SURYA.CO.ID SURABAYA - GALAXY Property resmi meluncurkan Glyph International Realty, sister brand yang berfokus pada layanan konsultasi dan investasi properti internasional. Peluncuran yang digelar di Kayanna Resto, Sabtu (25/7/2026) malam, menjadi bagian dari strategi perusahaan menghadirkan ekosistem investasi global yang lebih komprehensif bagi masyarakat Indonesia.
Co-Founder Glyph International Realty, Kennard Nugraha, mengatakan kehadiran Glyph merupakan respons terhadap perubahan perilaku investor Indonesia yang kini semakin berorientasi pada investasi global.
"Dalam lima hingga sepuluh tahun kedepan, kami meyakini strategi investasi tidak lagi berbicara tentang memilih antara pasar domestik atau internasional. Melainkan bagaimana membangun portofolio yang seimbang di keduanya," kata Kennard.
Menurutnya, properti di Indonesia tetap menjadi fondasi investasi karena ditopang fundamental ekonomi yang kuat. Sementara itu, properti internasional menjadi instrumen diversifikasi untuk mengelola risiko sekaligus menangkap peluang pertumbuhan global.
"Berbekal pengalaman lebih dari dua dekade di industri properti, GALAXY Property menghadirkan Glyph sebagai perluasan layanan untuk memenuhi kebutuhan investasi masyarakat yang terus berkembang," jelas Kennard.
Baca juga: MSIE Target Pertumbuhan Kinerja 8 Persen Lewat Ekspansi Properti di Bali
Glyph tidak hanya membuka akses ke berbagai proyek properti di luar negeri, tetapi juga mengusung konsep cross-border real estate ecosystem yang menghubungkan investor Indonesia dengan peluang investasi global melalui pendekatan konsultatif.
"Layanan yang diberikan mencakup penyusunan strategi investasi, pemilihan negara dan proyek sesuai profil risiko, pendampingan legal dan administrasi, hingga layanan purna jual sehingga investor memperoleh pengalaman investasi yang lebih aman, terarah, dan berkelanjutan," ungkap Kennard.
Kennard menegaskan sejak awal Glyph tidak dibangun hanya sebagai agen pemasaran properti luar negeri. Perusahaan memosisikan diri sebagai kurator sekaligus mitra strategis yang membantu masyarakat Indonesia mengambil keputusan investasi lintas negara.
"Kami tidak ingin sekadar menjual properti luar negeri. Glyph hadir sebagai kurator yang sangat selektif. Kami tidak asal memasarkan produk, setiap proyek yang kami bawa wajib lolos penyaringan ketat, mulai dari kepastian legalitas, rekam jejak pengembang, hingga prospek imbal hasilnya. Bagi kami, fokus utamanya bukan seberapa banyak properti yang terjual, melainkan seberapa aman dan berprospek aset tersebut bagi investor," beber Kennard.
Baca juga: Galaxy Property Kinerja Positif Awal Tahun 2026 Sinyal Properti Bergerak Membaik
Didukung pengalaman perusahaan sejak 2002, Glyph menerapkan proses kurasi berbasis data melalui jaringan kemitraan dengan pengembang, konsultan, firma hukum, dan profesional properti di lebih dari 15 negara.
Melalui pendekatan tersebut, investor memperoleh akses terhadap aset yang telah melalui proses validasi dari sisi keamanan hukum, potensi kenaikan nilai aset (capital gain), hingga peluang pendapatan sewa (rental yield).
Saat ini, Glyph menawarkan berbagai pilihan investasi properti di Australia, Jepang, Inggris, Uni Emirat Arab (Dubai), Malaysia, serta sejumlah negara strategis lainnya.
Kennard menambahkan setiap negara memiliki karakteristik pasar yang berbeda sehingga investor dapat memilih peluang investasi sesuai tujuan keuangan dan profil risikonya.
"Selain membuka akses masyarakat Indonesia ke pasar properti global, Glyph juga berkomitmen membangun konektivitas investasi dua arah dengan memperkenalkan potensi pasar properti Indonesia kepada investor internasional melalui jaringan kemitraan yang kami miliki," terang Kennard.
Melalui Glyph International Realty, GALAXY Property ingin memperkuat konektivitas investasi antara Indonesia dan pasar properti global sekaligus menghadirkan layanan konsultasi yang membantu masyarakat mengambil keputusan investasi lintas negara secara lebih terarah.
Kennard mengungkapkan, berdasarkan World Economic Outlook April 2026, Dana Moneter Internasional (IMF) menilai prospek ekonomi global masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan, fragmentasi geopolitik, serta risiko terhadap stabilitas pasar keuangan.
"Kondisi tersebut mendorong investor semakin selektif dalam mengelola portofolionya melalui penyebaran aset ke berbagai negara," imbuh Kennard.
Di sisi lain, Indonesia dinilai memiliki prospek yang menjanjikan. Berdasarkan The Wealth Report 2026 dari Knight Frank, Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan pertumbuhan Ultra High Net Worth Individuals (UHNWI) tercepat di dunia dalam lima tahun mendatang.
Jumlah individu dengan kekayaan di atas US$30 juta diperkirakan meningkat sekitar 82 persen, dari 3.833 orang pada 2026 menjadi 6.966 orang pada 2031.
"Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya potensi kebutuhan masyarakat terhadap strategi investasi lintas negara yang mampu menjaga keseimbangan portofolio sekaligus menangkap peluang pertumbuhan global," papar Kennard.