Dari Tradisi hingga Eksperimental, IDEF 2026 Jadi Rumah Semua Musik
Yoseph Hary W July 26, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - International Djogja Earthsounds Festival (IDEF) 2026 kembali digelar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 21 hingga 25 Juli 2026. Memasuki penyelenggaraan tahun keduanya, festival ini menghadirkan 40 penampil dari lima negara, yakni Indonesia, Iran, Belanda, Austria, dan Australia.

Mengusung tema 'Sacred Sound, Shared Earth', IDEF 2026 tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan musik, tetapi juga ruang bertemunya beragam budaya, pengetahuan, hingga jejaring antar pelaku seni dari berbagai belahan dunia.

Selain konser musik, festival ini juga menghadirkan konferensi internasional, workshop, serta pasar rakyat yang terbuka bagi masyarakat.

Semua jenis musik

Direktur IDEF sekaligus Ketua Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta, Citra Aryandari, mengatakan IDEF lahir dari keinginan menghadirkan festival musik yang tidak membatasi diri pada genre tertentu.

Menurutnya, istilah "earthsounds" dipilih sebagai simbol bahwa semua jenis musik memiliki ruang yang sama untuk tampil dan diapresiasi.

"Jadi, kami mencoba tidak mengkotak-kotakkan musik. Mau jenis apa saja boleh tampil di acara ini," kata Citra.

Konsep tersebut membuat IDEF menghadirkan ragam penampilan, mulai dari musik tradisi, jazz, musik eksperimental, hingga berbagai bentuk pertunjukan lintas budaya dalam satu panggung.

Untuk edisi tahun ini, panitia menerima lebih dari 80 proposal penampilan melalui mekanisme call for performance. Setelah melalui proses kurasi, dipilih sekitar 40 penampil yang berasal dari Indonesia maupun mancanegara.

"Tahun ini kami memilih sekitar 40 penampil yang beragam dari luar negeri maupun Indonesia, juga beberapa perwakilan universitas. Kami memilih berbagai genre yang memiliki daya tarik sehingga festival ini semakin dikenal," ujarnya.

Workshop tembang Nusantara

Selain pertunjukan musik, IDEF juga menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung. Pada rangkaian pra acara, digelar workshop tembang Nusantara bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Festival juga menghadirkan diskusi mengenai musik suporter bersama Brigata Curva Sud (BCS) PSS Sleman, serta konferensi internasional yang mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai negara.

Citra mengungkapkan, antusiasme peserta internasional meningkat dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Bahkan, sejumlah peserta dari Iran, Belanda, Austria, hingga Australia mendaftar secara mandiri setelah mengetahui informasi festival melalui media sosial.

Melihat perkembangan tersebut, pihaknya mulai menyiapkan arah baru bagi penyelenggaraan IDEF di masa mendatang.

"Nanti kami ingin menjadikan ini seperti marketplace musik. Kami ingin mengundang promotor dan produser sehingga para musisi memiliki tempat untuk melakukan showcase dan membuka peluang kolaborasi maupun kerja sama," katanya.

Ia menilai selama ini banyak musisi berkualitas yang belum memiliki wadah untuk memperkenalkan karya mereka kepada pasar yang lebih luas.

"Selama festival berlangsung, kami juga belajar banyak. Ketika berbagai genre dipertemukan dalam satu panggung, ternyata muncul peluang kolaborasi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan," ujarnya.

Sementara itu, Rektor ISI Yogyakarta Irwandi mengatakan IDEF menjadi bagian dari upaya kampus memperluas jejaring internasional sekaligus mendekatkan perguruan tinggi kepada masyarakat.

Membangun relasi

Menurutnya, kehadiran akademisi dan musisi dari berbagai negara membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk membangun relasi secara langsung dengan para pakar dunia.

"ISI menggunakan kegiatan ini untuk semakin memperluas jaringan global. Harapannya mahasiswa bisa melakukan people-to-people contact dengan pakar-pakar dari luar negeri," kata Irwandi.

Tidak hanya itu, penyelenggaraan pasar rakyat yang menyertai festival juga menjadi cara ISI membuka ruang interaksi yang lebih luas dengan masyarakat.

"Justru dengan event seperti ini ada pasar rakyat, sehingga masyarakat bisa semakin akrab dengan ISI melalui berbagai kegiatan yang kami selenggarakan," ujarnya.

Ke depan, ISI Yogyakarta berharap IDEF tidak berhenti sebagai festival pertunjukan, melainkan menjadi ruang yang mampu mempertemukan musisi dengan berbagai pemangku kepentingan di industri musik.

"Kami berharap para penampil nantinya bisa bertemu promotor maupun produser sehingga karya-karya mereka tidak hanya diapresiasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan berpeluang tampil di tempat lain," katanya.(nto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.