Jepang Temukan Kandungan Besar Logam Tanah Jarang di Lumpur Laut Pasifik
Choirul Arifin July 26, 2026 01:20 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Jepang menyatakan berhasil menemukan logam tanah jarang dalam jumlah besar yang berada di dalam endapan lumpur laut di dekat di dekat sebuah pulau terpencil di Lautan Pasifik.

Logam tanah jarang saat ini menjadi mineral paling dicari oleh banyak negara maju. Ini merupakan kelompok 17 unsur kimia yang terdiri dari 15 unsur lantanida ditambah skandium dan itrium dan perannyasangat penting untuk bahan baku teknologi tinggi.

Logam ini dinamakan "jarang" karena sulit ditemukan dalam konsentrasi tinggi dan proses pemisahannya sangat rumit, bukan karena jumlahnya yang sedikit di bumi.

Pemanfaatan logam tanah jarang mencakup skala luas mulai dari untuk bahan pembuat layar ponsel pintar, laptop, televisi, dan lampu LED serta komponen untuk industri energi hijau sebagai komponen utama magnet permanen superkuat untuk turbin angin dan baterai kendaraan listrik.

Logam tanah jarang juga digunakan di industri pertahanan dan militer sebagai bahan baku pembuatan alat komunikasi militer, sistem radar, rudal dan perangkat laser.

Temuan Jepang atas logam tanah jarang tersebut mengacu pada analisis terhadap lumpur kaya logam tanah jarang yang diambil dari dasar laut dalam di Pasifik pada awal tahun 2026 ini.

Tim riset Jepang menemukan bahwa unsur logam tanah jarang jenis menengah dan berat mencakup sekitar 54 persen dari total kandungan logam tanah jarang tersebut, mengutip pernyataan pemerintah Jepang pada hari Jumat, 24 Juli 2026 dikutip Japan Times.

Namun, Pemerintah Jepang tidak mengungkapkan besaran kandungan atau jumlah cadangan tersebut, dengan alasan data yang ada belum memadai akibat terbatasnya durasi dan cakupan geografis pengambilan sampel.

Baca juga: Mengapa Zelensky Menolak Kesepakatan Logam Tanah Jarang dari Trump?

Kapal pengeboran ilmiah Jepang, Chikyu, menyelesaikan misi selama satu bulan pada bulan Februari di dekat Pulau Minamitorishima—yang terletak sekitar 1.900 kilometer di tenggara Tokyo.

Misi ini menandai keberhasilan pertama di dunia dalam upaya mengangkat lumpur dasar laut yang mengandung logam tanah jarang secara berkelanjutan dari kedalaman sekitar 6 kilometer.

Proyek ini dilakukan di tengah upaya Jepang untuk mendiversifikasi pasokan mineral penting, menyusul pengetatan kontrol ekspor oleh Tiongkok terhadap logam tanah jarang berat dan magnet terkait—komponen krusial bagi industri pertahanan dan otomotif.

Sekitar 50 metrik ton lumpur berhasil diangkat. Menurut platform nasional untuk pengembangan laut inovatif di bawah Kantor Kabinet, analisis tersebut mengidentifikasi keberadaan itrium yang digunakan dalam aplikasi kedirgantaraan, energi, dan semikonduktor, gadolinium (digunakan dalam magnetic resonance imaging atau MRI dan aplikasi berteknologi tinggi lainnya), serta disprosium (digunakan dalam magnet berkinerja tinggi untuk kendaraan listrik).

Baca juga: Putin Buka Peluang Kerja Sama, Tawarkan Logam Tanah Jarang Rusia ke AS

Jepang akan melakukan uji coba penambangan berskala besar selama satu bulan di perairan yang sama mulai Februari 2027, dengan target mengeruk 350 ton lumpur per hari.

Material tersebut akan dikeringkan di Pulau Minamitorishima dan kemudian diproses di daratan utama untuk menguji teknologi pemisahan, pemurnian, dan peleburan.

Uji coba ini diharapkan dapat memverifikasi kelayakan produksi logam tanah jarang di dalam negeri, dengan penilaian menyeluruh mengenai prospek industrialisasinya yang dijadwalkan rampung pada Maret 2028, ujar Kazushige Kikuchi, Manajer Proyek di Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), lembaga yang mengoperasikan kapal Chikyu.

Beijing memberlakukan kontrol ekspor terhadap sejumlah logam tanah jarang berat dan magnet terkait pada April 2025, serta memperketat pembatasan ekspor ke Jepang pada bulan Januari dan dua kali lagi pada bulan berikutnya, dengan sasaran perusahaan-perusahaan konglomerat besar.


Sumber: Japan Times

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.