Kisah Arifin, Pejuang Muda yang Namanya Diabadikan Menjadi Jalan di Solo
Hanang Yuwono July 26, 2026 04:32 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Sejumlah ruas jalan di Kota Solo, Jawa Tengah, menggunakan nama para pahlawan sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka bagi bangsa.

Masyarakat tentu sudah tidak asing dengan Jalan Slamet Riyadi maupun Jalan Gatot Subroto.

Kedua nama tersebut berasal dari pahlawan nasional yang kiprahnya banyak tercatat dalam berbagai buku sejarah Indonesia.

Baca juga: Asal-usul Nama Desa Juwiran di Juwiring Klaten : Kisah Kyai Ageng Jowero, Pelarian Kerajaan Mataram

Selain nama-nama yang sudah populer itu, terdapat pula Jalan Arifin yang kerap memunculkan rasa penasaran. Meski nama Arifin terdengar familiar, tidak sedikit warga yang belum mengetahui siapa sosok di balik penamaan jalan tersebut.

Di balik Jalan Arifin tersimpan kisah perjuangan yang sarat nilai sejarah.

Ruas jalan ini membentang dari arah selatan ke utara dengan karakteristik yang cukup khas.

Bagian selatannya memiliki badan jalan yang relatif lebar, namun setelah melewati pertigaan SMP Negeri 13 Solo, jalannya menyempit secara signifikan hingga terhubung dengan Jalan Margoyudan.

Walaupun tidak sebesar jalan-jalan utama lainnya di Solo, Jalan Arifin memiliki makna historis yang sangat penting.

Sosok Arifin yang Diabadikan Menjadi Nama Jalan di Solo

Setiap hari banyak warga melintasi Jalan Arifin tanpa mengetahui sosok yang namanya diabadikan di sana.

Arifin merupakan seorang pejuang muda yang gugur saat bertempur melawan tentara Jepang setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada tahun 1945.

Berdasarkan informasi dari surakarta.go.id, kisah perjuangan Arifin berawal dari situasi yang penuh gejolak usai Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu.

Pada 12 Oktober 1945, berlangsung perundingan di Solo antara perwakilan rakyat Indonesia dengan Komandan Kempeitai atau polisi militer Jepang, Kapten Sato.

Delegasi yang terdiri dari Komite Nasional Indonesia, Barisan Rakyat, dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) mendesak agar Jepang segera menyerahkan kekuasaan di Surakarta kepada pihak Indonesia.

Namun, pihak Jepang menolak permintaan tersebut dan bersikeras bahwa proses penyerahan kekuasaan hanya akan dilakukan di Tampir, Boyolali, bukan di Surakarta.

Sikap itu memicu kemarahan para pejuang muda, terutama anggota Barisan Rakyat dan BKR yang sebagian besar merupakan mantan anggota PETA dan Heiho, pasukan lokal yang sebelumnya mendapatkan pelatihan militer dari Jepang.

Baca juga: Kisah R.M Said, Tokoh yang Diabadikan jadi Nama Jalan Penting di Solo, Pendiri Pura Mangkunegaran

Penyerbuan ke Markas Kempeitai

Merasa tuntutan mereka diabaikan, para pejuang muda akhirnya mengambil tindakan.

Pada malam hari, mereka melancarkan serangan terhadap markas Kempeitai di Surakarta.

Pertempuran sengit berlangsung sepanjang malam dan berhasil mengejutkan pasukan Jepang yang tidak siap menghadapi serangan tersebut. Dalam pertempuran itulah Arifin gugur sebagai syuhada perjuangan.

Meski kehilangan nyawanya, pengorbanan Arifin dan para pejuang lainnya membuahkan hasil.

Pada 13 Oktober 1945, tentara Jepang akhirnya menyerah.

Pasukan Jepang kemudian dilucuti, dipenjarakan, dan selanjutnya dipindahkan ke Tampir guna menghindari amarah masyarakat Solo.

Peristiwa tersebut menjadi penanda berakhirnya kekuasaan Jepang di Kota Solo sekaligus menjadi salah satu tonggak penting dalam perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan sepenuhnya.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa, keberanian, dan pengorbanannya di medan perang, nama Arifin kemudian diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Kota Solo.

Jalan Arifin tidak hanya berfungsi sebagai akses transportasi, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap semangat perjuangan seorang pemuda yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.