Madu Pelawan Langka Khas Bangka Hanya Bisa Dipanen Dua Kali Setahun, Jadi Produk Premium
Faiz Fadhilah July 26, 2026 04:42 PM

- Di antara beragam jenis madu yang dihasilkan dari hutan Bangka Belitung, madu pelawan menjadi primadona.

Madu langka dengan cita rasa pahit yang khas ini tidak hanya diminati masyarakat lokal, tetapi juga dikenal luas hingga berbagai daerah di Indonesia. Sementara itu, madu trigona dinilai memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional.

Juragan Madu Bangka menjelaskan madu pelawan dipasarkan sebagai produk premium khas Bangka. Pemilik usaha tersebut, Widi Prayogo, mengatakan madu pelawan merupakan identitas daerah yang memiliki keunikan tersendiri.

“Madu pelawan ini sangat terkenal. Kalau orang bicara madu pelawan, orang langsung ingat Bangka,” kata Widi kepada Bangkapos.com, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, madu pelawan dihasilkan dari nektar bunga pohon pelawan, tanaman endemik yang banyak tumbuh di Pulau Bangka. Madu ini dihasilkan oleh lebah liar yang bersarang di hutan.

Ciri khas utama madu pelawan terletak pada rasanya. Saat pertama kali dikonsumsi, madu ini memberikan sensasi pahit yang cukup kuat.

Namun, setelah diminum bersama air putih, rasa pahit itu akan hilang dan berubah menjadi sensasi manis yang lembut di tenggorokan.

“Rasanya pahit di awal, tapi setelah minum air putih pahitnya hilang dan terasa manis. Itu yang membuat madu pelawan berbeda dengan madu lainnya,” ujar Widi.

Selain rasanya yang unik, madu pelawan juga tergolong sangat langka. Pohon pelawan hanya berbunga sekitar dua kali dalam setahun, dengan masa mekar yang relatif singkat.

“Bunganya hanya bertahan sekitar dua minggu. Kalau cuaca tidak mendukung, bunga bisa gugur sebelum sempat diambil nektarnya oleh lebah,” katanya.

Karena faktor tersebut, produksi madu pelawan tidak selalu tersedia dalam jumlah besar. Bahkan dalam beberapa musim, hasil panen bisa sangat terbatas.

“Dalam setahun, panen belum tentu melimpah. Semua tergantung kondisi cuaca dan keberhasilan lebah mengambil nektar,” jelasnya.

Kelangkaan itu membuat harga madu pelawan lebih tinggi dibandingkan madu biasa. Di Juragan Madu Bangka, produk madu liar dijual mulai Rp84 ribu untuk kemasan terkecil, sementara madu pelawan umumnya dibanderol lebih tinggi karena stoknya terbatas dan kualitasnya sangat eksklusif.

“Madu pelawan termasuk produk premium karena jumlahnya sedikit dan permintaannya cukup tinggi. Harganya rata-rata mulai Rp600 ribu,” kata Widi.

Permintaan madu pelawan datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Balikpapan, Sulawesi, hingga sejumlah kota lain di Indonesia. Banyak pelanggan yang melakukan pembelian secara rutin.

“Ada yang pesan setiap bulan, ada juga yang dua sampai tiga kali setahun. Pelanggan paling jauh dari Balikpapan, dan banyak pelanggan tetap di Jabodetabek,” katanya.

Produk madu pelawan, madu hutan, dan madu kelulut tidak hanya dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga pernah dikirim ke Malaysia serta dijajaki untuk memasuki pasar Turki.

Pemilik Juragan Madu Bangka, Widi Prayogo, mengatakan seluruh produk madunya diproses dengan standar kualitas yang telah memenuhi persyaratan ekspor.

Untuk menjaga kualitas, seluruh madu diproses menggunakan teknologi dehumidifier agar kadar air turun menjadi 17–18 persen tanpa melalui proses pemanasan. Dengan metode tersebut, nutrisi alami madu tetap terjaga dan memenuhi standar kualitas ekspor.

“Produk kami sudah memenuhi standar ekspor. Kadar airnya kami turunkan hingga 17–18 persen menggunakan dehumidifier tanpa dipanaskan sehingga kualitas dan nutrisinya tetap terjaga,” kata Widi.

Ia menjelaskan kadar air madu yang baru dipanen di Bangka Belitung umumnya masih cukup tinggi, yakni sekitar 28–29 persen. Karena itu, madu harus melalui proses pengurangan kadar air agar memenuhi standar kualitas internasional.

“Dengan alat dehumidifier, kadar air kami turunkan hingga 17–18 persen. Untuk pasar Asia, standar kadar air maksimal 19 persen,” ujarnya.

Meski belum mengekspor secara langsung, Juragan Madu Bangka pernah mendukung pengiriman madu kelulut ke Malaysia selama hampir dua tahun.(*)

Program: Local Experience
Editor: Faiz Fadhilah

#MaduPelawan #MaduLangka #BangkaBelitung #MaduBangka #MaduHutan #JuraganMaduBangka #UMKM #ProdukLokal #MaduIndonesia #EkonomiKreatif

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.