah tersebut telah dipanen sebelum kekeringan mencapai puncaknya.
Lanjut, ancaman kekeringan kini mulai bergeser ke sejumlah kecamatan yang masih memasuki masa tanam.
Di Kecamatan Sindangresmi tercatat 6 hektare sawah terdampak, dan 200 hektare lainnya berstatus terancam, Kecamatan Picung 5 hektare terdampak dan 80 hektare terancam.
Kemudian, Kecamatan Patia terdapat 22 hektare sawah terdampak dan 90 hektare terancam, Kecamatan Sukaresmi 30 hektare terdampak serta 55 hektare terancam, Kecamatan Pagelaran 25 hektare terdampak dan 60 hektare terancam, Kecamatan Labuan 3 hektare terdampak serta 20 hektare terancam, Kecamatan Menes 3 hektare terdampak dan 10 hektare terancam.
"Untuk kecamatan Cikeusik, dan Cigeulis masing-masing mencatat 1 hektare lahan terdampak kekeringan," ujarnya.
Ia mengatakan apabila musim kemarau berlangsung hingga September sesuai prediksi, potensi penurunan hasil panen pada musim tanam berikutnya diperkirakan semakin besar, terutama di wilayah yang belum memiliki sistem irigasi memadai.
Untuk mengurangi risiko tersebut, kata dia, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten akam mempercepat pelaksanaan program pompanisasi dan pipanisasi sebagai langkah darurat guna menjaga ketersediaan air di lahan pertanian.
"Kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah maupun provinsi melalui program pompanisasi dan pipanisasi untuk membantu petani mengurangi kerugian. Upaya ini diharapkan mampu menyelamatkan lahan pertanian yang masih terancam kekeringan ekstrem," pungkasnya.