TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Menikmati secangkir kopi kini tak selalu harus duduk manis di kafe dengan ruangan berpendingin dan dekorasi yang Instagramable.
Di pinggir Jalan Mandurerjo, dekat Kantor KPU Kabupaten Pekalongan, tren ngopi kekinian justru hadir dengan konsep yang lebih sederhana dan fleksibel.
Cukup datang ke lapak kopi street, pesan menu favorit, lalu menikmati kopi dengan suasana jalanan yang apa adanya.
Baca juga: Bupati Blora Ingin Tempuran Waduk Fest 2026 Jadi Destinasi Wisata Internasional
Baca juga: BREAKING NEWS: Tribun VIP Kejurnas Drift Speed Fest di GOR Satria Purwokerto Ambruk
Konsep itulah yang dijalankan Havied Muhammad, warga Kajen, yang mulai merintis usaha kopi street sejak Agustus 2025. Setiap hari, ia menawarkan berbagai pilihan kopi kepada masyarakat yang melintas maupun pelanggan yang sengaja datang untuk menikmati secangkir kopi.
Bagi Havied, memilih konsep street coffee bukan tanpa alasan. Modal yang relatif terjangkau menjadi salah satu pertimbangan utama. Selain itu, konsep kopi jalanan memberikan keleluasaan untuk berpindah-pindah lokasi sesuai dengan kondisi dan peluang pasar.
"Street coffee lebih fleksibel, karena bisa berpindah-pindah lokasi dibandingkan kedai kopi di dalam ruangan," ujar Havied kepada Tribunjateng.com, Minggu (26/7/2026).
Meski masih dalam tahap mengembangkan usaha, Havied saat ini rata-rata mampu menjual sekitar 25 gelas kopi setiap hari. Angka tersebut memang masih di bawah target yang diharapkan.
Namun, ia tetap optimistis karena kebiasaan masyarakat menikmati kopi terus berkembang dan tidak lagi terbatas pada kafe-kafe modern.
Target konsumennya pun menyasar semua kalangan, terutama para pekerja yang membutuhkan minuman praktis untuk menemani aktivitas sehari-hari.
"Dari sejumlah menu yang ditawarkan, cafe latte dan aren latte menjadi dua varian yang paling banyak diminati pelanggan," imbuhnya.
Untuk menikmati kopi tersebut, pelanggan cukup merogoh kocek mulai Rp 10 ribu hingga Rp 17 ribu. Harga yang relatif terjangkau ini menjadi salah satu daya tarik kopi street di tengah semakin beragamnya pilihan tempat ngopi.
Menurut Havied, tren ngopi di pinggir jalan saat ini semakin diminati. Selain praktis dan mudah dijangkau, harga kopi street relatif lebih bersahabat dibandingkan kafe. Meski begitu, ia memastikan kualitas rasa tetap menjadi perhatian.
"Kopi street lebih mudah dan praktis, harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan kafe, tetapi dari segi rasa tidak kalah dengan kafe-kafe kekinian," katanya.
Bagi pelanggan, konsep street coffee juga menawarkan pengalaman yang berbeda.
Tidak perlu suasana formal, tidak harus berlama-lama di dalam ruangan, dan bisa menikmati kopi sembari melihat aktivitas masyarakat di sekitar. Sederhana, tetapi tetap memberikan ruang untuk bersantai.
Namun, berjualan di pinggir jalan juga memiliki tantangan. Cuaca menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi aktivitas usaha. Ketika musim hujan tiba, mobilitas penjual menjadi terbatas. Kondisi tersebut turut berdampak, pada jumlah pelanggan dan daya beli masyarakat.
"Faktor cuaca sangat berpengaruh, terutama saat musim hujan. Selain mobilitas kita terhambat, daya beli konsumen juga menurun," ungkap Havied.
Ke depan, Havied berharap usaha kopi street semakin berkembang dan mampu menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat di Kabupaten Pekalongan.
Ia ingin, terus meningkatkan kualitas rasa dengan harga yang semakin kompetitif dan tetap terjangkau bagi konsumen dari berbagai kalangan.
Ia juga berharap pemerintah daerah dapat menyediakan lokasi khusus bagi pelaku usaha kopi street. Menurutnya, keberadaan lokasi yang tertata akan memberikan ruang yang lebih nyaman bagi pelaku usaha sekaligus masyarakat yang ingin menikmati kopi dengan suasana santai. (Dro)