Cara Desa Pekunden Banyumas Optimalkan Potensi Wisata Meski Tak Punya Daya Tarik Alam
rival al manaf July 26, 2026 05:11 PM

TRIBUNJATENG.COM,PURWOKERTO - Sudah sejak lima tahun terakhir, Desa Pekunden menjadi salah satu desa wisata yang cukup populer di Kabupaten Banyumas. 

Tak hanya didatangi oleh pelajar dan warga lokal, Desa Wisata Pekunden menjadi jujugan pengunjung dari luar kota.

Desa Pekunden yang berlokasi dekat Kota Lama Banyumas ini tidak seperti desa wisata pada umumnya, menawarkan daya tarik alam.

Baca juga: Jalan Gombel Lama Semarang Segera Dibuka, Proyek Perbaikan Sudah Capai 50 Persen

Baca juga: Enam Desa di Kabupaten Semarang Kekeringan, Air Bersih Dikirim Tiap Tiga Hari Sekali

Tetapi mereka memanfaatkan potensi UMKM yang ada menjadi wisata edukadi di Desa Pekunden. 

Kini, Desa Wisata Pekunden sejak tiga tahun terakhir bahkan berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).

Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pekunden, Winarko mengatakan, ide dan gagasan untuk merintis desa wisata sudah ada sebelum pandemi Covid-19. 

Saat itu tertunda karena harus fokus dengan penanganan pandemi Covid-19. 

Kemudian dilanjutkan kembali secara intens di tahun 2020- 2021.

"Awal tahun 2021, kami fokus menganggarkan kegiatan-kegiatan seperti pelatihan. Hingga di akhir tahun 2021, kami resmi dikukuhkan oleh Bupati Banyumas sebelumnya, bapak Achmad Husein," katanya kepada tribunbanyumas.com, Kamis (23/7/2026).

Angkat Potensi UMKM

Desa Pekunden tidak memiliki daya tarik alam, seperti perbukitan, sungai, air terjun, maupun potensi alam lainnya.

Lokasinya yang berada di dekat Kota Lama Banyumas, justru membuat wilayahnya cukup padat pemukiman warga.

Tetapi ada potensi lain yaitu aktivitas usaha warga yang sudah ada sebelum berdiri Desa Wisata Pekunden. 

"Pekunden tidak punya daya tarik alam, tapi kebiasaan kita sehari-hari. 

Jadi, UMKM yang ada diajak gabung, lalu dimanajemen menjadi paket wisata edukasi," kata Winarko yang juga Kasi Kesejahteraan Pemerintah Desa Pekunden. 

Winarko menjelaskan, semula hanya ada lima daya tarik, yaitu wisata edukasi mengunjungi Kampung Nopia Mino, Oemah Gamelan, Oemah Batik, Oemah Manggleng, dan kebun buah naga. 

Seiring berjalannya waktu menjadi 10 daya tarik, tambahannya yaitu Oemah Golang-galing, Oemah Roti Qim, Kampung Ekraf, Kampung Tani, dan Oemah Koeas.

"Kami konsepnya menjual paket wisata dengan mengunjungi home industri UMKM yang ada, seperti melihat proses pembuatan kuliner nopia mino atau pembuatan gamelan," jelasnya. 

Tersedia Homestay

Winarko mengatakan, mereka yang akan berkunjung biasanya akan menghubungi sekretariat untuk memilih paket edukasi wisata dan jumlah pengunjung. 

Dia mencontohkan, ada paket sinau satu sampai sembilan yang menawarkan tiga daya tarik.

Kemudian ada juga paket live in dengan konsep menginap di homestay milik warga, nanti kunjungan dibagi ke dalam beberapa hari.

"Untuk biaya dikenakan per orang, paling murah Rp 50 ribu per orang. 

Untuk paket live ini, tergantung menginapnya berapa hari. Pernah ada peserta paket live ini sampai 350 orang," ungkapnya. 

Winarko menjelaskan, dampak ekonomi tidak hanya diperoleh oleh UMKM, tetapi juga warga setempat. 

Paket live in yang harus menginap menjadikan potensi ekonomi baru dengan jenis usaha homestay. 

Saat ini, tersedia penginapan 80 rumah dengan jumlah 150 kamar.

"Angka kunjungan tiap bulannya mencapai ribuan. Bahkan di tahun 2022- 2024, dalam setahun mencapai 12 ribu kunjungan," ujarnya. 

Penghargaan Nasional 

Winarko mengatakan, sejumlah penghargaan telah didapatkan oleh Desa Wisata Pekunden. 

Antara lain juara satu Anugerah Gelar Desa Wisata Jawa Tengah di tahun 2022 dan juara dua Anugerah Desa Wisata Indonesia di tahun 2023.

Dari penghargaan nasional tersebut, Desa Wisata Pekunden kemudian dilirik oleh Astra sebagai Kampung Berseri Astra.

Desa Wisata Pekunden mendapatkan pendampingan dari Astra selama lima tahun.

"Pendampungan dari Astra, ada support anggaran tiap tahunnya Rp 20 juta- Rp 25 juta. 

Untuk kegiatan pengembangan dengan syarat empat pilar, yaitu kesehatan, kewirausahaan, lingkungan dan pendidikan," jelasnya.

Menurut Winarko, pemasaran produk UMKM juga sudah terpasarkan secara nasional, seperti nopia mino. 

Ada juga produk yang terpasarkan hingga luar negeri ke Australia dan Arab Saudi, seperti manggleng. 

"Alhamdulillah, Desa Wisata Pekunden saat ini juga memberikan pemasukan untuk PADes, tiap tahun sekira Rp 3 juta- Rp 5 juta," ungkapnya. (fba)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.