Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Menjelajahi kota dengan berjalan kaki mungkin sudah menjadi tren di berbagai daerah.
Namun di Cirebon, pengalaman itu dikemas dengan cara yang berbeda.
Bukan sekadar menyusuri jalanan kota, para peserta diajak membedah sejarah, budaya, hingga kisah-kisah yang tersembunyi di balik bangunan-bangunan tua.
Tak heran, banyak peserta mengaku ketagihan dan ingin kembali mengikuti kegiatan serupa di kota lain.
Baca juga: 5 Kuliner Favorit di Kuningan, Sajikan Menu Nusantara, Western hingga Minuman Kopi
Suasana itu terlihat dalam kegiatan The Heritage Hunter yang digelar Gramedia di Kota Cirebon, Jawa Barat, Minggu (26/7/2026).
Sejak pagi, sebanyak 31 peserta memulai perjalanan dari Gramedia Cipto Cirebon, lalu berjalan menuju berbagai titik bersejarah seperti Bolu Sunyaragi, Balai Kota Cirebon, Smiljan Dutchbook, kawasan British American Tobacco (BAT), Vihara Dewi Welas Asih, Gereja Santo Yusuf, Keraton Kasepuhan, hingga Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Pantauan Tribun di lapangan, peserta tampak antusias menyimak setiap penjelasan pemandu.
Di Balai Kota Cirebon misalnya, mereka berkerumun di depan bangunan bergaya Art Deco sambil mendengarkan cerita sejarah yang selama ini jarang diketahui masyarakat.
Di Smiljan Dutchbook, peserta kembali diajak menikmati literasi di tengah rak-rak buku klasik sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan heritage lainnya.
Salah seorang peserta asal Tangerang Selatan, Wahyu Kurniawan (31), mengaku tertarik mengikuti The Heritage Hunter karena menawarkan pengalaman yang berbeda dibanding kegiatan city walk pada umumnya.
"Kalau city walk kan sudah banyak. Tapi ini ngasih pandangan baru. 'Oh, ternyata city walk bisa seseru ini ya.' Enggak cuma jalan kaki, kita diajarin sejarahnya, ada aktivasi-aktivasi kreatif seperti bikin journaling, melukis totebag, sampai nanti bikin zine. Jadi banyak kegiatan yang seru," ujar Wahyu, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, setiap kota yang dikunjungi melalui program tersebut selalu menghadirkan cerita yang berbeda.
Setelah mengikuti kegiatan di Jakarta, Depok dan kini Cirebon, ia menilai masing-masing daerah memiliki karakter sejarah yang unik.
"Yang sekarang juga ngasih sudut pandang yang lain. Ternyata panjang banget sejarah Cirebon, dari tahun 1500-an sampai 1920-an. Jadi setiap kota memang punya ciri khasnya masing-masing," ucapnya.
Wahyu juga mengaku, memperoleh pengetahuan baru saat mengunjungi Balai Kota Cirebon.
Ia baru mengetahui, bahwa bangunan tersebut dahulu memiliki air mancur di bagian dalam yang berfungsi membantu menjaga suhu ruangan tetap sejuk.
Tak hanya itu, ia bahkan mengaku semakin tertarik mengikuti The Heritage Hunter di kota-kota berikutnya.
Baca juga: Mengenal Eco-Zakat BAZNAS Majalengka, Langkah Baru Wujudkan Kesejahteraan dan Kelestarian Alam
"Itu sudah pasti. Katanya bakal ada di Semarang dan Banyuwangi, insyaallah saya pasti ikut. Menurut saya, cara yang dilakukan Gramedia ini bagus banget karena bukan sekadar jual buku, tapi juga meningkatkan literasi lewat pengalaman langsung," jelas dia.
Pengalaman serupa dirasakan peserta asal Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Fahrunnisa (26).
Meski berasal dari Cirebon, ia mengaku masih menemukan banyak fakta sejarah yang sebelumnya belum pernah diketahuinya.
"Bisa lebih kenal sama daerah sendiri. Kalau di sekolah dulu kayaknya enggak terlalu dikasih tahu. Hal baru buat saya itu soal jalur bawah tanah di Gedung Balai Kota yang tembus ke pelabuhan. Saya belum pernah dengar sebelumnya," kata Fahrunissa.
Ia juga baru mengetahui bahwa Cirebon memiliki dua titik yang berkaitan dengan sejarah Proklamasi.
Pengetahuan tersebut didapat langsung saat peserta diajak mengunjungi salah satu lokasi dalam rute perjalanan.
Fahrunnisa menilai, kegiatan seperti ini layak diperluas karena mampu memperkenalkan sejarah daerah dengan cara yang lebih menyenangkan.
"Selain jadi lebih tahu tentang sejarahnya, benefit-nya juga banyak. Kegiatan ini worth it buat diikutin," ujarnya.
Ia berharap, titik kunjungan pada kegiatan berikutnya dapat ditambah agar peserta semakin mengenal sisi lain Kota Cirebon.
Menurut CRM & Strategic Branding Manager Gramedia, Fathan, The Heritage Hunter memang dirancang agar masyarakat menikmati sejarah dengan pendekatan yang lebih dekat dan interaktif.
"Melalui The Heritage Hunter, kami ingin mengajak masyarakat menikmati kota dengan cara yang berbeda, berjalan lebih dekat dengan sejarah, memahami cerita di balik setiap ruang, dan merasakan bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga terus dihidupkan," ucap Fathan.
Ia mengatakan, Cirebon dipilih karena memiliki kekayaan sejarah sebagai salah satu kota pelabuhan tertua di Pulau Jawa, tempat bertemunya berbagai budaya mulai dari Jawa, Sunda, Tionghoa, Arab hingga Eropa.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mengikuti walking tour, tetapi juga mengikuti Fuzzy Wire Keychain Workshop, Step & Snap Challenge, hingga berbagai aktivitas kreatif lainnya yang dipadukan dengan literasi budaya.
Program yang digagas sejak 2024 itu merupakan bagian dari upaya Gramedia memperluas literasi budaya melalui pengalaman belajar yang kontekstual, inklusif dan menyenangkan.
Setelah hadir di Jakarta, Malang, Bandung, Bogor, Solo, Depok, Balikpapan dan Cilegon, Cirebon menjadi kota berikutnya yang disambangi.
Bagi para peserta, pengalaman itu membuktikan bahwa belajar sejarah tidak harus selalu dilakukan di ruang kelas atau melalui buku.
Dengan berjalan kaki menyusuri jejak-jejak masa lalu, mereka justru menemukan cerita-cerita baru yang membuat sejarah terasa lebih hidup sekaligus membangkitkan keinginan untuk terus menjelajahi kota-kota lain di Indonesia.