Negara Paling Jujur-Tak Jujur di Dunia Menurut Sains, Indonesia Nomor Berapa?
GH News July 26, 2026 05:09 PM
Jakarta -

Para peneliti coba memetakan secara global negara-negara paling jujur dan tidak jujur di dunia. Menggunakan metode ilmiah, bagaimana hasilnya?

Dilansir dari BBC Science Focus, Sabtu (25/7/2026) dikutip dan ditulis Minggu (26/7/2026) para peneliti memakai metode 'dompet jatuh'.

Para peneliti menyerahkan 17.003 dompet yang disebut 'jatuh' kepada orang-orang yang bertanggung jawab atas bisnis dan lembaga, di 355 kota dan 40 negara.

Kemudian, mereka mencatat jumlah dompet yang benar-benar dikembalikan kepada pemiliknya yang sah. Inilah yang mereka temukan.

Negara Mana Jujur dan Tidak?

Penduduk Swiss, Norwegia, dan Belanda dinyatakan sebagai 'yang paling jujur'.

Sebaliknya, negara-negara yang dianggap 'paling tidak jujur' adalah Peru, Maroko, dan China, dengan Tiongkok hanya mengembalikan 7 persen dompet kosong dan Peru hanya 13 persen dompet berisi uang.

AS dan Inggris berada kira-kira di tengah daftar, menempati peringkat ke-21 dan ke-22 sebagai negara paling jujur, dengan tingkat pengembalian dompet masing-masing sebesar 52 persen dan 50 persen.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia ada di peringkat negara paling tidak jujur nomor 9, di atas Ghana.

Secara keseluruhan, peringkat teratas dalam daftar kejujuran didominasi oleh negara-negara yang sangat kaya, sedangkan negara-negara miskin cenderung berada di bagian bawah daftar. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk miskin mungkin, secara teori, memiliki motif ekonomi yang lebih besar untuk mencuri.

10 Negara Paling Jujur

1. Swiss2. Norwegia3. Belanda4. Denmark5. Swedia6. Polandia7. Republik Ceko8. Selandia Baru9. Jerman10. Perancis

10 Negara Paling Tidak Jujur

1. Turki2. China3. Maroko4. Peru5. Kazakhstan6. Kenya7. Malaysia8. Uni Emirat Arab9. Indonesia10. Ghana

Riset yang dilakukan Alain Cohn dkk dari Universitas Michigan AS bersama rekannya di Universitas Zurich ini memang sudah diterbitkan di jurnal Science dengan judul Civic Honesty Around The Globe pada 20 Juni 2019 lalu.

Hasil riset 'dompet jatuh' ini dapat memberikan wawasan tentang perilaku masyarakat. Salah satu pengamatan yang mengejutkan adalah bahwa, di 38 negara, dompet yang berisi uang dalam jumlah lebih besar ($94,25) lebih sering dikembalikan (72 persen), daripada dompet yang berisi uang dalam jumlah lebih kecil ($13,46), dengan persentase 51 persen.

Di semua negara kecuali Meksiko dan Peru, dompet yang berisi sedikit uang lebih mungkin dikembalikan daripada dompet kosong.

Hasil Masih Diperdebatkan

Meski demikian hasilnya masih menjadi perdebatan di antara para ilmuwan. Meskipun daftar-daftar tersebut tampak pasti, masih ada keraguan dalam menjelaskan hasilnya.

"Kita mungkin belum memiliki jawaban yang jelas," kata Dr Jareef Martuza, yang meneliti kejujuran sebagai asisten profesor di Departemen Strategi dan Manajemen Sekolah Ekonomi Norwegia.

Studi tentang dompet menemukan bahwa beberapa negara memiliki tingkat pengembalian yang lebih tinggi daripada negara lain, menurut Martuza, hal itu dapat disebabkan beberapa faktor. Faktor-faktor itu seperti kepentingan pribadi pengambil keputusan, norma masyarakat terkait pengembalian barang yang hilang, dan mungkin perbedaan kontekstual lainnya.

Dan, dalam penelitian sebelumnya tentang topik yang sama, para peneliti sampai pada kesimpulan yang berbeda. Misalnya, Dr. David Hugh-Jones dari Universitas East Anglia (UEA) menemukan variasi yang signifikan dalam kejujuran di antara sejumlah besar negara, tergantung pada bagaimana kejujuran itu diukur.

Sebagai contoh, ketika peserta diminta untuk melempar koin dan melaporkan hasilnya - dengan memberikan hadiah uang untuk sisi 'kepala' - tingkat kejujuran berkisar dari 3,4 persen di Inggris hingga 70 persen di China.

Namun ketika diminta untuk menyelesaikan tes daring - di mana kecurangan mudah dilakukan dan jawaban yang benar diberi hadiah uang - responden di Jepang adalah yang paling jujur, diikuti oleh Inggris, sementara responden di Turki adalah yang paling tidak jujur.

Tergantung pada pertanyaan 'kejujuran' mana yang diajukan para ilmuwan, mereka tampaknya mendapatkan jawaban yang berbeda.

Nograhany Widhi Koesumawardani
Jurnalis detikcom. Masuk dunia jurnalistik sejak SMA, bergabung dengan detikcom di 2006 usai lulus dari Universitas Brawijaya. Aktif meliput isu nasional, kini menangani topik seputar pendidikan, sains dan semacamnya.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.