Laporan Kontributor Tribunjabar.id, M. Rizal Jalaludin
TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Pihak Kasepuhan Cipta Mulya telah mendata ulang jumlah rumah yang ludes terbakar dalam peristiwa kebakaran hebat yang meluluhlantakkan perkampungan di kampung adat tersebut pada Sabtu (25/7/2026).
Diketahui, peristiwa kebakaran di Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ini terjadi sekitar pukul 14.00 WIB kemarin siang.
Ketua Panitia Logistik Bencana Kebakaran Kasepuhan Cipta Mulya, Edik Supriatna, mengatakan, jumlah rumah yang ludes terbakar sebanyak 51 rumah, jumlah itu sudah termasuk imah gede atau rumah Ketua Adat.
Sedangkan leuit atau lumbung padi terdapat 49 unit yang ludes terbakar.
"Jumlah rumah itu ada 51. Ada dua RT-an. Satu RT 27, yang satunya lagi 24. Nah, jumlah lumbung ada 49. Terus ditambah juga rumah Abah, terus balai sosial, terus Ajéng tuh tempat seni, terus posyandu, terus pos ronda. Kurang lebih itu hampir 6 yang bangunan yang umum gitu," ucap Edik kepada Tribunjabar.id, Minggu (26/7/2026).
Edik menjelaskan, untuk leuit atau lumbung padi itu rata-rata menampung sekitar 1 sampai 2 ton gabah padi.
"Rata-rata sekitar 1 ton sampai 1 ton lebih untuk satu leuit. Yang paling besar ada yang 2 ton juga, yang punya Abah (Ketua Adat) mungkin 2 ton lebih yang leuit Si Jimat mah," kata Edik.
Kerugian Ditaksir Rp2,5 Miliar
Bupati Sukabumi, Asep Japar, menyebutkan, taksiran kerugian kasar dari peristiwa itu mencapai sekitar Rp2,5 miliar.
Menurutnya, taksiran itu diperkirakan karena seluruh rumah warga beserta isinya ludes terbakar. Jumlah kerugian itu juga ditaksir karena imah gede dan leuit yang turut ludes.
"Nah taksiran kerugian kan ini ada yang punya TV, ada yang punya peralatan lainnya, diperkirakan 2,5 miliar karena ada imah Gede ludes juga yang punya Ketua Adat. 2,5 M itu hitungan kasar termasuk lumbung padi," ucap Asep Japar.
Menurut Asep Japar, api dengan cepat menghanguskan puluhan rumah warga karena rata-rata rumah terbuat dari bilik bambu dengan atap ijuk. Ditambah angin kencang membuat api cepat menjalar.
"Nah ini semua kan tidak permanen, ini rata-rata dari bambu ya, dari bilik, ini ada sebagian kecil setengah badan, terus ini juga ada Leuit ya lumbung padi, makanya ini kan banyak padi-padi yang terbakar," ujarnya.